Pengidap hipertensi sebaiknya rajin pantau tekanan darah saat pandemi

Pengidap hipertensi sebaiknya rajin pantau tekanan darah saat pandemi

Alat pengukur tekanan darah otomatis (HO/Omron)

Pengukuran tekanan darah di rumah memprediksi kerusakan organ lebih baik daripada pengukuran tekanan darah klinik
Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Indonesian Society of Hypertension) menekankan hipertensi adalah salah satu penyakit bawaan (komorbid) yang berbahaya pada pasien COVID-19 dan merekomendasikan orang-orang untuk memonitor tekanan darah mereka lebih sering selama pandemi.

“Panduan dari American Heart Association (AHA) menekankan bahwa penderita hipertensi akan menghadapi risiko komplikasi yang lebih parah jika mereka terinfeksi virus COVID-19,” ucap dokter spesialis penyakit dalam Tunggul Situmorang, Ketua Umum Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dalam OMRON & InaSH Virtual Media Briefing, Rabu.

Tunggul menganjurkan agar orang-orang lebih memperhatikan risiko hipertensi dengan melakukan pengecekan tekanan darah di rumah secara lebih teratur.

Baca juga: Agar jantung penyandang diabetes & hipertensi sehat selama pandemi

Kementerian Kesehatan mengungkapkan 13,3 persen pasien COVID-19 dengan penyakit bawaan atau komorbid hipertensi atau tekanan darah tinggi meninggal dunia.

Penyakit hipertensi menjadi faktor risiko paling tinggi menyebabkan pasien COVID-19 meninggal dunia diikuti oleh penyakit komorbid lainnya seperti diabetes, jantung koroner, dan gagal ginjal.

Dari 1.641 orang pasien COVID-19, sebagian besar berpenyakit bawaan hipertensi dengan persentase 50,8 persen.

Tunggul mengatakan, banyak pengidap hipertensi yang tidak mengalami gejala apa pun sehingga merasa dirinya dalam kondisi sehat.

"Oleh karena itu, harus sering mengukur tekanan darah," kata dia.

Baca juga: Cara mengukur tekanan darah yang benar

Dokter spesialis Neurologi Yuda Turana menambahkan, rutin mengukur tekanan darah di rumah bermanfaat untuk menghindari stroke dan serangan jantung.

"Pengukuran tekanan darah di rumah memprediksi kerusakan organ lebih baik daripada pengukuran tekanan darah klinik," kata Yuda, Anggota Dewan Pembina dan Badan Pengawas Perhimpunan Hipertensi Indonesia.

Dia mengatakan, pasien yang memantau tekanan darah di rumah punya kecenderungan untuk melakukan pengobatan secara teratur. Kepatuhan ini penting, sebab tanpa ada kepatuhan, obat terbaik pun takkan ada hasilnya.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan sebelum mengukur tekanan darah, di antaranya adalah tidak merokok, berolahraga dan mengonsumsi kafein minimal 30 menit sebelumnya. Sebaiknya jangan makan sebelum mengecek tekanan darah serta kosongkan dulu kantong kemih.

Baca juga: Tekanan darah pagi hari tinggi, normalkah?

Ketika mengukur tekanan darah di rumah, Yuda menyarankan agar mengukur lebih dari satu kali, kemudian mencatat semua hasilnya.

"Setidaknya dua atau tiga kali, jarak antarpengukuran kurang lebih satu menit," ujar dia.

Pencatatan harus dilakukan rutin pada pagi hari sebelum pengobatan, lalu malam hari sebelum tidur.

Yuda menjelaskan, walau pengukuran tekanan darah di klinik tetap menjadi landasan manajemen hipertensi, mengukur sendiri di rumah juga tambahan informasi penting.

"Selain meningkatkan kontrol hipertensi, cek tekanan darah di rumah lebih unggul daripada cek tekanan darah di klinik dalam memprediksi kejadian penyakit kardiovaskuler di masa depan," papar Yuda.

Baca juga: Kemenkes sebut 13,3 persen pasien COVID-19 dengan hipertensi meninggal

Baca juga: Kemenkes: Ada kecenderungan hipertensi terjadi pada usia muda

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Anjuran bagi pasien penyakit tidak menular di masa pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar