Jakarta (ANTARA/JACX) - Facebook, pada Selasa (13/10),  telah merilis kebijakan global larangan iklan yang akan membuat orang enggan mendapatkan vaksin COVID-19.

Kebijakan itu disampaikan Kepala Kesehatan Facebook Kang-Xing Jin dan Direktur Manajemen Produk Facebook Rob Leathern lewat pengumuman Facebook berjudul "Supporting Public Health Expert's Vaccines Efforts".

Facebook mengumumkan beberapa langkah untuk mendukung upaya vaksinasi, yaitu dengan meluncurkan kampanye informasi vaksin COVID-19 baru di platform mereka, termasuk fitur produk baru yang menyediakan konten tambahan terkait vaksin.

Facebook akan membantu mengarahkan penggunanya untuk mengakses informasi umum tetang vaksin dan cara mendapatkannya, termasuk lokasi terdekat untuk mendapatkan vaksin.

Kemudian, media sosial besutan Mark Zuckerberg itu juga akan memasukkan pengingat vaksin flu yang dapat dibagikan di News Feed dan di dalam "Pusat Informasi COVID-19".

Kampanye terkait vaksin COVID-19 memang akan dimulai di Amerika Serikat. Tapi, Facebook akan mengembangkannya ke negara lain, serta menambah fitur baru dalam beberapa pekan mendatang.

Mengenai kebijakan global larangan iklan kontra vaksin, Facebook menyebut mereka, "tidak ingin iklan itu ada di platform kami".

Facebook juga meralang iklan dengan informasi salah yang dapat membahayakan upaya kesehatan masayarakat. Facebook sudah tidak mengizinkan iklan dengan muatan hoaks vaksin yang telah diidentifikasi secara publik oleh organisasi kesehatan global seperti WHO dan Pusat Pengendalian Penyakit AS.  

Perusahaan yang bermarkas di Menlo Park California AS itu juga akan bekerja sama dengan organisasi kesehatan global dalam kampanye pendidikan vaksin serta bekerja sama dengan jaringan keamanan vaksin WHO

Sebagaimana Facebook, YouTube, pada Rabu (14/10), juga mengumumkan akan menghapus klaim menyesatkan tentang vaksin virus corona.

"Vaksin COVID-19 mungkin ada dalam waktu dekat. Oleh karena itu, kami memastikan ada kebijakan yang tepat untuk dapat menghapus informasi yang salah terkait vaksin COVID-19," kata juru bicara YouTube, Farshad Shadloo dikutip dari The Verge, Kamis.

Namun, penghapusan informasi itu tidak berlaku untuk kiriman atau komentar tidak berbayar.  Sebelumnya YouTube telah melarang klaim yang "tidak bersandar pada medis" terkait isu COVID-19 di platform mereka.
 
YouTube menyebut platform video tersebut telah menghapus sekitar 200 ribu video berbahaya atau menyesatkan tentang COVID-19 sejak Februari 2020. 

Cek fakta: Hoaks, ada penjarahan di Thamrin City Jakarta!

Cek fakta: Jakarta berlakukan sekolah tatap muka pada PSBB Transisi? Ini penjelasannya

Pewarta: Tim JACX
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2020