Harga Minyak Jatuh Karena Dolar AS Menguat

Harga Minyak Jatuh Karena Dolar AS Menguat

New York (ANTARA News) - Harga minyak merosot pada Kamis waktu setempat atau Jumat pagi WIB, karena investor melakukan aksi ambil untung di latar belakangi penguatan dolar, yang menghambat membeli komoditi.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman April turun 73 sen menjadi 82,20 dolar per barel.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei turun 48 sen menjadi 81,48 dolar per barel.

"Beberapa di antaranya dapat disebabkan oleh profit taking, dan beberapa di antaranya dapat disebabkan oleh dolar yang lebih kuat," kata analis dari Andy Lipow dari Lipow Oil Associates.

"Dan, juga di Eropa pembiayaan utang Yunani telah mendatangkan pertanyaan. Jika utang tidak dibiayai kembali, orang-orang menafsirkan bahwa buruk bagi perekonomian."

Euro melemah terhadap dolar pada Kamis di tengah kekhawatiran yang terus-menerus atas krisis utang Yunani.

Kegelisahan atas nasib keuangan Yunani diperdalam karena Uni Eropa meraba-raba mencari landasan bersama tentang cara untuk memastikan bahwa Yunani akan dapat meminjam uang di pasar keuangan pada tingkat yang sama dengan yang dibayarkan oleh mitra-mitranya.

Jelas tidak puas dengan apa yang mereka lihat sebagai tanggapan hangat Uni Eropa sejauh ini, otoritas Yunani menegaskan pihaknya siap untuk pergi ke Dana Moneter Internasional (IMF) untuk meminta bantuan, sebuah langkah potensial yang telah membagi zona euro.

Sebuah penguatan greenback membuat minyak mentah dalam denominasi dolar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lemah.

Analis juga mengatakan harga minyak berjangka telah meningkat terlalu cepat dalam beberapa hari dan tidak mencerminkan permintaan.

"Harga berjalan di depan fundamental dan tetap terputus dari pasar fisik," kata Mike Fitzpatrick, Wakil Presiden MF Global.

"Kerinduan untuk nilai riil dapat menjadi satu-satunya penjelasan yang masuk akal bagi kenaikan harga minyak," katanya, menunjuk tertekannya sentimen konsumen.

"Harga komoditi dapat terus meningkat bahkan karena tekanan deflasi memuncak. Tidak peduli berapa banyak likuiditas didorong ke dalam sistem perbankan, seperti yang dilakukan Jepang sekarang, sampai konsumen kembali bekerja, permintaan akan tetap hangat," kata Fitzpatrick.

Minyak mentah berjangka telah bangkit pada Rabu di tengah tanda-tanda permintaan energi menguat di Amerika Serikat dan setelah kartel minyak OPEC memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksinya sejalan dengan ekspektasi pasar.

Departemen Energi AS (DoE) mengatakan timbunan sulingan, termasuk bahan bakar diesel dan pemanas, jatuh lebih dari yang diperkirakan, dengan 1,5 juta barel, di pekan yang berakhir 12 Maret. Bensin merosot 1,7 juta barel, melampaui perkiraan.

OPEC mempertahankan batas atas produksinya tidak berubah pada 24,84 juta barel per hari di sebuah pertemuan di Wina, menunjuk ketidakpastian dalam lingkungan ekonomi makro dan permintaan minyak dunia.

OPEC menyatakan akan meninjau situasi ekonomi pada pertemuan biasa berikutnya di Wina pada 14 Oktober.(ANT/A038)

Pewarta: adit
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar