Bunga Krisan didorong jadi komoditas ekspor baru ke Jepang

Bunga Krisan didorong jadi komoditas ekspor baru ke Jepang

Kepala Karantina Pertanian Manado, Donni Muksydayan (kedua kiri) mendampingi Staf Ahli Kementerian Pertanian Yessiah Ery Tamalagi (tengah) bersama pejabat terkait lainnya saat berkunjung ke tempat budidaya tanaman Krisan di Tomohon. (1)

Saat ini baru Sumatera Utara yang mengekspor Bunga Krisan langsung ke Jepang. Kami optimistis sebentar lagi bunga krisan asal Sulut juga bisa masuk pasar Jepang,...
Manado (ANTARA) - Karantina Pertanian Manado Kementerian Pertanian mendorong Bunga Krisan asal Sulawesi Utara (Sulut) menjadi komoditas ekspor baru setelah dibuka penerbangan langsung dari Manado ke Jepang.

“Saat ini baru Sumatera Utara yang mengekspor Bunga Krisan langsung ke Jepang. Kami optimistis sebentar lagi bunga krisan asal Sulut juga bisa masuk pasar Jepang, apalagi sekarang sudah tersedia penerbangan langsung Manado – Jepang, peluang besar ini harus kita tangkap,” ujar Kepala Karantina Pertanian Manado, Donni Muksydayan di Manado, Kamis.

Donni mendampingi Staf khusus Menteri Pertanian, Yessiah Ery Tamalagi melakukan kunjungan ke beberapa lokasi budi daya krisan yang ada di Tomohon, belum lama ini.

Baca juga: Balitbangtan kembangkan varietas krisan pot di Sumbar

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, kata dia, terus mendorong pelaksanaan program strategis Gerakan Peningkatan Tiga Kali Lipat Ekspor Komoditas Pertanian (Gratieks) di Sulut, katanya.

Kolaborasi bersama Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Tomohon, Karantina Pertanian Manado akan melakukan pendampingan dan fasilitasi para petani krisan asal Sulut memenuhi permintaan pasar ekspor beserta dengan pemenuhan persyaratan ekspor negara Jepang.

Donni menjelaskan secara topografi Sulut menyimpan potensi hasil alam yang begitu melimpah bukan hanya dari sektor perkebunannya tapi juga sektor florikultura.

Baca juga: Ekspor ikan beku Sulut ke AS tetap stabil di tengah COVID-19

Indahnya ribuan bunga krisan yang tumbuh di dataran tinggi Sulut menambah deretan panjang hasil alam tanah 'Nyiur Melambai' yang potensial untuk di ekspor, katanya.

Di Kota Tomohon, lanjut Donni, bunga krisan ini telah banyak dibudidayakan oleh petani lokal dan meramaikan pasar domestik.

"Tomohon dikenal sebagai sentra krisan terbesar di Indonesia setelah pulau Jawa. Hal itu dibuktikan dengan adanya festival tahunan, Tomohon Internasional Festival Flower (TIFF) yang setiap tahunnya dihadiri oleh beberapa negara Asia hingga Eropa," sebutnya.

Petani di Tomohon pada umumnya bisa menghasilkan 200.000 pohon per bulan, dan secara kualitas krisan asal Sulut juga tidak diragukan lagi karena telah lama dan banyak meramaikan pasar nasional.

“Secara produksi mencukupi, kami akan bantu dampingi ada beberapa persyaratan khusus yang mungkin harus kita penuhi untuk masuk pasar internasional. Dan Karantina Pertanian Manado siap memfasilitasi terkait pemenuhan persyaratan 10.000 stek Krisan putih yang rencananya akan di ekspor ke Jepang, Torang Bisa (kita bisa)," tambahnya.

Yessiah Ery Tamalagi menaruh harapan besar terhadap petani Krisan Sulut terus konsisten mengembangkan salah satu komoditi primadona tersebut agar berkembang dan bersaing di pasar internasional.

"Kami akan menjamin mengenai ketersediaan bibit krisan di Sulut harus tetap ada. Ke depannya kami akan berkoordinasi dengan seluruh pihak - pihak terkait demi lancarnya penyaluran bibit tersebut," tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengingatkan jajarannya di seluruh Indonesia agar terus bersinergi dan turun lapangan mendampingi para petani agar komoditas pertaniannya agar memenuhi persyaratan ekspor, sehingga dapat berdaya saing di pasar internasional.
 

Pewarta: Karel Alexander Polakitan
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar