Bandung (ANTARA News) - Hari Meteorologi Dunia ke-60 pada  Selasa (23/3) terasa istimewa karena diwarnai dengan fenomena "halo" yang terlihat jelas di langit Bandung.

Fenomena optik yang terjadi menjelang tengah hari itu menarik perhatian sebagian warga Kota Kembang Bandung.

Mereka mendongakkan kepalanya ke arah langit untuk melihat lingkaran cahaya yang seakan-akan pelangi yang mengelilingi matahari.

Warga saling memberitahukan satu sama lain untuk melihat fenomena halo itu. Sebagian mengabadikan menggunakan kamera ponsel dan kamera digital.

Namun tidak sedikit warga yang panik dan khawatir dengan fenomena alam itu karena mengaku baru pertama kali melihatnya. Mereka menganggap peristiwa itu sebagai peristiwa gaib yang menjadi pertanda sesuatu yang kurang baik.

Mereka yang awam baru bisa tenang dan tahu bila hal itu merupakan fenomena optik biasa. Terutama anak-anak, cukup heboh membicarakan fenomena alam yang langka mereka saksikan itu.

"Selama ini saya tahun halo dari pelajaran di sekolah, ternyata benar saja seperti pelangi yang mengelilingi matahari," kata Siska Ratnasari, pelajar SMKN 3 Kota Bandung yang baru pulang mengikuti Ujian Nasional (UN).

Lain halnya Ridwan, pemuda yang sehari-hari bekerja di sebuah showroom mobil di kawasan Buah Batu itu sibuk memotret halo dengan kamera ponselnya. Ia mengaku sudah mengabadikan tujuh hingga sepuluh gambar foto fenomena halo.

Ridwan mengaku sudah beberapa kali menyaksikan halo, terutama pada malam hari saat terang bulan. Namun baru Selasa siang itu ia menyaksikan halo dengan warna pelangi yang terlihat sangat jelas mengelilingi matahari di atas langit Bandung.

"Bundaran di langit itu seperti hendak jatuh, saya menyaksikannya hingga fenomena itu hilang," katanya.

Sementara itu beberapa orang mahasiswa STSI Bandung di Jalan Buahbatu Kota Bandung dengan menggunakan kamera SLR juga tak kalah sibuknya mengabadikan halo di atas mereka.

Beberapa di antaranya mengeluh silau karena terkena kontak melalui lensa kameranya. Terpaksa mereka memotret tanpa mengintip di lensa bidik kameranya.

"Silau bukan main, lain hanya bila gunakan layar digital, tak masalah," kata Gunawan, salah seorang mahasiswa itu.

Fenomena biasa

Prakirawan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Susi Susiana, menyebutkan bahwa fenomena halo merupakan fenomena biasa yang bisa terjadi di seluruh muka bumi.

Bulatan halo di langit terbentuk karena adanya reaksi optik keika sinar matahari dibiarkan kristal-kristal air pada lapiran awan tipis cirrus.

"Fenomena alam itu lumrah dan bisa terjadi di mana saja, seperti pelangi mengelilingi matahari atau bulan. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan cuaca," kata Susiana saat menghadiri Peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-60 tahun 2010 di Lembang Kabupaten Bandung.

Ia menyebutkan, fenomena halo mungkin jarang terjadi di daerah tropis, namun di belahan bumi Eropa fenomena itu sering terjadi.

Berdasarkan referensi, fenomena halo itu kebanyakan terjadi dari kristal es dalam awal cirrus sejuk yang terletak paa ketinggian 5-10 kilometer di lapisan troposfir atas. Bentuk dan orientasi kristal-kristal itu menentukan bentuk halo yang terjadi.

Halo, selain terjadi dalam bentuk lingkaran penuh dengan bagian pinggit berbingkai warna pelangi, juga bisa terjadi dalam lingkaran separuh dengan pusat pada cahaya matahari.

Susiana menyebutkan, bila ingin melihat halo, kedua mata harus dilindungi dari pancaran sinar matahari.

"Jangan sesekali terlalu lama memandang halo, kalau perlu memakai kacamata hitam atau tiga dimensi, hindari kilauan pada kaca atau cermin," katanya.

Khusus bagi mereka yang hendak mengambil foto dengan menggunakan kamera single lens reflex (SLR), sebaiknya tidak langsung membidik melalui kotak bidik ke arah halo, karena cahaya matahari akan masuk ke dalam lensa fokus dan bisa merusak retina mata.
(U.S033/S018/P003)

Pewarta: Oleh Syarif Abdullah
Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010