Survei: Urban farming berprospek cerah dongkrak pendapatan masyarakat

Survei: Urban farming berprospek cerah dongkrak pendapatan masyarakat

Ilustrasi: Komunitas petani kota di Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Pusat, menghasilkan tanaman sayur-sayuran yang memiliki nilai ekonomi dengan sistem menanam secara hidroponik. (HO) (HO)

Masyarakat melihat kegiatan urban farming dapat berkontribusi dalam ketahanan pangan, ramah lingkungan, dan meningkatkan pendapatan ekonomi ...
Jakarta (ANTARA) - Kegiatan bercocok tanam di rumah atau pertanian perkotaan (urban farming) dinilai oleh sebagian masyarakat memiliki prospek yang cerah, terutama dalam meningkatkan pendapatan ekonomi di tengah pandemi COVID-19, berdasarkan hasil survey MarklPlus.

Senior Business Analyst MarkPlus Inc Dini Bonafitria menyebutkan sebanyak 98,2 persen responden setuju bahwa urban farming memiliki prospek dalam mendukung kegiatan pertanian dengan alasan ketahanan pangan, ramah lingkungan, dan peningkatan pendapatan.

"Masyarakat melihat kegiatan urban farming dapat berkontribusi dalam ketahanan pangan, ramah lingkungan, dan meningkatkan pendapatan ekonomi sehingga menjadi peluang untuk masyarakat yang ini memulai bisnis pertanian," kata Dini dalam webinar yang digelar Markplus Inc, Senin.

Baca juga: Mentan dorong swasta jadi inisiator kembangkan pertanian perkotaan

Ada pun urban farming merupakan kegiatan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan waktu luang di masa pandemi COVID-19 dan memanfaatkan keterbatasan lahan dengan pengairan.

Masyarakat pun tertarik untuk melakukan kegiatan urban farming sebagai suatu gaya hidup baru di perkotaan yang dapat dilakukan oleh semua kalangan.

Dini menjelaskan bahwa 57 persen masyarakat menyatakan tertarik untuk melakukan pertanian perkotaan, namun belum melakukannya. Sedangkan sisanya sebesar 41 persen tertarik dan sudah melakukan.

Baca juga: Tinjau sawah di Cakung, Mentan minta DKI pertahankan "urban farming"

Dari golongan masyarakat yang sudah melakukan urban farming, sebanyak 92,7 persen di antaranya akan terus melakukan setelah pandemi ini berakhir.

Namun demikian masyarakat juga menghadapi tantangan dalam melakukan urban farming, yakni dari segi sarana dan fasilitas, ketersediaan waktu, serta biaya.

Dari tantangan tersebut pula, Survey MarkPlus juga meninjau tingkat dukungan pemerintah terhadap bercocok tanam di rumah dari kacamata masyarakat.

Baca juga: Ikhtiar pemenuhan ketahanan pangan saat pandemi di perkotaan

"Jika melihat bagaimana persepsi masyarakat terhadap dukungan pemerintah dari skala 1 sampai 4, masyarakat memilik 2,21 di mana aspek-aspek prioritas dalam kegiatan urban farming adalah sarana dan prasarana, pembiayaan, dan ketersediaan informasi," kata dia.

Oleh karena itu diperlukan dukungan dari pemerintah dan pelaku usaha dalam mengembangkan pertanian perkotaan, terutama dalam kebutuhan sarana dan prasarana seperti paket lengkap hidroponik.

Baca juga: Bertanam dinilai jadi solusi penghasilan di tengah pandemi

 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Moreno Suprapto sosialisasikan urban farming dengan teknik hidroponik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar