Artikel

Menjaga stabilitas pangan di era pandemi

Oleh Hernawan Wahyudono

Menjaga stabilitas pangan di era pandemi

Hamparan padi sawah di Kecamatan Amonggedo, Kabupaten Konawe, sentra produksi padi serapan pembelian Bulog Sultra. ANTARA/Sarjono/aa.

Kendari (ANTARA) - Wabah virus corona dalam delapan bulan terakhir telah melanda seluruh belahan dunia tak terkecuali di Tanah Air. Jumlah penderita yang dinyatakan positif COVID-19 juga terus bertambah.

Di sisi lain, kasus sembuh juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, meskipun hingga kini vaksin yang dapat menyembuhkan pasien dari COVID-19 belum resmi digunakan.

Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah baik pusat maupun daerah, seperti pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tes cepat, tes usap. Sementara dari sisi ekonomi pemerintah meluncurkan stimulus berupa bantuan sosial tunai dan lain sebagainya.

Khusus untuk sektor pangan, tentunya peran Badan Urusan logistik (Bulog) untuk menjaga keseimbangan dan ketersediaan pangan di era pandemi sekarang ini tidak bisa diabaikan begitu saja, mengingat hampir-hampir semua aktifitas masyarakat dilakukan di dalam rumah untuk mencegah penyebaran virus corona ini.

Seperti halnya yang dilakukan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) Sulawesi Tenggara yang terus menjaga ketersediaan pangan di era pandemi COVID-19.

Menurut catatan, Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tenggara memiliki stok 7.500 ton beras hasil pembelian dari panen petani setempat yang dapat memenuhi permintaan rutin untuk empat bulan mendatang.

"Pasokan beras ke gudang Bulog yang tersebar di daerah-daerah sentra produksi melalui pengusaha mitra berjalan normal," kata Kepala Bulog Kanwil Sultra Ermin Tora di Kendari.

Bulog menjamin ketersediaan stok untuk memenuhi permintaan konsumen maupun keperluan operasi pasar, bantuan sosial pemerintah maupun permintaan kebutuhan Lapas maupun Rutan.

Bulog Divre Sulawesi Tenggara menyampaikan bahwa hasil serapan beras petani di daerah itu telah mencapai 80 persen dari yang ditargetkan. "Tahun 2020 ini penyerapan kami dari petani itu sudah sekitar 17.600 ton. Sudah di atas 80 persen," katanya.

Bulog Sultra pada tahun 2020 ini bisa menyerap beras petani sebanyak 20.000 ton. "Target kami 20.000 ton, kami sudah 17.600 ton (serapan beras petani). Itu sudah lebih besar dibanding total penyerapan tahun lalu," tutur Ermin.

Bulog Subdivre Kota Baubau, Sulawesi Tenggara menyebutkan cadangan beras pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tiga kabupaten dan satu kota dipastikan masih aman hingga akhir Oktober 2020.

Kepala Bulog Subdivre Baubau Ardiansyah, mengatakan, stok beras nasional yang ada di gudang saat ini masih 200 ton, dan dalam pekan depan akan ada penambahan beras dari Bulog Provinsi sejumlah 150 ton.

"Beras masih ada 200 ton, namun akan datang lagi 150 ton pekan depan, yang diturunkan di pelabuhan Murhum Baubau," tutur Ardiansyah.

Cadangan beras tersebut tersedia untuk memenuhi kebutuhan tiga kabupaten dan satu kota yaitu Buton Selatan, Buton dan Buton Tengah termasuk Kota Baubau.
 
Kepala Bulog Kanwil Sulawesi Tenggara, Ermin Tora (foto Antara/Sarjono)


Bantuan saat pandemi

Bulog Kantor Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara mulai menyalurkan 5.300 ton beras bantuan sosial melalui program jaring pengaman sosial Kementerian Sosial. Bantuan sosial beras di tengah pandemi Corona menyasar 118.932 keluarga penerima manfaat yang tersebar pada 17 kabupaten/kota se- Sultra.

Bulog selaku penyedia beras menjamin stok sudah tersedia di sejumlah gudang untuk mempercepat penyaluran ke penerima manfaat.

Penyaluran di beberapa daerah bulan Agustus dan September 2020 sudah mencapai 100 persen, yakni Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kolaka, Kolaka Timur dan Konawe Selatan.

Bansos pangan beras adalah penugasan pemerintah melalui Kementrian Sosial yang ditujukan kepada Bulog untuk mengurangi beban masyarakat memenuhi kebutuhan pangan beras di tengah pandemi Corona.

Pemerintah mengucurkan JPS beras selama tiga bulan (Agustus, September dan Oktober). Setiap keluarga penerima manfaat dijatah 15 kilogram beras premium setiap bulan.

Sebelum penyaluran Bulog bersinergi dengan pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial, pendamping PKH dan transportir untuk memastikan kualitas beras premium dan kwantitas timbangan.

Bulog menjaga integritas sehingga sejak beras keluar dari gudang ke kendaraan angkutan dilakukan cek ulang bersama unsur Dinas Sosial, pendamping PKH dan transportir. Setelah semua pihak yakin kualitas beras terpenuhi dan timbangan sesuai aturan baru didistribusi ke penerima manfaat.

Bulog Sultra memiliki stok beras yang dibeli dari petani hingga saat ini sekitar 7.500 ton.

"Tidak masalah dengan stok yang tersisa sekitar 2.000 ton karena Oktober 2020 petani panen dan Bulog membeli lagi beras ," katanya.

 
Kepala Dinas Sosial Sultra, Armunanto (foto Antara/Harianto)



Dimanfaatkan dengan baik

Dinas Sosial (Dinsos) Sulawesi Tenggara meminta warga yang menerima bantuan sosial baik Bantuan Sosial Tunai (BST) maupun bantuan sosial beras agar dimanfaatkan dengan baik guna meringankan beban ekonomi di tengah pandemi COVID-19.

Saya mengimbau masyarakat yang menerima manfaat program BST maupun bantuan sosial beras kepada masyarakat Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (KPM-PKH) agar digunakan sebaik-baiknya untuk menutupi atau mengurangi beban kebutuhan ekonomi keluarga," kata Kepala Dinas Sosial Sultra, Armunanto.

Saat ini bantuan sosial yang tengah disalurkan kepada masyarakat di provinsi itu yakni bantuan sosial tunai atau BST dan bantuan sosial beras yang belum lama diluncurkan bersama Perum Bulog Sultra. Namun, tidak menjelaskan berapa jumlah penerima BST di provinsi itu.

"Tadinya itu kan yang BST ada tiga bulan April sampai Juni, setiap bulan itu Rp600 ribu, kemudian kebijakan pemerintah pusat dilaksanakan sampai Desember tapi menjadi Rp300 ribu per bulan setiap KPM yang dibayarkan ada yang lewat Kantor Pos ada yang lewat Bank Himbara," jelas Armunanto.

Selain itu, pihaknya tengah menyalurkan bantuan sosial beras kepada masyarakat di 17 kabupaten/kota di provinsi itu, dimana beras yang disalurkan disediakan oleh Perum Bulog Sultra dengan kualitas medium yang akan disalurkan selama 3 bulan terhitung sejak Agustus sampai Oktober 2020.

Setiap KPM itu 15 kilogram per kepala keluarga selama tiga bulan terhitung sejak Agustus sampai Oktober. Untuk penyaluran di bulan September 2020 langsung dua bulan yaitu Agustus dan September sejumlah 30 kilogram per kepala keluarga.

Penyaluran bantuan sosial beras akan disalurkan oleh pihak ketiga yaitu transporter dari PT Doss Ni Roah (DNR), dimana seluruh tanggung jawab penyaluran bantuan sosial beras tersebut berada pada Transporter. Sementara Bulog hanya menyediakan beras bantuan tersebut.

"Sekali lagi imbauan kepada seluruh masyarakat khususnya masyarakat KPM PKH untuk menerima bantuan beras tersebut, memanfaatkan bantuan beras tersebut sesuai dengan peruntukannya dalam artian dikonsumsi agar bisa mengurangi beban kebutuhan masyarakat KPM PKH," ungkapnya.

Diharapkan masyarakat memantau pelaksanaan program ini. Memantau pelaksanaan ini agar PT DNR melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan khususnya dari sisi kualitas dan kuantitas.
Baca juga: Pakar: Lahan gambut bisa dimanfaatkan untuk produksi pangan
Baca juga: Pakar: Hutan sumber ketahanan dan penyediaan pangan
Baca juga: Hari Pangan Sedunia, peran penting perempuan untuk ketahanan pangan


 

Oleh Hernawan Wahyudono
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bulog Pekalongan pastikan ketersediaan pasokan beras Bansos aman

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar