Era musik digital, pemerhati musik: Tetap ada pembeli album fisik

Era musik digital, pemerhati musik: Tetap ada pembeli album fisik

Musik Digital (Pixabay)

Die hard music fans itu yang akan memburu, tapi memang secara industri di Indonesia semua moving ke digital
Jakarta (ANTARA) - Pemerhati musik Wendi Putranto mengatakan kehadiran platform musik digital tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan album format fisik.

Di era serba digital, para musisi mendapat kemudahan untuk mempromosikan karyanya melalui platform musik digital, tanpa perlu menandatangi kontrak dengan label, musisi bisa menyebarluaskan lagunya untuk didengar banyak orang.

Kemudahan mendengarkan musik apa pun yang diinginkan ini, menurut Wendi tidak akan memengaruhi penjualan karya fisik seperti album. Sebab, masih ada penggemar musik yang ingin mengoleksi karya dalam bentuk rekaman fisik dari para idolanya.

Baca juga: Platform digital jadi cara efektif pamerkan karya musik saat pandemi

"Karena die hard music fans pasti pengin lebih, mereka tetap pengin dengar musiknya tapi mereka juga mau memiliki format fisik dari musiknya. Tapi memang perbedaannya kentara antara die hard music fans dan penggemar musik biasa," kata Wendi dalam jumpa pers "Parade Joox Lima", Selasa.

Die hard music fans atau penggemar berat pasti akan memburu apa pun yang dirilis oleh idolanya, dan hal ini juga berlaku bagi para kolektor musik. Sebagai contoh, para penggemar grup idola K-Pop, meski harga album atau single terbilang mahal, para penggemar ini tetap akan membelinya.

Berbeda dengan penggemar musik biasa yang cukup puas hanya mendengarkan lagu-lagunya saja tanpa perlu memiliki format fisiknya.

"Die hard music fans itu yang akan memburu, tapi memang secara industri di Indonesia semua moving ke digital. Jadi dampaknya sub kultural, tidak berdampak besar ke industrinya," ujar Wendi.

Baca juga: Kemenparekraf fokus bangun ekonomi digital di sektor musik

Sementara itu, Wendi menilai bahwa kehadiran platform musik digital sangat membantu para musisi. Para pendengar musiknya pun tak terbatas hanya wilayah nasional saja tapi juga internasional.

"Kalau emang lagu kita heavy rotation atau dipilih, didengarkan, di-stream oleh banyak orang, kita bisa dapat penampilan live streaming di Joox atau masuk chart. Exposure ini yang enggak didapatkan dulu karena segalanya serba terbatas. Tapi dengan adanya platform ini, jangkauannya lebih luas bahkan bisa ke regional Asia, bahkan bisa ke internasional," kata Wendi.

Baca juga: Tren musik digital untungkan musisi, namun lemah terhadap perlindungan

Baca juga: Kemenparekraf dorong musisi manfaatkan digitalisasi secara kreatif


Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar