Sri Mulyani: Wakaf produktif permudah masyarakat investasi dan beramal

Sri Mulyani: Wakaf produktif permudah masyarakat investasi dan beramal

Dokumentasi - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. ANTARA/HO-Kemenkeu/Agus/pri.

Platform CWLS ini salah satu bentuk inovasi keuangan dan investasi sosial yang dirancang untuk menghasilkan kebaikan dan manfaat bagi masyarakat besar
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mendorong pengembangan instrumen keuangan berbasis syariah yakni wakaf produktif melalui Cash Wakaf Linked Sukuk (CWLS) yang hasil investasinya dimanfaatkan untuk kegiatan sosial.

“Diharapkan masyarakat mendapatkan kemudahan melakukan wakafnya dan bisa memberikan manfaat luas melalui instrumen keuangan negara yang dipercaya,” kata Sri Mulyani pada peresmian Pusat Retina dan Glaukoma RS Mata Achmad Wardi Serang, Banten secara virtual di Jakarta, Rabu.

Pemerintah pertama kali menerbitkan wakaf atau sedekah uang yang ditempatkan di sukuk negara itu pada 10 Maret 2020 dengan metode private placement yakni peminat langsung menyetorkan dananya yang dikumpulkan Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Baca juga: BWI: Wakaf bisa digunakan untuk bisnis

Sri Mulyani menuturkan nantinya hasil investasi CWLS itu disalurkan untuk kegiatan sosial dan produktif di antaranya renovasi dan pembelian alat kesehatan, pembelian ambulans termasuk pembangunan Pusat Retina dan Glaukoma RS Mata Achmad Wardi Serang, Banten.

Sebagai kelanjutan untuk terus menerbitkan CWLS, pada 9 Oktober 2020 Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Agama (Kemenag) kembali membuka instrumen baru yakni Cash Wakaf Green Sukuk Ritel seri SWR-001.

SWR 001 ini, kata dia, dapat dibeli masyarakat dalam bentuk seperti wakaf, namun melalui instrumen keuangan dengan empat distributor yakni Bank Mualamat, Bank Mandiri Syariah, BRI Syariah, dan BNI Syariah.

Baca juga: Dompet Dhuafa manfaatkan Wakaf Produktif untuk pembiayaan pertanian

“Ini adalah salah satu bentuk investasi tapi sekaligus juga amal jariah. Platform CWLS ini salah satu bentuk inovasi keuangan dan investasi sosial yang dirancang untuk menghasilkan kebaikan dan manfaat bagi masyarakat besar,” katanya.

Berbicara keuangan syariah, sejak 2008 pemerintah mengembangkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan serapan mencapai Rp1.500 triliun.

Menkeu menambahkan lebih dari 3.000 proyek infrastruktur dibangun menggunakan sukuk yang berbasis proyek dengan nilai mencapai Rp118 triliun.

“Kita juga terus memperluas investor yang ingin instrumen syariah melalui Sukuk Negara Ritel, dan saya senang masyarakat terutama muda milenial memiliki suatu keinginan surat berharga sukuk ini,” kata Sri Mulyani.

Baca juga: BWI: pengetahuan wakaf masyarakat masih rendah

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sri Mulyani: pengangguran bertambah 2,67 juta akibat COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar