Olimpiade

KOI tunggu ratas untuk matangkan bidding Olimpiade 2032

KOI tunggu ratas untuk matangkan bidding Olimpiade 2032

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari berpose di kantornya di Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2020). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari mengaku masih menunggu jadwal rapat terbatas (ratas) bersama presiden untuk mematangkan persiapan bidding tuan rumah Olimpiade 2032.

“Semoga bisa terlaksana dalam waktu dekat untuk berkoordinasi dengan semua kementerian sehingga Indonesia bisa dipercaya menjadi tuan rumah Olimpiade 2032,” kata Oktohari dalam siaran pers, Rabu.

Menurut pria yang akrab disapa Okto itu, KOI juga sudah mulai menyusun materi untuk dibahas bersama dengan berbagai kementerian sebelum dipresentasikan pada bidding nanti.

Baca juga: Persaingan ketat, KOI butuh dukungan pemerintah untuk Olimpiade 2032

Selesai ratas, Okto mengatakan akan langsung terbang ke markas Komite Olimpiade Internasional (IOC) di Lausanne, Swiss untuk membahas lebih lanjut soal peluang Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Okto mengaku semakin optimistis dengan peluang besar Indonesia memenangkan bidding Olimpiade 2032. Apalagi Menteri BUMN Erick Thohir, di sela-sela perjalanan diplomatiknya ke Swiss pekan lalu, sempat menyambangi markas IOC untuk menemui Presiden Thomas Bach.

Baca juga: KOI dan ANTARA kerja sama dukung Indonesia tuan rumah Olimpiade 2032
Baca juga: Erick Thohir siapkan kepanitiaan Olimpiade 2032


Erick Thohir yang juga anggota IOC itu berbicara soal situasi olahraga di tengah pandemi serta pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.

“Kedatangan Pak Erick mendapat sambutan positif oleh IOC. Ini sekaligus menandakan Indonesia seriusan menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 dan kami tengah menyiapkan langkah-langkah lanjutan untuk terus mematangkan persiapan,” ujar Okto.

Peluang memenangkan bidding Olimpiade 2032, menurut Okto, juga semakin besar karena adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat yang merupakan syarat utama bidding.

Baca juga: Raja Sapta bertekad bawa Indonesia jadi tuan rumah Olimpiade 2032

Apalagi Indonesia juga sebelumnya pernah menyelenggarakan Asian Games 2018, yang berarti tak perlu banyak membangun venue baru untuk pesta empat tahunan Olimpiade. Sesuai dengan pesan IOC soal efisiensi biaya, Indonesia setidaknya telah memenuhi syarat tersebut.

“Kami akan berusaha menekan biaya. Presiden juga sudah meminta Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade, animo masyarakat pun besar, kini tinggal budget wise yang masih kami susun,”

“Kawasan GBK sudah digunakan di Asian Games 1962 dan Asian Games 2018, jika digunakan lagi di Olimpiade 2032 kan bentuk dari legacy. Jadi mestinya dibanding negara lain, biaya kita ini bisa efisien dan efektif,” kata Okto.

Pada bidding tuan rumah Olimpiade 2032, Indonesia akan bersaing dengan beberapa negara lain, yaitu Unifikasi Korea, Australia, India, China, Jerman dan Qatar.

Baca juga: Penundaan Olimpiade 2020 tak pengaruhi 'bidding' tuan rumah 2032
Baca juga: KOI bakal bangun fasilitas latihan kelas dunia untuk Olimpiade 2032
Baca juga: KOI mulai persiapkan diri wujudkan Indonesia tuan rumah olimpiade 2032


 

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Lebih menguntungkan, peternak ikan konsumsi beralih ternak koi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar