Taiwan tidak akan ikut perlombaan senjata dengan China

Taiwan tidak akan ikut perlombaan senjata dengan China

Pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen mengunjungi pusat pemeliharaan Angkatan Udara di pangkalan udara Gangshan di Kaohsiung, Taiwan, Sabtu (26/9/2020). REUTERS/Ben Blanchard/hp/cfo

Taipei (ANTARA) - Taiwan tidak berniat terlibat dalam perlombaan senjata dengan China tetapi membutuhkan kemampuan tempur yang kredibel, Menteri Pertahanan Yen De-fa mengatakan, Kamis.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Amerika Serikat menyetujui potensi penjualan senjata senilai 1,8 miliar dolar AS (sekitar Rp26,4 triliun) kepada pulau yang diklaim China itu.

Beijing telah meningkatkan tekanan terhadap Taiwan, yang diperintah secara demokratis, untuk menerima kedaulatan China.

Tekanan dilancarkan China antara lain dengan menerbangkan jet tempur melintasi garis tengah Selat Taiwan yang sensitif, yang biasanya berfungsi sebagai penyangga tidak resmi.

Paket senjata AS terbaru termasuk sensor, rudal, dan artileri.

Izin kongres lebih lanjut diharapkan muncul untuk penjualan pesawat nirawak (drone) yang dibuat oleh General Atomics dan rudal anti kapal Harpoon berbasis darat, yang dibuat oleh Boeing Co, yang berfungsi sebagai rudal jelajah pertahanan pantai.

Ketika berbicara kepada wartawan, Yen berterima kasih kepada AS.

Ia mengatakan pembelian paket itu akan membantu Taiwan meningkatkan kemampuan pertahanan untuk menghadapi "ancaman musuh dan situasi baru".

"Ini termasuk kemampuan tempur yang kredibel dan kemampuan peperangan asimetris untuk memperkuat tekad kami mempertahankan diri," tambahnya.

"Ini menunjukkan betapa pentingnya AS bagi keamanan di Indo Pasifik dan Selat Taiwan. Kami akan terus mengonsolidasikan kemitraan keamanan kami dengan Amerika Serikat."

China kemungkinan akan mengutuk penjualan senjata baru, seperti yang selalu terjadi. Tetapi, Yen mengatakan pihaknya tidak ingin ada konfrontasi.

"Kami tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata dengan Komunis China. Kami akan mengajukan persyaratan dan membangun sepenuhnya sesuai dengan konsep strategis pencegahan, mempertahankan posisi dan kebutuhan pertahanan kami."

Pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen telah menjadikan modernisasi pertahanan sebagai prioritas dalam menghadapi ancaman China yang meningkat, terutama kemampuan "perang asimetris".

Kemampuan yang dimaksud mengacu pada  membuat serangan China menjadi sulit dan mahal, misalnya dengan ranjau pintar dan rudal portabel.

Washington yang seperti kebanyakan negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taipei, meskipun merupakan pendukung global terkuatnya, telah mendorong Taiwan untuk memodernisasi militernya sehingga dapat menjadi "landak", yang sulit diserang oleh China.

Sumber: Reuters

Baca juga: AS lanjutkan rencana jual senjata berteknologi tinggi ke Taiwan

Baca juga: Militer China pantau pergerakan kapal perang AS di Selat Taiwan

Baca juga: Taiwan sebut militernya di bawah tekanan hadapi tantangan dari China


 

Menlu ingin UNCLOS 1982 ditegakkan di Laut China Selatan

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar