Survei: 76 persen guru khawatir kembali ke sekolah

Survei: 76 persen guru khawatir kembali ke sekolah

Ilustrasi - Sejumlah siswa SMP mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui saluran televisi Bandung 132 di Cibangkong, Bandung, Jawa Barat, Selasa (13/10/2020). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc

untuk mengetahui persepsi guru
Jakarta (ANTARA) - Survei suara guru yang dilakukan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Predikt menemukan 76 persen guru merasa khawatir kembali ke sekolah selama pandemi COVID-19.

"Penelitian singkat ini dilakukan untuk mengetahui persepsi guru dan tenaga kependidikan lainnya terkait situasi sekolah akibat pandemi serta proses menuju pembukaan kembali sekolah dengan skema adaptasi kebiasaan baru," kata Ketua Tim Pendidikan WVI Mega Indrawati melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Menurut survei tersebut, kekhawatiran terbesar pada guru adalah terjadi penularan COVID-19 pada peserta didik (44 persen) dan pada diri sendiri (37 persen), khawatir tidak bisa melakukan proses belajar mengajar dengan nyaman (29 persen), khawatir tidak bisa menjalankan pembelajaran tatap muka dengan efektif (24 persen), hingga khawatir keluarga di rumah tertular COVID-19 (23 persen).

Baca juga: Mendikbud : Peran guru semakin mulia di tengah pandemi COVID-19

Guru pendidikan khusus atau inklusi cenderung lebih merasa khawatir terkait masalah kesehatan, sedangkan guru di daerah terluar, terdepan, tertinggal (3T) relatif lebih khawatir terkait pembelajaran. Hal itu karena anak berkebutuhan khusus lebih sulit melaksanakan protokol kesehatan sehingga rentan tertular COVID-19.

Sebanyak 95 persen responden guru setuju pembelajaran jarak jauh atau kombinasi. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana, sebagian besar guru mengusulkan kombinasi antara pembelajaran jarak jauh dan tatap muka (45 persen).

Sementara itu, 38 persen guru memilih pembelajaran daring sepenuhnya, 12 persen memilih pembelajaran jarak jauh secara luring, dan hanya lima persen yang memilih tatap muka seluruhnya.

Baca juga: FKUI latih 120 guru se-Indonesia untuk tanggap darurat COVID-19

Guru di daerah 3T cenderung memilih pembelajaran jarak jauh luring (26 persen). Sedangkan guru pendidikan khusus yang lebih khawatir terkait pandemi cenderung memilih pendidikan jarak jauh daring (40 persen).

"Dampak penutupan sekolah dialami guru dan peserta didik. Situasi ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas pendidikan karena belajar dari rumah memerlukan keahlian baru, baik oleh peserta didik maupun guru, terutama untuk sekolah luar biasa dan sekolah di daerah 3T," kata Mega.

Survei dilakukan pada 18 Agustus 2020 hingga 5 September 2020 dengan responden 27.046 guru dan tenaga kependidikan di 34 provinsi di Indonesia. Sebanyak 95 persen responden berada di daerah non-3T, dan lima persen di daerah 3T. Sebanyak 74 persen responden berasal dari pendidikan umum dan 26 persen dari pendidikan khusus atau sekolah luar biasa. 

Baca juga: Kemendikbud: Pembelajaran siswa berkebutuhan khusus berbeda
Baca juga: Seorang anak berkebutuhan khusus tetap produktif saat pandemi COVID-19

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Solusi Kemendikbud bagi siswa TK dan SD yang tidak punya gawai

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar