Trump diperkirakan menangi mayoritas suara elektoral Pilpres AS

Trump diperkirakan menangi mayoritas suara elektoral Pilpres AS

CEO G.M. Hillman & Associates Gracia Hillman dalam sesi wawancara kepada media di Jakarta, Kamis. (22/10/2020) (Antara/ Azis Kurmala)

Jakarta (ANTARA) - CEO G.M. Hillman & Associates Gracia Hillman memperkirakan Donald Trump akan memenangi mayoritas suara elektoral dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini.

"Iya itu mungkin, Trump mendapatkan mayoritas atau hasil maksimal suara elektoral dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini," ujar Gracia Hillman dalam sesi wawancara kepada media di Jakarta, Kamis.

Namun, ia memperkirakan selisih suara elektoral antara Trump dan Biden sangat dekat.

Pemilihan presiden Amerika Serikat menerapkan sistem electoral college yang tersebar di 50 negara bagian.

Dengan sistem suara elektoral, calon presiden yang berhasil memenangkan suara mayoritas secara nasional (voting populer) tidak langsung menjadi pemenang.

Hal itu disebabkan kemenangan kandidat calon presiden ditentukan suara elektoral.

"Terkait sistem suara elektoral, kami tidak yakin akan mengubah sistem itu dalam Pilpres AS, karena menurut pendiri hal itu cara terbaik untuk memilih presiden," ujar dia.

Pemilu 2016 adalah pengingat yang menguatkan bahwa kursi presiden AS dimenangkan atau dikalahkan di negara bagian dan bukan dalam pemilihan umum nasional.

Donald Trump kalah secara nasional dengan 2,9 juta suara (2,1 persen dari total suara) saat memenangkan mayoritas suara elektoral.

Terkait korelasi antara hasil debat dan elektabilitas masing-masing kandidat, Gracia Hillman mengatakan debat calon presiden dan wakil presiden ikut mempengaruhi elektabilitas para kandidat.

"Seberapa besar pengaruhnya itu tergantung seberapa jauh para kandidat mengatasi isu yang diajukan dalam sesi debat. Jadi tergantung kepada isu dan bagaimana para kandidat menanggapi isu itu," kata Komisaris Komisi Bantuan Pemilu AS itu

Hillman mengatakan debat capres maupun cawapres sangat bermanfaat dan informatif bagi warga AS.

Debat Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence dengan penantangnya dari Partai Demokrat Kamala Harris menarik 57,9 juta pemirsa televisi. Menurut data Nielsen yang dirilis Kamis (9/10), ini merupakan peningkatan yang cukup besar dari debat pra-pemilihan serupa pada 2016, seperti dilansir Reuters.

Angka penonton untuk debat pada Rabu malam di Salt Lake City termasuk orang-orang yang menonton di 18 jaringan. Penghitungan tersebut 36 persen lebih tinggi dari empat tahun lalu, ketika 37 juta orang menonton untuk melihat debat cawapres AS antara Mike Pence dan Tim Kaine dari Partai Demokrat.

Selama acara 90 menit yang sarat kebijakan, Pence dan Harris berselisih tentang penanganan pandemi virus Corona oleh pemerintahan Trump.
Debat calon wakil presiden biasanya menarik lebih sedikit penonton daripada debat antara capres.

Debat Presiden Donald Trump pada 29 September dengan penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden menarik 73 juta pemirsa, yang menjadi acara terbesar kedua di televisi AS tahun ini, setelah Super Bowl.

Baca juga: Donald Trump mungkin kalah kali ini
Baca juga: Debat final presiden AS akan dilengkapi fitur tombol "mute"
Baca juga: Telaah - Trump atau Biden?

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pengamat: Maslahat kemitraan strategis Indonesia dari Presiden Baru AS

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar