Dolar naik dari terendah 7 minggu saat paket bantuan corona diragukan

Dolar naik dari terendah 7 minggu saat paket bantuan corona diragukan

Uang dolar AS. ANTARA/Shutterstock/pri.

Pasar mulai sedikit lelah bolak-balik pada pembicaraan stimulus
New York (ANTARA) - Indeks dolar sedikit lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), menguat dari level terendah tujuh minggu ketika harapan paket bantuan virus corona menjelang pemilu AS memudar dan kasus COVID-19 melonjak di seluruh dunia, memberikan sedikit tawaran untuk aset aman seperti greenback.

Investor juga mencerna data baru klaim pengangguran AS yang menunjukkan penurunan lebih besar dari perkiraan, tetapi tetap pada level yang sangat tinggi di tengah memudarnya stimulus fiskal dan kebangkitan kembali virus corona.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi mengatakan pada Kamis (22/10/2020) bahwa negosiasi menuju RUU bantuan baru sedang berlangsung dan bahwa undang-undang dapat diselesaikan "segera."

Pembicaraan itu diragukan setelah Presiden Republik Donald Trump yang turun ke Twitter pada Rabu malam (21/10/2020) menuduh Demokrat tidak mau menemukan kompromi yang dapat diterima dan di tengah pertentangan mendalam di antara Senat Republik terhadap paket stimulus baru yang besar.

"Pasar mulai sedikit lelah bolak-balik pada pembicaraan stimulus," kata Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet.com, dikutip dari Reuters.

"Tampaknya saat ini kedua belah pihak tidak akan memberikan cukup konsesi sehubungan dengan pemilihan, yang sebenarnya masuk akal, sejauh kebutuhan mereka, untuk menyelesaikan kesepakatan," katanya.

Paket stimulus kemungkinan akan muncul ketika Trump berhadapan dengan saingan Demokrat Joe Biden pada Kamis malam waktu setempat dalam debat terakhir mereka menjelang pemungutan suara 3 November.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terakhir diperdagangkan di 92,932, naik 0,22 persen dan di atas posisi terendah Rabu (21/10/2020) di 92,469, yang menandai level terendah sejak 2 September, tetapi masih diperdagangkan bolak-balik dalam kisaran yang sempit.

“Kemungkinan besar bahwa kami akan mendapatkan lebih banyak berita buruk atau setidaknya tidak ada kabar baik dari sekarang hingga pemilu, mendorong investor keluar dari greenback,” kata Kathy Lien, direktur pelaksana di BK Asset Management.

Berita bahwa Eropa telah menyaksikan jumlah kasus virus corona melonjak ke rekor tertinggi, dengan Spanyol menjadi negara Eropa Barat pertama yang melampaui satu juta infeksi, menambah nada kehati-hatian di pasar dunia.

Euro 0,35 persen lebih tinggi terhadap dolar pada 1,1820 dolar, setelah mencapai tertinggi satu bulan di 1,18805 dolar pada Rabu (21/10/2020).

"Euro sangat kuat, mengingat peningkatan signifikan dalam kasus COVID-19 dan fakta bahwa ECB tidak akan punya pilihan selain menurunkan suku bunga," kata Lien.

Laporan PMI (indeks manajer pembeliam ) dari zona euro yang akan keluar pada Jumat dapat memicu pergerakan turun yang lebih agresif di euro, tambahnya.

Setelah mencapai tertinggi enam minggu pada Rabu (21/10/2020) di tengah optimisme Brexit, sterling mundur terhadap mata uang AS. Pound Inggris terakhir turun 0,47 persen pada 1,3082 dolar.

Dolar Australia melemah 0,01 persen terhadap greenback menjadi 0,7116 dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,44 persen menjadi 0,6680 dolar AS.

Di tempat lain, yuan China mundur dari level tertinggi 27 bulan sehari sebelumnya di tengah tanda-tanda pihak berwenang semakin waspada atas kenaikan cepat mata uang baru-baru ini. Yuan di luar negeri diperdagangkan terakhir pada 6,6710 per dolar.

Baca juga: Emas anjlok 25 dolar tertekan data pekerjaan AS dan penguatan dolar
Baca juga: Minyak berakhir lebih tinggi, didorong oleh harapan stimulus AS
Baca juga: Wall Street dibuka sedikit menguat setelah rilis data pengangguran AS

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar