Program pangan alternatif harus sentuh perekonomian nelayan daerah

Program pangan alternatif harus sentuh perekonomian nelayan daerah

Ilustrasi - Sejumlah kapal nelayan bersandar di sungai Wiso, Jepara, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/aww/pri.

Agar terjadi peningkatan ekonomi keluarga nelayan melalui diversifikasi usaha pangan perikanan
Jakarta (ANTARA) - Program pangan alternatif yang sedang digalakkan berbagai instansi terkait termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dinilai harus juga bisa menyentuh aspek kesejahteraan dari tingkat perekonomian nelayan di berbagai daerah.

"Agar terjadi peningkatan ekonomi keluarga nelayan melalui diversifikasi usaha pangan perikanan," kata Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim, di Jakarta, Jumat.

Mengenai permasalahan unit pengolahan perikanan yang tidak tersebar merata di Nusantara, Abdul Halim menyatakan bahwa hal tersebut merupakan pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

Ia menawarkan sejumlah solusi guna mengatasinya antara lain adalah dengan merencanakan pengembangan usaha pengolahan ikan yang tersebar di berbagai daerah, berikut dengan alokasi anggaran dan implementasi.

Selain itu, ujar dia, esensial pula untuk melaksanakan evaluasi terhadap berbagai program pelaksanaan sentra usaha perikanan.

Abdul Halim juga berpendapat, pengolahan pakan perikanan juga harus menyentuh berbagai jenis produk kelautan dan perikanan, bukan hanya rumput laut yang jumlahnya memang banyak ditemukan di kawasan perairan nasional.

Sebelumnya, KKP mendorong pengembangan berbagai komoditas sektor kelautan dan perikanan agar dapat menjadi pangan alternatif, seperti mie yang bisa dibuat dari bahan baku rumput laut.

"Sektor kelautan dan perikanan masih menyimpan banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi pangan alternatif," kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Artati Widiarti.

Menurut dia, pihaknya membuka kesempatan bagi masyarakat atau pelaku usaha lain untuk menerapkan atau mengembangkan inovasi para perekayasa.

Artati memastikan, tim PDSPKP siap mendampingi pelaku usaha, khususnya UMKM untuk ikut berinovasi."Total inovasi balai kita ada sekitar 291, kita terbuka bagi masyarakat yang ingin menerapkan," ucapnya.

Artati juga mengutarakan harapannya agar dengan semakin banyak hasil inovasi yang diterapkan, bisa mendukung sekaligus memperkuat tingkat ketahanan pangan nasional.

Sebagaimana diketahui, salah satu peserta program Inkubator Bisnis Inovasi Produk Kelautan dan Perikanan (Inbis Invapro KP) dari Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) Usup Supriatna, berhasil membuat produk mie kristal dari rumput laut.

Pada awal 2020, produk mie kristal rumput laut buatan Usup mulai masuk ke sejumlah pameran. Pemasaran produk tersebut semakin luas setelah diminati oleh klinik kesehatan untuk ditawarkan ke sejumlah pelaku diet serta adanya kerjasama dengan agen di Majalengka, Cianjur hingga Medan.

Bahkan saat pandemi COVID-19, masih menurut Usup, permintaan atas produknya tersebut semakin meningkat. Perhari, Usup bisa memproduksi hingga 500 potong.

Baca juga: Pengamat: Penguatan sentra perikanan Natuna prioritaskan nelayan lokal
Baca juga: UU Cipta Kerja dorong nelayan bentuk koperasi

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pertama di Sumatera, Palembang miliki pasar ikan modern

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar