Dolar meguat di tengah lonjakan kasus COVID, kekhawatiran stimulus AS

Dolar meguat di tengah lonjakan kasus COVID, kekhawatiran stimulus AS

Beberapa lembar uang seratus dolar AS di latar belakang uang kertas seratus dolar AS. ANTARA/Shutterstock/pri. (ANTARA/Shutterstock)

Dengan penurunan S&P, pasar semakin gelisah.
New York (ANTARA) - Dolar AS menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), naik untuk sesi kedua berturut-turut, didukung oleh tawaran safe haven di tengah melonjaknya kasus virus corona di Eropa dan Amerika Serikat serta kurangnya kemajuan pada paket stimulus Amerika Serikat.

Amerika Serikat, Rusia, dan Prancis mencetak rekor harian baru untuk infeksi baru COVID-19 ketika gelombang kedua membengkak di sebagian belahan bumi utara, memaksa beberapa negara untuk memberlakukan pembatasan baru. Spanyol mengumumkan keadaan darurat baru dan Italia telah memerintahkan restoran dan bar untuk ditutup pada pukul 18.00.

Baca juga: Dolar naik saat penyebaran virus, kebuntuan stimulus picu kewaspadaan

Mengenai stimulus, Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan pada Minggu (25/10/2020) bahwa dia mengharapkan tanggapan Gedung Putih pada Senin (26/10/2020) waktu setempat untuk rencana bantuan terbaru, tetapi hanya ada sedikit bukti bahwa kesepakatan sudah tercapai.

"Dengan penurunan S&P, pasar semakin gelisah," kata Amo Sahota, direktur eksekutif di perusahaan penasihat mata uang Klarity FX di San Francisco.

“Bahayanya jelas jika jumlah kasus terus meningkat seperti yang mereka alami dan kami harus memulai pembatasan tambahan, atau jam malam, atau penguncian di Amerika Utara, meskipun kami telah berulang kali diberitahu oleh pemerintah bahwa mereka tidak ingin melakukan itu," dia menambahkan.

Baca juga: Emas naik tipis saat kekhawatiran virus imbangi penguatan dolar AS

Media melaporkan bahwa vaksin Oxford/AstraZeneca telah terbukti berhasil pada orang tua dan bahwa staf di rumah sakit besar Inggris diberitahu untuk mempersiapkan secepatnya bulan depan, tidak cukup untuk meningkatkan sentimen.

Indeks yang melacak dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya terakhir naik 0,3 persen pada 93,052.

Euro, yang memiliki persentase kontribusi terbesar dari indeks dolar, turun 0,4 persen menjadi 1,1811 dolar. Mata uang tunggal tergelincir lebih awal setelah indeks iklim bisnis Ifo Jerman turun untuk pertama kalinya dalam enam bulan pada Oktober.

Dolar juga menguat 0,1 persen terhadap yen Jepang menjadi 104,87 yen.

Baca juga: Rupiah ditutup menguat tipis di tengah pelemahan mata uang Asia

Spekulan tetap menjual dolar AS, data terbaru dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas menunjukkan, meskipun jumlah kontrak jangka pendek menurun dalam beberapa minggu terakhir.

Investor juga meragukan ekspektasi penyisiran Demokrat dari Kongres AS.

“Salah satu permutasi adalah kemenangan Demokrat, tetapi tidak ada kendali Senat. Apakah sapuannya benar-benar biru atau ada yang lain?,” kata Sahota Klarity. "Jika kita tidak mendapatkan sapuan biru, maka stimulusnya tidak akan cukup besar."

Dolar AS naik 0,5 persen terhadap yuan China di pasar luar negeri menjadi 6,703, sebagai tanda kehati-hatian karena pemerintah China memulai diskusi tentang rencana lima tahun berikutnya.

Dolar Australia terakhir turun 0,1 persen pada 0,7137, sedangkan greenback naik 0,6 persen terhadap dolar Kanada menjadi 1,3203 dolar Kanada. Pound Inggris juga turun 0,1 persen terhadap dolar menjadi 1,3023 dolar.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

1.933 petugas TPS di Palangka Raya jalani tes cepat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar