Pemkab Purbalingga tingkatkan kesiapsiagaan antisipasi bencana

Pemkab Purbalingga tingkatkan kesiapsiagaan antisipasi bencana

Apel kesiapsiagaan antisipasi bencana di Kabupaten Purbalingga, Jateng, Selasa (27/10/2020). (FOTO ANTARA/HO - Humas Pemkab Purbalingga)

Purbalingga, Jateng (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah terus meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana pada saat musim hujan.

"Kesiapsiagaan terus ditingkatkan, semua elemen yang berkaitan dengan penanggulangan bencana sudah siap yakni meliputi personel hingga peralatan pendukung," kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Umar Fauzi di Purbalingga, Selasa.

Dia mengatakan bahwa Pemkab Purbalingga bersama TNI dan Polri, instansi vertikal, organisasi-organisasi, relawan, semua meningkatkan kesiapsiagaan dan meningkatkan fokus perhatian pada kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi.

"Yang menjadi perhatian utama pada puncak musim hujan adalah banjir, longsor serta angin kencang," katanya.

Dia menjelaskan berdasarkan data yang dihimpun BPBD Purbalingga diketahui bahwa sejak Januari hingga Oktober 2020 ada sebanyak 74 kejadian bencana di wilayah setempat.

"Yakni terdiri dari bencana banjir sebanyak 1 kejadian, angin kencang 18 kejadian, tanah longsor 33 kejadian dan kebakaran 22 kali kejadian," katanya.

Dia menambahkan apel kesiagaan dalam rangka antisipasi penanggulangan bencana alam di wilayah Kabupaten Purbalingga telah dilakukan.

"Apel telah dilakukan pada Selasa pagi diikuti Forkompinda, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, ORARI, PMI, DPU, dan Pramuka sebagai bentuk kesiapan serta koordinasi dan kerjasama antara pemerintah daerah, ormas serta seluruh lapisan masyarakat dalam penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten Purbalingga," kata Umar Fauzi.

Sementara itu Koordinator bidang bencana geologi Pusat Mitigasi (Pusmit) Universitas Jenderal Soedirman Dr. Indra Permanajati sebelumnya juga mengingatkan pentingnya melakukan upaya mitigasi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi pada saat pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

"Masyarakat perlu mewaspadai bencana hidrometeorologi saat musim peralihan, terutama mereka yang tinggal di lokasi rawan bencana," katanya.

Dia menjelaskan bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipengaruhi oleh fluktuasi keberadaan air yang ada di dalamnya termasuk curah hujan.

Bencana tersebut dapat meliputi banjir, tanah longsor, angin kencang dan sebagainya yang bisa dipengaruhi oleh perubahan musim, demikian Indra Permanajati .

​​​​​​​

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Wali Kota Tangerang sebut hampir memasuki gelombang ketiga COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar