Pertemuan Menteri Ketenagakerjaan ASEAN hasilkan sejumlah kesepakatan

Pertemuan Menteri Ketenagakerjaan ASEAN hasilkan sejumlah kesepakatan

Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI Anwar Sanusi (kanan). ANTARA/Muhammad Zulfikar/am.

komitmen untuk menyelesaikan terkait pekerja anak-anak
Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI Anwar Sanusi mengatakan pertemuan pejabat tingkat tinggi Kementerian Ketenagakerjaan se-ASEAN menghasilkan sejumlah kesepakatan terutama dalam merespon perubahan lingkungan strategis global ketenagakerjaan.

"Jadi tadi isu-isu yang kita bahas misalnya komitmen untuk menyelesaikan terkait pekerja anak-anak sampai 2025," kata dia pada kegiatan pertemuan tingkat Menteri bidang Ketenagakerjaan negara-negara ASEAN ke-26 di Jakarta, Rabu.

Pada pertemuan itu, lanjut dia, para perwakilan negara ASEAN bidang ketenagakerjaan juga menyoroti persoalan kesehatan dan keselamatan kerja. Tidak hanya itu, perlindungan terhadap pekerja migran juga menjadi topik yang dibahas.

"Kita juga membahas pendidikan vokasional. Jadi, pelatihan vokasional kita butuhkan sekali terutama meningkatkan kompetensi ketenagakerjaan di tingkat ASEAN ,"ujar dia.

Baca juga: Menaker Ida Fauziyah jabat Ketua Menteri Ketenagakerjaan se-ASEAN

Baca juga: Pertemuan Menteri Ketenagakerjaan se-ASEAN adopsi tiga dokumen penting


Secara umum, pada dasarnya ke depan peluang-peluang ketenagakerjaan terbuka lebar terutama yang berkaitan dengan negara-negara di ASEAN. Sebagai contoh, Jepang yang saat ini membutuhkan tenaga kerja di bidang kesehatan kemudian termasuk pula sektor teknologi informasi di beberapa negara lain.

Oleh sebab itu, Indonesia memiliki peluang mengirimkan tenaga kerja "non blue collar" seperti caregiver. Banyak lanjut usia di Jepang yang membutuhkan tenaga perawat.

"Ada satu yang menurut saya perlu dikembangkan yaitu talenta teknologi. Ya memang ini diinisiasi oleh Singapura, namun ke depan bagaimana ASEAN juga memanfaatkan kesempatan ini," katanya.

Oleh karena itu, ujarnya, ke depan perlu memproduksi tenaga ahli yang khusus di bidang teknologi informasi. Sebab, sektor tersebut memiliki potensi yang cukup luar biasa untuk masa depan.

Baca juga: Menaker minta mahasiswa siap bersaing di MEA

Baca juga: Menaker minta perusahaan pertimbangkan kompetensi dalam rekrutmen

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar