Keributan akibat kartun Nabi Muhammad, PBB serukan saling menghormati

Keributan akibat kartun Nabi Muhammad, PBB serukan saling menghormati

Seorang pengunjuk rasa membawa spanduk Menara Eiffel Prancis dan Masjid Nabawi Arab Saudi, dalam aksi protes mengecam majalah Charlie Hebdo Prancis yang menerbitkan ulang kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, di depan Kedutaan Prancis di Teheran, Iran, Rabu (9/9/2020). Majid Asgaripour/WANA (West /Asia News Agency) via REUTERS/NZ/djo (VIA REUTERS/WANA NEWS AGENCY)

New York (ANTARA) - Perwakilan Tinggi PBB untuk Aliansi Peradaban Miguel Angel Moratinos menyeru dunia untuk saling menghormati semua agama dan kepercayaan, guna mengembangkan budaya persaudaraan dan perdamaian.

Dalam sebuah pernyataan, Moratinos mengatakan dia mengikuti dengan keprihatinan mendalam akan meningkatnya ketegangan dan contoh intoleransi yang dipicu oleh majalah mingguan Prancis Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur satir yang menggambarkan Nabi Muhammad.

“Karikatur yang menghasut juga telah memprovokasi tindakan kekerasan terhadap warga sipil yang tidak bersalah, yang diserang karena agama, kepercayaan atau etnis mereka,” kata Moratinos.

Dia menggarisbawahi bahwa penghinaan terhadap agama dan simbol-simbol suci agama memprovokasi kebencian dan ekstremisme kekerasan, yang mengarah pada polarisasi dan fragmentasi masyarakat.

Kebebasan berekspresi harus dilakukan dengan cara yang sepenuhnya menghormati keyakinan agama dan prinsip semua agama, katanya.

"Tindakan kekerasan tidak dapat dan tidak boleh dikaitkan dengan agama, kebangsaan, peradaban, atau kelompok etnis apa pun," ujar Moratinos.

Awal bulan ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron menggambarkan Islam sebagai "agama dalam krisis" dan mengumumkan rencana undang-undang yang lebih keras untuk menangani "separatisme Islam" di Prancis.

Ketegangan semakin meningkat setelah kasus pemenggalan kepala seorang guru sekolah menengah, Samuel Paty, pada 16 Oktober di pinggiran Paris setelah dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad di salah satu kelasnya tentang kebebasan berekspresi.

Penyerangnya, Abdullakh Anzorov, seorang pria berusia 18 tahun asal Chechnya, kemudian ditembak mati oleh polisi.

Macron memberikan penghormatan kepada Paty, dan kartun yang dirilis oleh Charlie Hebdo juga diproyeksikan pada bangunan di beberapa kota.

Presiden Prancis membela karikatur itu, dengan mengatakan Prancis "tidak akan menghentikan kartun kami". Pernyataan itu memicu kemarahan di seluruh dunia Muslim.

Selain kecaman dari sejumlah negara termasuk Turki, Iran, dan Pakistan, ada seruan untuk memboikot produk, protes, dan serangan Prancis terhadap situs Prancis.


Sumber: Anadolu
Baca juga: Arab Saudi kecam kartun yang menghina Nabi Muhammad
Baca juga: Prancis tak berencana boikot balik produk Turki
Baca juga: Tujuh orang diserahkan dalam penyidikan kasus pembunuhan guru Prancis

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Prancis, antara duka Nice dan gempuran protes umat ​​Muslim

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar