Artikel

Inovasi dan transformasi era disrupsi bisnis gas bumi

Oleh Afut Syafril Nursyirwan

Inovasi dan transformasi era disrupsi bisnis gas bumi

Petugas PT PGN, Tbk memeriksa tekanan pada instalasi ‚"Metering Regulating Station" saat penyaluran gas bumi dalam bentuk "Compressed Natural Gas" (gas alam yang dikompresi) menggunakan teknologi GTM (Gas Transportation Module) atau Gaslink Truck untuk menyuplai Jargas Rumah Tangga di wilayah Semarang, Jawa Tengah, Kamis (16/4/2020). Pascagangguan pasokan dari Central Processing Plant (CPP) area Blok Gundih Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) ada Kamis (9/4/2020) lalu, PT PGN Tbk mengerahkan Gaslink Truck guna memastikan suplai jaringan gas di Kota Semarang dan Kabupaten Blora aman. ANTARA FOTO/Aji Styawan/aww. (ANTARA FOTO/AJI STYAWAN)

Jakarta (ANTARA) - Pepatah mengatakan, salah satu hal yang kekal adalah perubahan. Dengan adanya perubahan maka adaptasi akan dapat terus dilakukan untuk bertahan dalam segala hal. Layaknya penyesuain terhadap lingkungan, bisnis juga membutuhkan keluwesan pada tiap masanya untuk berkawan dengan zaman.

Baik kecil atau besar, setiap upaya ekonomi membutuhkan penyesuaian, termasuk bisnis padat modal minyak dan gas bumi (migas). Bisnis migas adalah hal klasik, namun memiliki risiko tinggi dalam investasi. Untuk keberlanjutannya dibutuhkan transformasi yang berkelanjutan dalam berbagai bidang.

Hal yang terjadi juga dirasakan oleh perusahan migas plat merah, yang mengelola gas. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai bagian dari Sub Holding gas Pertamina berkomitmen terus melakukan pengembangan infrastruktur pemanfaatan gas bumi. Hingga kini, PGN telah mengelola 96 persen infrastruktur gas bumi dan melayani lebih dari 417.000 pelanggan sektor industri komersial, rumah tangga, UMKM, pembangkit listrik, dan transportasi (SPBG).

Seiring dengan perluasan utilisasi gas bumi, PGN memiliki strategi tersendiri, yaitu menerapkan program Sapta PGN untuk memperkuat kinerja operasional dan melayani kebutuhan gas bumi secara terintegrasi. Belum lagi tantangan-tantangan pengelolaan bisnis gas bumi di era digital adalah tantangan tersendiri. Sektor ini juga memerlukan inovasi dalam melalui digitalisasi. Melihat zaman yang bergulir menuju peradaban baru, PGN melakukan transformasi digital dengan mengembangkan aplikasi digital untuk mendukung kegiatan operasional dan pencapaian visi misi perusahaan.

Hal itu dijelaskan oleh Direktur Komersial PGN Faris Aziz yang mengungkapkan bahwa PGN menggunakan model 4C (Change, Competitor, Company, dan Customer) untuk melakukan pemetaan dan merumuskan strategi transformasi digital yang bisa mendukung kinerja bisnis PGN. Namun dalam penerapan model 4C, PGN fokus pada value "Change” yang sangat relevan dengan transformasi digital.

“PGN memiliki Integrated Control System (ICS) yang mendukung operasional perusahaan. Dalam hal ini, ICS difokuskan pada operasional terkait dengan pelayanan gas bumi untuk seluruh pelanggan. Di mana pelayanan harus memberikan kepuasan bagi pelanggan, seiring dengan mindset atau kerangka berpikir pelanggan sudah berubah dalam penggunaan gas bumi. Adanya perubahan pola penggunaan gas oleh pelanggan, mengharuskan PGN melakukan penyesuaian untuk meningkatkan kepuasan pelanggan,” jelas Faris.

Baca juga: PGN garap lini bisnis penyaluran gas alam terkompresi ke konsumen

Faris mengungkapkan bahwa dengan menggunakan ICS, PGN melakukan otomatisasi dan digitalisasi sistem yang dapat mempersingkat waktu dan melakukan efisiensi dalam operasional cost.

ICS mengubah pengelolaan data manual menjadi online secara real time. Data diperoleh mulai dari stasiun gas bumi, masuk ke AMR, AVE semacam software yang berfungsi untuk menarik data dari divisi yang terhubung dengan pelanggan. Kemudian masuk ke dalam gas management application, di mana terdapat aplikasi-aplikasi digital yang dapat mempermudah pelanggan PGN maupun dari sisi PGN. Adapaun aplikasi-aplikasi tersebut di antaranya PGN Mobile, E-NOL, dan Sales Force.

Contoh aplikatif nyatanya adalah PGN Mobile, merupakan suatu aplikasi yang bebasis mobile tersedia di Google Play dan Appstore. Perangkat lunak ini menjadi kemudahan bagi para pelanggan gas PGN untuk mendapatkan informasi tentang tagihan, pemakaian gas, dan digunakan PGN untuk melakukan edukasi kegiatan promosi. Saat ini sekitar 25.943 pelanggan sudah menggunakan PGN Mobile, yang tersebar di berbagai wilayah.

Secara singkatnya, dalam PGN Mobile, pelanggan bisa mengakses informasi tentang tagihan bulanan, informasi pemakaian gas secara real time, dan detail pemakaian gas dilihat dari jam, harian, dan bulanan pada satu genggaman. Selanjutnya, E-NOL (Online GAS Agreement Management) adalah aplikasi untuk memproses persetujuan berlangganan gas atau amandemen pelanggan gas. Jadi, bagi masyarakat yang ingin menjadi pelanggan baru PGN, sudah bisa dilakukan online. Selain itu, pelanggan lama yang ingin mengubah ketentuan berlangganan, sudah bisa diubah melalui E-NOL.

Baca juga: Ini skenario bisnis PGN selama pandemi COVID-19

Dengan adanya E-NOL dapat mempercepat waktu pemrosesan, meminimalkan terjadinya human error, memudahkan dalam menelusuri dokuman, dan lebih ramah lingkungan karena paperless. Selanjutnya aplikasi Sales Force yang dipakai PGN sejak tahun 2018 untuk mencatat dan memonitor sales activity secara online dan terintegrasi. Alur Sales Force dimulai dari Sales Activity mulai dari advertise atau pengenalan produk dan bisnis PGN kepada pelanggan sampai dengan manage customer relationship.

Dari dua hal tersebut akan menghasilkan suatu dashboard yang menampilkan sales progress, real time sales, integrated sales, customer magement monitoring, dan progress penyambungan pipa gas. Aplikasi ini dapat diakses oleh Head Office Sales dan Sales Cost yang ada di area-area penjualan gas PGN.

Pada kesempatan lain, Direktur Teknologi dan Infrastruktur PGN Redy Ferryanto menambahkan selain aplikasi digital untuk kepentingan komersial dan terkait dengan pelanggan, PGN juga memiliki aplikasi digital untuk mensupport aspek operasional dan teknikal di perusahaan yaitu SCADA. Aplikasi SCADA berfungsi untuk melakukan monitong penyaluran gas bumi dan akuisisi data dari setiap stasiun gas bumi yang ada di seluruh Indonesia secara real time.

Dari SCADA juga bisa dilakukan proses maupun control dalam mengendalikan tekanan gas bumi dan pengendalian aliran gas. Redy menjelaskan, SCADA berguna pada sisi safety, karena bisa digunakan dalam penanganan ketika terjadi emergency shutdown valve dan gangguan teknis lainnya.

Kemudian, PGN memiliki aplikasi SIPGAS (Sistem Informasi Penyaluran Gas) atau Gas Management system yang berisi data-data seperti volume, temperature, nilai kalori, komposisi, tekanan gas, dan sebagainya untuk memudahkan Tim Teknis PGN dalam memonitor pergerakan gas bumi dan infrastruktur penunjangnya.

"DIGIO (Digital Infrastrukture Geophical Information System) merupakan salah satu aplikasi pemetaan digital yang membantu kami dalam pemetaan infrastruktur gas bumi. Kita bisa melihat pipa transmisi dan distribusi, sehingga sangat membantu dalam melakukan monitoring dan kegiatan operation and maintenance infrastruktur gas,” jelas Redy.

Baca juga: PGN raih penghargaan se-ASIA

Bagi PGN, transformasi digital merupakan hal yang penting untuk keberlanjutan bisnsi perusahaan ke depannya. Secara berkelanjutan, PGN terus mengembangkan inovasi berbasis digital dalam menjalankan bisnis gas bumi seiring dengan kemajuan teknologi. Mengingat aspek penguasaan teknologi menjadi salah satu pondasi utama untuk keberhasilan pemanfaatan gas bumi di seluruh sektor.

Baca juga: PGN dorong perekonomian daerah dari proyek pipa minyak Blok Rokan

Oleh Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

PGN siap dukung pemerintah turunkan harga gas industri

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar