Batas waktu maksimal gunakan botol air kemasan sekali pakai

Batas waktu maksimal gunakan botol air kemasan sekali pakai

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Pertimbangkanlah sebelum Anda menggunakan kembali botol air kemasan berbahan plastik selama beberapa hari, karena penelitian menunjukkan ada risiko bakteri tumbuh di permukaan botol plastik yang digunakan lebih dari sehari.

"Setelah dua hari atau lebih, koloni mikroorganisme akan membentuk biofilm, mirip dengan cara teritip menempel di perahu," kata profesor mikrobiologi dan patologi di NYU Langone, Philip Tierno seperti dilansir dari Livestrong, Senin.

Baca juga: Khawatir bakteri, Mondelez tarik biskuit di AS

Baca juga: Kapan harus ganti spons cuci piring?


Lapisan biofilm berlendir ini bisa terdiri dari bakteri di mulut (plak pada gigi Anda sebenarnya adalah sejenis biofilm), yang juga berpotensi mengandung patogen yang ditularkan melalui air serta kuman dari tangan Anda yang mencemari air saat Anda membuka tutup botolnya.

Lalu, saat minum, mulut Anda mungkin bersentuhan dengan permukaan luar botol yang mengandung kuman.

"Anda bisa mengisi ulang botol sesering yang Anda mau selama 24 jam, tapi kemudian buanglah (botol itu)," kata Tierno.

Pernyataan ini didukung studi dalam Journal of Exercise Physiology pada Agustus 2018 yang menemukan, 90 persen botol yang sudah dipakai mengandung patogen, termasuk E. coli.

"Anda juga dapat menemukan organisme lain seperti salmonella dan norovirus. Meskipun organisme ini mungkin tidak dengan sendirinya menyebabkan infeksi, tetapi potensialnya selalu ada," ujar Tierno.

Baca juga: Berapa lama masa pakai aman barang-barang rumah tangga ini?

Baca juga: Botol baru dicuci, jangan langsung diisi air


Laman Mayo Clinic mencatat, bakteri E.coli yang umumnya hidup di usus kebanyakan tidak berbahaya namun beberapa tipenya seperti O157:H7, bisa menyebabkan seseorang diare berdarah, muntah dan kram perut.

Lalu, di masa pandemi COVID-19 saat ini, maka Anda disarankan tindakan pencegahan ekstra.

Saat Anda meletakkan botol air di atas permukaan umum yang dipenuhi bakteri, kemudian membawanya melewati seseorang yang sedang berbicara atau batuk dalam perjalanan, Anda berisiko terkontaminasi patogen.

"Gunakan lap untuk membersihkan bagian luar botol, sama seperti Anda menggunakan ponsel Anda," kata Tierno.

Tierno tidak merekomendasikan Anda mencuci botol sekali pakai untuk membersihkan biofilm dan kuman lainnya apalagi jika sudah lebih dari 48 jam.

"Plastik tipis yang digunakan dalam botol sekali pakai memiliki lekukan, celah yang tidak memungkinkan Anda untuk menghilangkan biofilm. Faktanya, kebanyakan botol memiliki label yang bertuliskan, 'jangan digunakan kembali,'" ujar dia.

Dibandingkan botol plastik, botol logam atau kaca yang dapat digunakan kembali jauh lebih mudah dibersihkan karena permukaannya yang cenderung rata dan halus.


Risiko lain
Di sisi lain, ada kekhawatiran penggunaan kembali botol sekali pakai akan meningkatkan jumlah senyawa beracun yang merembes dari plastik ke dalam air Anda.

Sebagian besar botol air sekali pakai terbuat dari polietilen tereftalat (PET ditandai dengan angka 1 di dalam simbol daur ulang). Meskipun ekstrak PET tingkat toksisitasnya rendah atau tidak sama sekali, namun menurut sebuah studi pada Agustus 2019 di Environmental Science & Technology, mencatat bahan ini mengandung beberapa zat yang mengkhawatirkan.

Anda tidak disarankan mencuci botol air plastik di mesin pencuci piring atau air panas sebelum diisi ulang.

Sebuah studi dalam jurnal Environmental Pollution pada September 2014 menemukan, tindakan memanaskan botol air sekali pakai hingga sekitar 70° Celcius selama satu minggu secara signifikan meningkatkan pelepasan BPA dan antimony.

BPA atau bisphenol-A bisa menganggu endokrin, yang berarti dapat mengganggu hormon tubuh.



Baca juga: Bottle2Fashion, inisiatif pemanfaatan botol plastik untuk fesyen

Baca juga: Tren "Blue Beauty", sampah plastik pesisir disulap jadi botol kemasan

Baca juga: Bandara San Francisco-AS larang penjualan botol air plastik

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar