LPEM UI: Kualitas buah perlu perhatian khusus untuk tingkatkan ekspor

LPEM UI: Kualitas buah perlu perhatian khusus untuk tingkatkan ekspor

Manggis yang berasal dari para petani di Indonesia dijual pedagang di Pasar Zuojiazhuang, Beijing. Manggis salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia ke China dalam tiga tahun terakhir. ANTARA/M. Irfan Ilmie/pri.

Kuncinya ada pada peningkatan kualitas buah lokal kita serta semua orang harus terus mengkampanyekan makan buah nusantara
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Riyanto menilai peningkatan kualitas buah perlu mendapat perhatian khusus, termasuk dari kalangan pengusaha dalam mendorong peningkatan eskpor buah lokal.

Di tengah melemahnya ekonomi nasional akibat pandemi COVID-19, permintaan sub sektor pertanian pada komoditas hortikultura seperti sayur dan buah segar justru mengalami peningkatan.

"Kuncinya ada pada peningkatan kualitas buah lokal kita serta semua orang harus terus mengkampanyekan makan buah nusantara," kata Riyanto di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan data BPS, tren produksi buah-buahan lokal pada kurun waktu 4 tahun terkonfirmasi meningkat cukup signifikan. Pada 2019, produksi buah-buahan lokal mencapai 22,5 juta ton atau naik 4,8 persen jika dibandingkan 2018.

Bahkan, buah-buahan menjadi komoditas terbesar ketiga setelah kopi dan tanaman obat dengan nilai ekspor kurang lebih mencapai 140.228 dolar AS.

Sejak 2006, Kementan fokus melakukan pengembangan buah-buahan unggul di seluruh daerah. Kegiatan ini meliputi pengembangan kawasan dan pendampingan penerapan budidaya sesuai dengan kaidah Good Agriculture Practice (GAP). Di samping itu, Kementan juga terus memfasilitasi para petani dengan sarana prasarana pascapanen hingga proses pengolahan dan pemasaran.

Baca juga: Pemerintah catat ekspor buah lokal selama pandemi meningkat tajam

Baca juga: Pemerintah dorong ekspor buah lokal untuk pemulihan ekonomi


Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Sujarwo mengatakan bahwa langkah pemerintah sudah cukup bagus dalam mengembangkan potensi buah dan sayur lokal.

Namun, pemerintah juga harus membuka informasi dan promosi buah segar secara luas. Langkah ini penting dilakukan agar masyarakat memiliki geliat tanam serta pengetahuan lebih pada subsektor sayur dan buah segar.

Apalagi, kata Sujarwo, persepsi masyarakat tentang pengetahuan buah lokal sejauh ini masih kurang baik. Oleh karena itu, "branding" buah lokal sangat penting dilakukan untuk menunjang kejelasan fungsi bagi kesehatan, sehingga mengarah pada "functional food".

"Pandemi COVID-19 ini sebenarnya momentum untuk Kementerian Pertanian agar terus menyuarakan buah-buahan lokal dan membrandingnya lebih bergengsi," kata dia.

Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian Liferdi Lukman mengatakan bahwa peluang bisnis buah dan sayur lokal masih tergolong tinggi, terutama di pasar lokal bahkan internasional.

Saat ini, buah-buahan yang mengalami lonjakan permintaan di antaranya jambu biji, jeruk lemon dan alpukat. Hal ini dikarenakan buah-buahan tersebut dikenal kaya serat, vitamin C,E, dan antioksidan.

"Buah-buahan tersebut banyak diproduksi oleh petani-petani kita dan penjualan buah hingga kini masih tinggi. Tentunya akan dapat membantu para petani di tengah kondisi pandemi ini," kata Liferdi.


Baca juga: Menristekdikti ingin ada standar untuk buah nusantara

Baca juga: Presiden tugasi IPB garap potensi buah nusantara

 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sumsel ekspor perdana 150 ton kelapa ke Thailand

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar