Pengamat : Perang data dan fakta di debat perdana Pilkada Surabaya

Pengamat : Perang data dan fakta di debat perdana Pilkada Surabaya

Debat publik perdana Pilkada Surabaya 2020 yang digelar KPU Surabaya, Rabu (11/4/2020) malam. (FOTO ANTARA/HO-Paksi-KPU Surabaya)

Surabaya (ANTARA) - Pengamat Politik Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdussalam menilai debat publik perdana Pilkada Surabaya 2020 yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat pada Rabu (4/11) malam menampilkan perang data dan fakta.

"Pak Machfud (Cawali Surabaya Machfud Arifin) mencoba memancing emosi Pak Eri (Cawali Surabaya Eri Cahyadi) dan membuat Pak Eri kesulitan menjawab pertanyaannya. Namun serangan itu tak tercapai, karena Pak Eri menjawabnya dengan kalem dengan disertai data-data," kata Surokim di Surabaya, Kamis.

Ia mencontohkan pada saat pasangan calon Machfud-Mujiaman berulang kali menyampaikan data jumlah korban meninggal dunia karena COVID-19, kemudian dijawab oleh Eri Cahyadi dengan mengungkapkan data bahwa secara umum penanganan COVID-19 di Surabaya sudah sesuai jalur.

"Pak Eri menjawab bahwa kasus aktif sekarang 79 orang, sedangkan yang meninggal dunia karena ada komorbid atau penyakit bawaan. Kemudian yang sembuh juga semakin bertambah dengan data yang lengkap. Terlihat Pak Eri bisa menahan emosi di panggung dan mematahkan serangannya Pak Machfud. Pak Eri kuat di data, lebih menguasai data," katanya.

Selain itu, Machfud menilai penanganan COVID-19 di Surabaya tidak terintegrasi sejak awal sehingga korban kasus COVID-19 di Surabaya mencapai 1.160 orang dan masuk zona hitam. Bahkan di tingkat RT juga tak terkoordinasi dengan baik, sehingga ada RT yang sampai nombok Rp30 juta untuk biaya menangani COVID.

Namun Eri Tidak memungkiri bahwa berdasarkan data Satgas COVID-19 terdapat 16 ribu terkonfirmasi positif dan 1.071 di antaranya meninggal dunia. Namun ia menyangkal bahwa penanganan COVID-19 di Surabaya tidak terintegrasi karena angka kesembuhan mencapai 15 ribu pasien dan terus meningkat.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut menilai gaya Eri tidak dibuat-buat, tampil kalem apa adanya. Sedangkan Armuji tampil dengan karakter khas Arek Suroboyo. Sedangkan MA dan Mujiaman bergaya ofensif.

Surokim juga tidak mengelak bahwa apa yang disampaikan Eri Cahyadi terkesan sebagai petahana, dan memuji Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, sedangkan Machfud berada di posisi penantang. Kendati demikian, sikap tersebut justru menjadi poin positif bagi Eri Cahyadi-Armuji karena nama besar Risma yang masih disukai masyarakat Kota Pahlawan.

"Kepuasan warga terhadap Bu Risma semakin meningkat, yakni dari 82 persen menjadi 90 persen," katanya mengutip hasil riset terbaru.

Pada debat berikutnya, Surokim berharap masing-masing paslon bisa menyajikan data-data yang akurat tidak sekadar pernyataan-pernyataan pandangan mata.

"Secara keseluruhan, pada debat pertama ini sudah menarik dan positif. Dibanding debat pertama yang diikuti daerah lain, Surabaya yang paling menarik," katanya.

Diketahui Pilkada Surabaya 2020 diikuti pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Armuji. Paslon nomor urut 01 tersebut diusung oleh PDI Perjuangan dan didukung oleh PSI. Selain itu mereka juga mendapatkan tambahan kekuatan dari enam partai politik non parlemen, yakni Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Hanura, Partai Berkarya, PKPI, dan Partai Garuda.

Sedangkan pasangan Machfud Arifin-Mujiaman dengan nomor urut 02 diusung koalisi delapan partai yakni PKB, PPP, PAN, Golkar, Gerindra, PKS, Demokrat dan Partai Nasdem serta didukung partai non-parlemen yakni Partai Perindo.

Pewarta: Abdul Hakim
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kemeriahan debat pilkada bisa jadi ancaman

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar