MPR: Pengembangan batik perkuat diplomasi Indonesia

MPR: Pengembangan batik perkuat diplomasi Indonesia

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. ANTARA/Benardy Ferdiansyah.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai pengembangan eksistensi batik sebagai bentuk pengakuan dunia harus bisa dimanfaatkan secara maksimal bagi kepentingan bangsa khususnya dalam memperkuat diplomasi Indonesia.

Menurut dia, pengakuan batik sebagai warisan budaya non-bendawi oleh UNESCO harus dilihat sebagai bentuk pengakuan dunia terhadap ciri khas sekaligus kedaulatan bangsa dan budaya Indonesia.

"Eksistensi batik di kancah dunia saat ini tidak terlepas dari proses diplomasi panjang yang dilakukan para diplomat kita," kata Lestari Moerdijat atau Rerie dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Rerie: Jadikan Hari Batik Nasional momentum kebangkitan produk lokal

Hal itu dikatakan Rerie saat berbicara secara daring kepada peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Kamis.

Dia mengatakan sebelas tahun lalu, pada 2 Oktober 2009, UNESCO sebagai organisasi kebudayaan dunia telah menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia.

Menurut Rerie, pengakuan dunia terhadap batik itu harus bisa dimanfaatkan secara maksimal bagi kepentingan bangsa, apalagi batik sebagai karya budaya anak bangsa juga berperan dalam proses menuju dan mengisi kemerdekaan.

"Sejumlah motif seperti Batik Jawa Hokokai mengadopsi motif-motif khas bernuansa Jepang berbentuk bunga-bunga, dengan tujuan diplomasi," ujarnya.

Baca juga: Kemlu perkuat tonggak perjalanan diplomasi batik

Dia menjelaskan, produksi batik dengan motif Jawa Hokokai di masa lalu diproduksi sebagai salah satu cara agar memperlancar komunikasi dengan pihak Jepang.

Menurut dia, upaya diplomasi dengan memanfaatkan batik dilanjutkan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT APEC pada 1994 dengan menjadikan batik sebagai pengganti pakaian resmi pada acara tersebut.

"Pola diplomasi serupa pun dilanjutkan hingga saat ini," katanya.

Menurut Rerie, selain bisa digunakan untuk kepentingan diplomasi, batik juga bisa menjadi penguat sektor ekonomi. Oleh karena itu, dia menilai, industri batik melibatkan ribuan tenaga kerja pada industri terkait dari hulu ke hilir.

"Antara lain produsen malam, canting, kain, perajin hingga distribusi dan pemasaran," ujarnya.

Baca juga: Batik tampil dalam pameran fesyen New York di tengah pandemi

Rerie menilai penguatan sektor ekonomi berperan penting bagi eksistensi sebuah negara bahkan saat ini ada kecenderungan perang bukan semata memperebutkan teritori atau wilayah namun dalam bentuk perang dengan tujuan penguasaan ekonomi.

Menurut dia, salah satu yang harus diupayakan adalah bagaimana batik menarik bagi investor, tanpa menghilangkan jati diri batik secara budaya sehingga investor tidak melulu mengikuti selera pasar.

"Keterlibatan investor dalam pengembangan batik diharapkan mampu meningkatkan eksistensi batik lebih luas lagi," kata Rerie.

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Sore

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar