Tiga kapanewon di Gunung Kidul masih butuh distribusi air bersih

Tiga kapanewon di Gunung Kidul masih butuh distribusi air bersih

Dokumen: Perempuan di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengisi jerigen dengan air bersih yang disalurkan oleh Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM-BRI) untuk membantu warga terdampak kekeringan pada kemarau 2019. (FOTO ANTARA/HO-YBM-BRI)

Tiga kapanewon berada di wilayah utara yang intensitas hujannya masih rendah
Gunung Kidul (ANTARA) - Tiga kecamatan/kapanewon di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih membutuhkan distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, meski wilayah ini sudah diguyur hujan dengan intensitas sedang pada awal Oktober 2020.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul Edy Basuki di Gunung Kidul, Senin, mengatakan tiga kecamatan/kapanewon yang masih membutuhkan distribusi air bersih, yakni Kapanewon Semin, Ngawen dan Gedangsari.

"Tiga kapanewon berada di wilayah utara yang intensitas hujannya masih rendah dibandingkan wilayah selatan sehingga menyebabkan sumber air wilayah tersebut belum mengalir secara maksimal," kata Edy.

Baca juga: Sekitar 129.788 jiwa di Gunung Kidul terdampak kekeringan

Sementara di Kapanewon Rongkop dan Girisubo yang biasanya menjadi langgaran distribusi air meski ada hujan, pada tahun ini sudah tidak mengajukan permohonan lagi sejak pertengahan Oktober. Hal ini dikarenakan curah hujan di sana sudah meningkat sehingga tampungan air warga pun terisi.

"Kapanewon Rongkop dan Girisubo sudah tidak ada lagi permohonan. Curah hujan di sana sudah meningkat sehingga tampungan air warga pun terisi," katanya.

Edy mengatakan masa distribusi air pada 2020 ini lebih pendek dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2019 dimulai sekitar Mei, maka 2020 ini distribusi air baru dimulai pada Juli akhir.

Baca juga: BPBD Gunung Kidul prediksi warga terdampak kekeringan 101.181 jiwa

Tahun lalu juga distribusi air baru berhenti di pertengahan Desember, sedangkan tahun ini awal Oktober sudah banyak dihentikan.

"Kami memperkirakan diatribusi air bersih akan dihentikan awal November ini. Prediksi curah hujan di Gunung Kidul sudah mulai merata, terutama ke wilayah yang sebelumnya mengalami kekeringan," katanya.

Sementara itu, Panewu Anom/Sekretaris Kecamatan Rongkop Agus Pramuji mengatakan distribusi air bersih terakhir dilakukan pada 9 Oktober 2020. Ada lima dusun yang saat itu menerima distribusi air terakhir.

Baca juga: Pemkab Gunung Kidul tetapkan status tanggap darurat kekeringan

"Dusun tersebut berada di Kalurahan Melikan, Bohol dan Pringombo," kata Agus.

Ia menjelaskan dihentikannya distribusi air lantaran wilayah Rongkop secara keseluruhan sudah hujan. Alhasil, kebutuhan air warga pun sudah tercukupi dari tampungan air yang dimiliki.

"Jumlah pengiriman air bersih tahun ini lebih sedikit ketimbang tahun sebelumnya. Begitu juga dengan rentang waktu pengiriman. Saat ini, beberapa pedukuhan sudah tersambung dengan pipa PDAM, jadi kebutuhan air terbantu dari situ," katanya.

Baca juga: ACT salurkan bantuan warga terdampak angin kencang di Gunung Kidul

 

Pewarta: Sutarmi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BPBD Magelang salurkan 189 tangki air bersih ke daerah kekeringan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar