Rektor UI ajak doakan nakes yang gugur tangani COVID-19

Rektor UI ajak doakan nakes yang gugur tangani COVID-19

Rektor UI Prof. Ari Kuncoro. ANTARA/Feru Lantara.

Depok (ANTARA) - Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Ari Kuncoro mengajak civitas akademika UI agar menundukkan hati untuk hening cipta sejenak pada momentum peringatan Hari Pahlawan Nasional mengenang jasa para pahlawan dan pendahulu kita, serta tenaga kesehatan yang gugur dalam penanganan COVID-19.

"Mari kita bersama-sama mengenang jasa para pahlawan dan pendahulu kita, serta tenaga kesehatan yang gugur dalam penanganan COVID-19. Kita doakan pula keselamatan tenaga medis, tenaga kesehatan dan pemerintah yang bertugas menangani pandemi COVID-19," kata Prof. Ari Kuncoro dalam keterangannya, Selasa.

Prof. Ari menyampaikan pesan agar civitas akademika UI, khususnya para mahasiswa, dapat menjadi pahlawan generasi di zamannya.

Baca juga: Presiden pimpin Upacara Ziarah Nasional di TMP Kalibata

Prof. Ari menuturkan sebagai pemuda bangsa, mahasiswa UI diharapkan mampu menjadi pahlawan generasi muda yang memiliki semangat berprestasi, kreatif dan inovatif, tidak melakukan provokasi yang merusak ketertiban umum, tidak mudah terprovokasi hoaks, mau menjalankan aksi nyata untuk persatuan kesatuan bangsa, dan menjaga kebinekaan dan toleransi.

Sebagai kampus yang mengusung nama besar Indonesia, UI berkomitmen hadir sebagai laboratorium pluralisme yang menjunjung tinggi kebinekaan. Civitas akademika UI yang mayoritas adalah pemeluk Agama Islam, maka umat Islam di UI dapat menjadi inspirasi bagi tumbuhkembangnya kehidupan kampus yang moderat, toleran, dan inklusif.

Salah satu upaya mewujudkan hal tersebut, sejak awal kepemimpinannya, Prof. Ari telah mensinergikan empat lembaga/elemen di UI untuk mengimplementasikan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil’alamiin. Keempat elemen tersebut adalah Mata Kuliah Agama Islam, Masjid, Makara Art Center, dan Asrama Mahasiswa.

Ia mengatakan Indonesia lahir atas perjuangan para pahlawan yang mengusung keberagaman dan perbedaan. Berbeda dengan perjuangan para pahlawan terdahulu yang berperang dengan mengangkat bambu runcing maupun senjata.

Maka saat ini, kita berperang dengan permasalahan bangsa, sebut saja perang menghadapi tantangan dan permasalahan akibat pandemi COVID-19. Juga, berperang melawan kemiskinan, narkoba, bencana alam, serbuan informasi hoaks, dan munculnya paham-paham radikal dan sikap intoleran.

Baca juga: Enam lagu wajib nasional yang didaur ulang

Untuk itu, Prof. Ari berharap agar peringatan Hari Pahlawan kali ini bukan hanya seremoni semata, melainkan menjadi momentum untuk memaknai peran kita dalam menjaga keutuhan NKRI yang telah dibangun oleh para pahlawan dan segenap pendahulu negeri ini.

“Saya mengutip pesan Pahlawan Nasional Moh. Hatta sebagai berikut: Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.

"Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi. Untuk itu, mari kita bersama-sama membangun kehidupan kampus yang moderat, toleran, dan inklusif,” ujar Prof. Ari.

Baca juga: Menteri Sosial menggelorakan semangat kepahlawanan masa kini
Baca juga: Sri Mulyani ajak jajaran Kemenkeu jadi pahlawan atasi pandemi
Baca juga: Meneladani Pahlawan

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Strap masker berbahaya, Epidemiolog UI sarankan ini

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar