Telaah

Assesmen Nasional dan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara

Oleh Nanang Sumanang *)

Assesmen Nasional dan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara

Ilustrasi - Pelajar mengamati Globe di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (18/2/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyiapkan program Merdeka Belajar yang didalamnya memuat kemampuan literasi, numerasi dan penguatan pendidikan karakter guna peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/ama.

Merdeka Belajar terdapat kemandirian dan kemerdekaan bagi lingkungan pendidikan menentukan sendiri cara terbaik dalam proses pembelajaran
Jakarta (ANTARA) - "Sukaning Indria gapuraning rahayu". Senang membaca adalah kunci menuju bahagia. Berawal dari adanya jurang yang cukup tinggi dari hasil Ujian Nasional di antara sekolah-sekolah di Indonesia.

Hasil Programme for International Student Assement (PISA) dari tahun ke tahun (selama10-15 tahun) tidak menunjukkan adanya kenaikan peringkat yang signifikan.

Serangan pandemi COVID-19 yang mengakibatkan adanya perubahan-perubahan sangat mendesak dalam kegiatan pembelajaran, membuat pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengambil keputusan bahwa mulai tahun 2021 Ujian Negara ditiadakan, dan akan diganti dengan Assesmen Nasional (Rabu, 7 Oktober 2020).

Menurut Nadiem, amanat konstitusi adalah pemerintah wajib mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan cuma mencerdaskan segelintir siswa yang berada pada sekolah-sekolah favorit yang sebagian besar berada di Pulau Jawa.

Hasil UN tidak berpengaruh banyak terutama terhadap peningkatan peringkat PISA. Seperti diketahui , PISA adalah metode penilaian internasional, yang merupakan hasil survei evaluasi sistem pendidikan di dunia yang mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah (akhir wajib belajar).

Penilaian yang dilakukan setiap tiga tahun sekali ini guna evaluasi atas pemahaman siswa terhadap teks bacaan (literasi), matematika (numerasi), dan sains. Hasil score PISA tahun 2018 yang dirilis The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yang diikuti 600 ribu anak berusia 15 tahun berasal dari 78 negara, hasil rata-ratanya menempatkan Indonesia pada peringkat ke 71, dengan rincian untuk Matematika urutan 72, sains ke-70, dan membaca ke-72.

Padahal score PISA untuk Provinsi D.I. Yogyakarta dan DKI Jakarta cukup tinggi. Hal ini menandakan bahwa memang ada ketimpangan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.

Yang perlu dipahami bersama bahwa Assesmen Nasional bukan seperti Ujian Nasional, di mana setiap anak wajib mengikutinya pada mata pelajaran tertentu, apalagi untuk menghakimi guru atau membuat peringkat sekolah.

Assesman Nasional yang terdiri atas Assesmen Kompetensi Minimum (AKM) meliputi asesmen literasi dan numerasi, survei karakter, dan survei lingkungan belajar hanya akan diikuti beberapa murid sebagai sampel, yang diambil secara random (acak), dari kelas 4, 8, 11.

Kata kunci Assesmen Nasional ini upaya pemerintah memotret input, proses, serta output dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan, terutama penguasaan literasi dan numerasi, serta survei karakter murid.

Hasil dari pemotretan ini nantinya digunakan pemerintah serta guru untuk mendiagnosis masalah dan perencanaan perbaikan pembelajaran oleh guru, kepala sekolah, dan Dinas Pendidikan.

Baca juga: Merdeka Belajar episode keenam terobosan akselerasi Kampus Merdeka

Mengapa literasi dan numerasi, survei karakter, dan lingkungan belajar menjadi sangat penting untuk diukur bagi murid? Karena literasi dan numerasi merupakan dua kompetensi minimum bagi murid untuk belajar sepanjang hayat dan berkontribusi kepada masyarakat.

Literasi di sini bukan hanya kemampuan membaca, tetapi kemampuan menganalisis suatu bacaan, dan memahami konsep di balik tulisan tersebut, sedangkan kompetensi numerasi berarti kemampuan menganalisis menggunakan angka.  Survei karakter bertujuan mengembangkan semua potensi murid secara utuh dan mengembangkan perilaku murid yang pancasilais.

Dari bacaan di atas sangat jelas bahwa pengertian Literasi yang hendak dicapai adalah murid bukan hanya mampu membaca teks yang tertulis, tetapi juga memahami konteks, latar belakang di balik teks. Atau membaca lebih luas lagi adalah membaca diri, membaca tertulis, membaca alam, membaca gejala sosial dan lain sebagainya.

Literasi, asesmen numerasi, dan survei karakter diharapkan bisa menumbuhkembangkan semua potensi murid, yang ujungnya pada kontribusi murid terhadap lingkungannya, dan pada akhirnya murid akan mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Pepatah Sunda mengatakan “Sukaning indria gapuraning rahayu” bahwa membaca (dalam arti yang luas) itu kunci kebahagiaan.

Kemendikbud sudah berusaha agar ada peningkatan kualitas murid-murid dengan cara memulai dengan sosialisasi pembuatan soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills), pelatihan-pelatihan untuk guru-guru, dan  mengujicobakan dalam Ujian Nasional tahun 2018 yang soalnya menggunakan HOTS.

Baik soal HOTS maupun PISA, keduanya berdasarkan Taksonomi Bloom yang dibuat Benyamin Bloom, di mana Bloom membagi tingkatan kemampuan berpikir ke dalam tingkatan Lower, Middle, dan Higher Order Thinking Skills.

Dalam menghadapi Assesmen Nasional, bagi guru yang paling penting cara berpikir yang tidak terikat pada satu pola atau satu disiplin. Karena fokus pada literasi, numerasi, karakter sebenarnya ujung-ujungnya interdisipliner, dan itulah arah pendidikan saat ini dan realitas dunia yang kita hadapi (Iwan Syahril, 3/6/2020).

Dalam pertemuan dengan Komisi X DPR RI  pada 27 Agustus 2020, Nadiem Makarim memperkenalkan program Merdeka Belajar yang disebutnya paling tepat digunakan sebagai filosofi perubahan dari metode pembelajaran yang terjadi selama ini.

Sebab, dalam Merdeka Belajar terdapat kemandirian dan kemerdekaan bagi lingkungan pendidikan menentukan sendiri cara terbaik dalam proses pembelajaran. Merdeka Belajar diilhami oleh filsafat Ki Hadjar Dewantara mengenai dua konsep kemerdekaan dan kemandirian.

Baca juga: Kemendikbud dorong pelaksanaan Merdeka Belajar saat pandemi COVID-19

Empat pokok dalam Merdeka Belajar, pertama, USBN dilaksanakan masing-masing sekolah untuk menguji kompetensi murid, kedua, sebagai pengganti UN akan diadakan dengan Assesmen Nasional, ketiga, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disederhanakan, dan keempat, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan zonasi (Laman Kemdikbud.go.id, 11 Desember 2019).

Yang menarik dari pernyataan Nadiem bahwa Merdeka Belajar terinspirasi Ki Hadjar Dewantara, terutama tentang kemerdekaan dan kemandirian dalam pembelajaran.

Latar belakang Ki Hadjar Dewantara yang hidup dan melawan panjajahan akhirnya membentuk filosofi pendidikan. Ki Hadjar Dewantara menempatkan kemerdekaan sebagai syarat dan tujuan membentuk kepribadian dan kemerdekaan batin Bangsa Indonesia agar peserta didik selalu kokoh berdiri membela perjuangan bangsa.

Baginya, makna pendidikan harus bisa memerdekakan manusia dalam aspek lahiriah (kemiskinan dan kebodohan), maupun batiniah (kemerdekaan untuk berpikir, mengeluarkan pendapat, memandang orang lain sederajat, bermartabat, dan sebaginya).

Untuk mencapai tujuan merdeka tersebut, Ki Hadjar Dewantara mengubah sikap perilaku terlebih dahulu dari Satria Pinandita ke Pinandita Satria, yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara (I Made Sugiarta dkk, 2019).

Selain Pinandita Satria, guru juga harus bisa melaksanakan Patrap Triloka dengan “Ing Ngarso Sung Tuladla; Ing Madya Mangun Karsa; Tutwuri Andayani” (di depan menjadi contoh, di tengah membangkitkan ide, di belakang mendukung).

Ki Hadjar Dewantara juga memperkenalkan konsep Tri Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan lingkungan organisasi pemudanya. Keluarga berfungsi untuk memperkenalkan dasar-dasar pendidikan dari emosional, moral, sosial, agama. Lingkungan sekolah berfungsi sebagai tempat belajar, kebiasaan-kebiasaan yang baik (budi pekerti), ilmu pengetahuan, keterampilan (membaca, menulis, berhitung, menggambar, dan sebagainya), etika, keagamaan, estetika, dan belajar warisan budaya nasional, sedang organisasi pemuda melatih kesadaran dan kecakapan bersosialisasi dengan orang lain. Ketiganya saling melengkapi satu sama lain.

Pendidikan haruslah menyenangkan dan menanamkan kepribadian nasional. Sejak Taman Kanak-Kanak hingga sekolah menengah, Ki Hadjar Dewantara melakukannya dengan cara menyenangkan.

Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara pada TK adalah Tri No, yakni nonton (cognitive) di mana murid melihat dengan seluruh pancaindera, niteni (affective) adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang ditangkap pancaindera, dan nirokke (psychomotoric) yaitu menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan anak (Dwiarso dalam Henricus Suparlan).

Sementara untuk pendidikan dasar dan menengah konsepnya adalah ngerti (cognitive), ngroso (affevtive), lan nglakoni (psychomotoric).

Kurikulum TK yang disusun Ki Hadjar Dewantara adalah dolanan (permainan) anak, mendongeng, sariswara (gabungan lagu, cerita, dan sastra), sedangkan untuk sekolah dasar dan menengah memasukkan olah gending dan seni tari untuk memperkuat rasa kebangsaan.

Walaupun ada perbedaan definisi antara pendidikan dan pengajaran bagi Ki Hadjar Dewantara, keduanya harus berjalan beriringan sehingga menghasilkan anak didik yang kendel (berani), kandel (mempunyai ilmu pengetahuan), bandel (tahan banting, kuat), dan ngandel (percaya diri).

Semoga pendidikan Indonesia semakin maju dengan berbudaya Indonesia.

*) Nanang Sumanang adalah Guru Sekolah Indonesia Davao-Filipina

Baca juga: Nadiem minta guru penggerak hadirkan pembelajaran yang bermakna
Baca juga: Mendikbud: Paten Merdeka Belajar dikembalikan kepada masyarakat

Oleh Nanang Sumanang *)
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Hardiknas , Anies minta pendidik baca buku Ki Hajar Dewantara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar