Mantan Menkeu China: Gesekan dagang tetap ada dengan AS di bawah Biden

Mantan Menkeu China: Gesekan dagang tetap ada dengan AS di bawah Biden

Ilustrasi perang dagang China lawan Amerika Serikat (AS). ANTARA/youtube.com.

Beijing (ANTARA) - Perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat dan China mungkin tidak akan mereda dalam waktu dekat bahkan jika Joe Biden menjadi presiden AS, kata mantan menteri keuangan China Lou Jiwei, Jumat.

Lou, yang sekarang sudah pensiun dan menjabat sebagai anggota badan konsultatif parlemen China, membuat pernyataan tersebut selama acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Caixin di Beijing.

Ketika ditanya tentang prospek hubungan ekonomi dan perdagangan AS-China setelah pemilihan presiden AS, mantan menkeu China yang sifatnya blak-blakan itu berkata, "Bahkan jika Biden terpilih, penindasan AS terhadap China tidak akan terhindarkan."

Lou menyerukan pragmatisme dalam hubungan perdagangan AS-China, mengatakan bahwa sulit bagi AS untuk memotong defisit perdagangannya, mengingat posisi dolar sebagai mata uang global yang dominan.

"Setelah empat tahun, defisit perdagangan (dengan China) masih melebar. Kita perlu kembali ke akal sehat dan kembali ke ilmu pengetahuan. Semua orang harus berakal sehat," kata Lou.

Pemerintahan Trump melancarkan perang perdagangan dengan China pada pertengahan 2018. Trump menuntut China melakukan reformasi struktural besar-besaran untuk membuka pasarnya dan membeli lebih banyak dari Amerika Serikat.

Sejak itu, kedua negara telah memberlakukan tarif yang memengaruhi barang bernilai miliaran dolar, menyebabkan guncangan parah pada rantai pasokan global.

Namun, Lou mengatakan dia akan sangat optimistis tentang hubungan perdagangan jika Presiden AS Donald Trump tetap menjabat.

Lou juga mengatakan sudah waktunya untuk mempelajari keluarnya China dari kebijakan moneter akomodatifnya, tetapi bukan dari strategi stimulus fiskalnya.

Wakil gubernur Bank Rakyat China (PBOC) Liu Guoqiang pekan lalu mengatakan bahwa bank sentral akan mempertimbangkan perubahan kebijakan ketika ekonomi pulih. Namun, kata dia, bank sentral tidak akan bertindak tergesa-gesa, dan perubahan apa pun dibuat berdasarkan penilaian ekonomi yang akurat.

Lembaga-lembaga keuangan harus bertekad untuk mengurangi tingkat utang secara tertib dan mencegah pemulihan yang dipicu utang, kata Lou.

Sumber: Reuters
Baca juga: China ingin pemerintahan AS mendatang kembalikan hubungan normal
Baca juga: Indef: Pemenang Pilpres AS berdampak signifikan ke ekonomi RI
Baca juga: Perusahaan AS di China khawatir hubungan memburuk berlangsung lama

Penerjemah: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar