Guru Besar: Perawatan satu pasien COVID-19 bisa capai Rp500 juta

Guru Besar: Perawatan satu pasien COVID-19 bisa capai Rp500 juta

Guru Besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

antara Rp2,4 juta hingga Rp446 juta
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH mengatakan biaya perawatan satu orang pasien COVID-19 dengan waktu yang cukup lama bisa mencapai Rp500 juta.

"Tapi, dari kajian survei yang saya lakukan di sembilan provinsi biaya tertinggi Rp446 juta," kata dia pada diskusi daring dengan tema "Perhitungan Rugi-Rugi Kena Penyakit" yang dipantau di Jakarta, Senin.

Jika dirata-ratakan biaya pengobatan atau penyembuhan satu orang pasien COVID-19 bisa menghabiskan sekitar Rp184 juta dengan masa perawatan selama 16 hari.

Rata-rata pasien dirawat selama 15,4 hari. Bahkan, dari ribuan kasus yang diteliti ada pasien yang dirawat hingga 194 hari. Kemudian rata-rata klaim perawatan hingga Rp184 juta.

"Ini rentang antara Rp2,4 juta hingga Rp446 juta," katanya.

Baca juga: Singapura kenakan biaya perawatan COVID-19 untuk WNA

Baca juga: Pemerintah tekankan tanggung seluruh biaya perawatan pasien COVID-19


Meskipun demikian, besar atau kecilnya jumlah biaya perawatan pasien COVID-19 juga tergantung pada kondisi saat terinfeksi, kemudian juga tergantung ada atau tidaknya penyakit penyerta yang bisa menambah beban biaya pengobatan.

Mengingat besarnya biaya atau dana yang harus dikeluarkan untuk perawatan pasin COVID-19, Prof Hasbullah meminta masyarakat agar lebih meningkatkan kesadaran kolektif dalam penerapan protokol kesehatan.

Namun, ujar dia, banyak juga masyarakat yang salah mengartikan ketika terjangkit virus corona dan merasa aman-aman saja karena beban biaya akan ditanggung oleh negara.

"Banyak orang tidak paham, kalau dia sakit memang ditanggung negara. Tapi biaya itu diambil dari APBN yang merupakan uang rakyat juga," ujar dia.

Oleh karena itu, ia mengatakan banyak kerugian apabila seseorang jatuh sakit apalagi terinfeksi COVID-19. Selain harus mengeluarkan biaya besar, terdapat juga dampak lain misalnya tidak bisa kerja, kehilangan pendapatan, rasa sakit dan kekhawatiran yang tidak bisa dinilai dengan uang dan sebagainya.

Ia menambahkan Prof Hasbullah mengatakan dalam agama Islam pencegahan suatu penyakit telah ditunjukkan dalam Surat Al-Kahf. Berkaca dari itu, maka diharapkan masyarakat lebih sadar menjaga diri agar tidak sakit mengingat besarnya dampak bila jatuh sakit.

Baca juga: Biaya pasien sembuh COVID Jerman lebih tinggi dibanding sebelumnya

Baca juga: Pemkot Yogyakarta tanggung biaya uji swab pasien tracing COVID-19

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Dinilai mahal, pemerintah segera atur biaya tes usap

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar