Pemkab Klaten prioritaskan tes usap untuk kelompok rentan

Pemkab Klaten prioritaskan tes usap untuk kelompok rentan

Kondisi pengungsian di Balai Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. (ANTARA/Aris Wasita)

Klaten (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berupaya memprioritaskan tes usap untuk kelompok rentan yang berisiko tinggi terjangkit COVID-19 di kalangan pengungsi akibat meletusnya Gunung Merapi.

"Pada hari Sabtu (14/11) kemarin di pengungsian kami sudah lakukan pemeriksaan acak kepada 40 orang," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten Anggit Budiarto di Klaten, Senin.

Hasil tes usap belum keluar. Selain kelompok rentan, dikatakannya, tes usap juga diutamakan untuk masyarakat yang masih memiliki mobilitas tinggi.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten Sip Anwar berupaya terus menyeterilkan lokasi pengungsian untuk meminimalisasi terjadinya penularan di kalangan pengungsi.

Baca juga: Jumlah pengungsi Merapi di Balerante Klaten terus bertambah

Baca juga: 240 warga lereng Merapi di Klaten mulai mengungsi


"Terlebih lagi dengan banyaknya orang yang berkunjung. Saya sudah koordinasikan dengan pemerintah desa, (yang datang) harus pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Terkait penerapan protokol kesehatan, sejauh ini semua tidak ada kesulitan termasuk kalau mau masuk ke barak pengungsian harus steril, pengungsi kan juga harus pakai masker, protokol kesehatan harus," katanya.

Ia juga mewajibkan seluruh pengunjung yang datang ke lokasi pengungsian harus mengisi data untuk proses skrining.

"Sebetulnya orang dari luar harus ditanyakan surat keterangan kesehatan, memang ini implementasinya tidak mudah, paling tidak skrining harus diisi. Yang dikhawatirkan dari luar, tetapi dari dalam Insyaallah tidak ada," katanya.

Upaya lain yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan COVID-19 di kalangan pengungsi adalah ke depan masyarakat akan diminimalisasi keluar dari barak pengungsian. Ia mengatakan saat ini setiap harinya sebagian pengungsi masih harus keluar mencari rumput untuk hewan ternak mereka.

"Sulit memang (pencegahan COVID-19) karena mereka kalau pagi masih keluar cari pakan, ngurusi hewan meskipun sebetulnya hewan sudah dievakuasi. Kami juga sudah menyiapkan bantuan pakan," katanya.

Untuk mengurangi aktivitas pengungsi mencari rumput, pihaknya sudah meminta Dinas Pertanian setempat untuk mengajukan bantuan pakan.

"Kami nanti keluarkan BTT (bantuan tak terduga) untuk belikan makanan ternak, agar pengungsi tidak pusing memikirkan pakan ternak mereka," katanya.*

Baca juga: Pemkab Klaten mulai siapkan lokasi pengungsian

Baca juga: Gunung Merapi meluncurkan dua guguran lava

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemkab Klaten gandeng BATAN kembangkan padi rojolele

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar