Seniman Sulsel merefleksikan keprihatinan COVID-19

Seniman Sulsel merefleksikan keprihatinan COVID-19

Sejumlah seniman melakukan pentas teatrikal terkait keprihatinan terhadap COVID-19 pada pembukaan "Ini Bukan Festival" di Makassar, Senin (17/11/2020). ANTARA/HO-Panitia Pelaksana

Makassar (ANTARA) - Sejumlah seniman berkolaborasi merefleksikan keprihatinan terhadap dampak virus corona (COVID-19) yang telah berlangsung sekira delapan bulan, termasuk di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan.

Pertunjukan yang dilakoni oleh berbagai latar belakang seniman itu seperti seniman tari, musik, lukis, rupa, dan sastra menandai opening ceremony "Ini Bukan Festival 2020" di Makassar, Senin malam. Pertunjukan itu sesuai tema yang diusung yakni "COVID-19 dan Keprihatinan".

Gelaran "Ini Bukan Festival" akan berlangsung hingga Sabtu, 21 November 2020 dengan menampilkan banyak suguhan kegiatan seni, disamping seni kriya, bursa buku dan pasar kuliner.

Maestro gendang, Daeng Serang, bersama delapan penabuh gendang dari Sanggar Alam Serang Dakko memainkan Tunrung Pabballe Sumanga.

Tetabuhan irama gendang yang rancak mengiringi pembacaan puisi oleh Rosita Desriani dari Komunitas Puisi (KoPi) Makassar. Puisi berjudul "Mahkota Petaka" karya Rusdin Tompo itu diperkuat dengan pappasang/pappaseng oleh Asis Nojeng (Asosiasi Pemuda Pelestari Sastra Daerah) dan Muliadi (#KakMulBercerita), dalam bahasa Makassar dan Bugis.

Baca juga: Disbud Bali fasilitasi 50 komunitas seni untuk pentas virtual

Sementara sejumlah perupa yang tergabung dalam Makassar Art Initiative Movement (MAIM) menggoreskan kuasnya di beberapa orang yang menggunakan alat pelindung diri (APD). Di tengah aksi teatrikal itu, tetiba masuk Bahar Merdu (Kelompok Sandiwara Pettapuang), yang membawa lukisan kaligrafi bertuliskan "Iqra".

Hadir sejumlah pelaku seni dan budayawan dalam pertunjukan dan diskusi ini, antara lain Halim HD (Networking Kebudayaan) yang datang khusus dari Solo untuk kegiatan ini, juga ada Hasymi Ibrahim, Ram Prapanca, Syahrir Patakaki dan Ahmadi Haruna. Para seniman mengapresiasi perhelatan "Ini Bukan Festival", yang diakui justru merupakan festival.

Di acara ini pengunjung juga bisa menikmati produk layanan seni visual multi-disiplin dan mixed media dari Ngapaint.

"Ini tahun pertama Ngapaint mengorbit di industri kreatif Kota Makassar dimulai dari mengikuti trend tie dye dan selanjutnya akan merespons apapun yang berhubungan dengan tinta warna," kata Ardinata, dari Ngapaint

Baca juga: Seniman TMII alih profesi akibat kosongnya jadwal pentas

Masih ada lagi Monkeyman Legendswear, yang merupakan sebuah produk t-shirt dan merchandise. Usaha kreatif t-shirt dikerjakan di bawah industri rumahan dengan berbekal pengalaman di dunia desain grafis dan cetak sablon.

Irsan Djafar dari Monkeyman Legendswear menjelaskan, brandnya menggarap produk t-shirt tematik seputar dunia musik legendaris dan tokoh-tokoh musik, dengan tagline "because the legends never end".

"Kita berharap local brand ini bisa memberikan warna bagi pencinta kaos bukan hanya di Kota Makassar," katanya.

Usai pembukaan, tampil Sanggar Bolong Ringgi dari Kabupaten Barru, yang membawakan tari Batu La Pidde. Belasan penari dari Sanggar Bolong Ringgi ini dipimpin oleh Nasdir Rafli. Rangkaian acara pembukaan "Ini Bukan Festival" dipandu oleh A. Baetal Muqaddas.

Setelah pertunjukan di panggung utama, acara berlanjut di area pameran dengan menghadirkan two man play. Tampil dua aktor teater Goenawan Monoharto dan Suprapto Budisantoso yang membawakan karya Amal Hamzah, "Seniman Pengkhianat". Begitu selesai pertunjukan dilanjutkan diskusi yang dipandu Asis Nojeng.

Baca juga: Presiden dukung budayawan dan seniman tetap berkreasi saat pandemi
Baca juga: Sejumlah seniman seni rupa gelar pameran bertema bangkit dari pandemi

Pewarta: Nur Suhra Wardyah
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menikmati festival layang-layang di China selatan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar