Jembatan Batam-Bintan jadi yang tertinggi di Indonesia

Jembatan Batam-Bintan jadi yang tertinggi di Indonesia

Pjs Gubernur Kepri, Bahtiar. (Pradanna Putra Tampi)

Batam (ANTARA) - Jembatan penghubung Pulau Batam dan Pulau Bintan di Provinsi Kepulauan Riau dirancang tinggi, bahkan tertinggi di Indonesia.

"Itu menjadi jembatan tertinggi di Indonesia. Lebih tinggi dari Suramadu, lebih tinggi dari yang lain," kata Pjs Gubernur Kepri Bahtiar di Batam, Rabu.

Jembatan itu rencananya melalui beberapa pulau. Dari Pulau Batam menuju Tanjungsauh yang panjangnya sekitar 2,17 km, kemudian ke Pulau Buau sepanjang 3,9 km, kemudian ke Pulau Bintan sepanjang 0,9 km.

Rencananya tinggi jembatan mencapai 40 meter, untuk bagian yang menghubungkan ke Pulau Bintan. Sedangkan yang menghubungkan ke Pulau Batam, sekitar 20 meter. "KRI Dewa Ruci lewat, aman," kata dia.

Baca juga: Plt Gubernur Kepri: Jokowi janji Jembatan Batam-Bintan dibangun 2021

Baca juga: Jembatan Batam-Bintan dipastikan masuk agenda pembangunan Jokowi


Ia mengatakan tinggi jembatan Batam-Bintan sengaja dirancang menjulang mengingat wilayah perairan itu berhadapan dengan perairan internasional. Pergerakan kapal-kapal di sana juga banyak.

"Selain untuk kegiatan ekonomi juga memperhatikan pergerakan kapal militer. Kita punya banyak kapal," kata dia.

Rencananya, pembangunan jembatan Batam-Bintan dimulai 2021.

Pjs Gubernur Kepri menyampaikan pembangunan Jembatan Batam-Bintan tidak hanya menyambung dua pulau secara fisik, melainkan juga perekonomiannya.

Dengan begitu, fasilitas Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/ FTZ) bisa dinikmati seluruh warga Pulau Batam dan Pulau Bintan, dari ujung ke ujung.

Baca juga: Plt Gubernur Kepri minta Jokowi-Ma'ruf bangun jembatan Batam-Bintan

Baca juga: Presiden Jokowi dijadwalkan segera kunjungi Kepri


Menurut dia, hal itu sejalan dengan perkembangan ke depan, yaitu FTZ menjadi satu kesatuan antara Batam dan Bintan. "Cita-cita para senior di Pemprov Kepri akan kita wujudkan 2021," ucapnya.

Pewarta: Yuniati Jannatun Naim
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar