Ketua MPR: Indonesia dan Muhammadiyah satu kesatuan tak terpisahkan

Ketua MPR: Indonesia dan Muhammadiyah satu kesatuan tak terpisahkan

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. ANTARA/HO-MPR RI/am.

Muhammadiyah menyadari bahwa kemajemukan bangsa adalah fitrah sekaligus rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.
Jakarta (ANTARA) - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Bambang Soesatyo mengungkapkan bahwa Indonesia dan Muhammadiyah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

"Layaknya orang tua dan anak," kata Bamsoet saat menghadiri Milad Ke-108 Persyarikatan Muhammadiyah, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu.

Turut hadir baik secara fisik maupun virtual, antara lain Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Maruf Amin, wakil presiden ke-10 dan ke-12 Indonesia Jusuf Kalla, Menko Polhukam Mahfud MD, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Fachrul Razi, serta dua wakil ketua MPR RI, Ahmad Basarah dan Zulkifli Hasan.

Sejak awal perjuangan dan mengisi kemerdekaan, lanjut Bamsoet, Muhammadiyah menyadari bahwa kemajemukan bangsa adalah fitrah sekaligus rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

"Nilai inilah yang harus terus disuburkan, mengingat Indonesia didirikan bukan atas satu agama tertentu, melainkan atas sumbangsih berbagai kalangan umat beragama," katanya.

Menurut Bamsoet, selama 108 tahun perjalanan Persyarikatan Muhammadiyah menunjukkan bahwa pengabdiannya terhadap bangsa Indonesia jauh sebelum negara Indonesia merdeka.

"Kontribusi Muhammadiyah terhadap kemerdekaan Indonesia pun tak perlu diragukan," kata Bamsoet.

Baca juga: Ketua DPD RI : Indonesia banyak berutang ke Muhammadiyah

Paling besar, kata dia, terlihat dari peran ketua umum ke-5 Muhammadiyah Ki Bagoes Hadikoesoemo, sebagai perwakilan kalangan agama di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang tak memaksakan Piagam Jakarta dan menerima Pancasila sebagai ideologi negara.

Mantan Ketua DPR RI itu mengapresiasi kiprah dakwah Muhammadiyah yang selalu mengedepankan tanwir (mencerahkan) dan tabsyir (menggembirakan), serta tak pernah menggunakan cara kekerasan, apalagi menjadikan agama sebagai sumber konflik dan perpecahan.

Tak mengherankan, kata dia, jika dalam membangun Indonesia melalui dakwah, Muhammadiyah menempuh tiga jalur utama yang dikenal dengan Amal Usaha Muhammadiyah.

"Pertama, pendidikan dengan mendirikan sekolah dari tingkat TK sampai perguruan tinggi; kedua, mendirikan balai pengobatan dari mulai klinik hingga rumah sakit; ketiga, mendirikan panti, baik untuk anak-anak hingga orang tua atau jompo," kata Bamsoet menandaskan.

Bamsoet yang merupakan warga kehormatan Muhammadiyah ini mengatakan bahwa Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pernah merilis aset yang dimiliki Persyarikatan Muhammadiyah.

Amal usaha pendidikan tercatat 3.370 TK, 2.901 SD/MI, 1.761 SMP/MTs, 941 SMA/MA/SMK, 67 pondok pesantren, dan 167 perguruan tinggi.

Baca juga: Jokowi apresiasi peran Muhammadiyah pada kesehatan dan ekonomi

Ia menyebutkan amal usaha kesehatan tercatat sebanyak 47 rumah sakit, 217 poliklinik, dan 82 klinik bersalin, sedangkan amal usaha pelayanan sosial memiliki lebih 318 panti asuhan, 54 panti jompo, dan 82 rehabilitasi cacat.

"Berbagai amal usaha tersebut jumlahnya pasti akan terus bertambah. Jika ditaksir, seluruh aset yang dimiliki Muhammadiyah bisa mencapai Rp320 triliun. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan Muhammadiyah," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila itu mengingatkan, sebagaimana juga sering disampaikan Presiden Joko Widodo, saat ini Indonesia sedang dihadapkan pada maraknya penyalahgunaan ajaran agama ketika individu hingga kelompok memakai agama untuk menyebarkan kebencian dan memecah belah bangsa.

Tak jarang, kata politikus senior Partai Golkar itu, penyalahgunaan agama tersebut masuk ke berbagai instansi pemerintahan.

Bamsoet mencontohkan BUMN Watch pada tahun 2019 mengindikasikan terdapat 15 sampai 20 persen pegawai BUMN terpapar radikalisme. Bahkan, para tokoh radikal diberikan kesempatan menyampaikan orasi di masjid-masjid BUMN.

"Pemerintah tak boleh abai terhadap hal ini. Pemerintah perlu bekerja sama dengan Muhammadiyah agar pengisi ceramah di masjid BUMN maupun di berbagai masjid instansi pemerintahan diisi oleh kader Muhammadiyah yang sudah terbukti jiwa nasionalisme dan patriotismenya," pungkas Bamsoet.

Baca juga: Jokowi akui keunggulan fasilitas pendidikan dan kesehatan Muhammadiyah

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemerintah & MPR upayakan pendekatan kesejahteraan untuk Papua

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar