Kominfo akan tingkatkan literasi digital di daerah 3T

Kominfo akan tingkatkan literasi digital di daerah 3T

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, saat konferensi pers Literasi Digital Nasional, Jumat (20/11/2020). (ANTARA/Natisha Andarningtyas)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berencana meningkatkan program literasi digital di daerah tertinggal, terdepan dan terluar, menyusul temuan masyarakat di sana menganggap hoaks sebagai hal yang serius.

"Hoaks ini berdampak lebih besar di pedesaan, kita perlu literasi di sana," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, saat konferensi pers virtual, Jumat.

Baca juga: Satgas-Kemendikbud terjemahkan perubahan perilaku ke-75 bahasa

Baca juga: Satgas COVID-19: Kepala daerah harus larang kegiatan kerumunan


Survei Literasi Digital Nasional 2020 yang dilakukan Katadata Insight Center dan Kominfo menemukan bahwa 70 persen masyarakat di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal, 3T, menganggap hoaks sebagai masalah yang serius.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional, sebanyak 46,4 persen responden yang menganggap hoaks sebagai masalah serius.

Menurut Kominfo, literasi digital bagi masyarakat di daerah 3T diperlukan agar mereka bisa mengidentifikasi hoaks dan menyaring informasi yang mereka dapatkan.

"Pengetahuan bagaimana mencari berita yang benar. Kalau ada yang meragukan, bagaimana cari konfirmasi yang bisa dipercaya," kata Semuel.

Menurut Semuel, mencari sumber informasi yang bisa dipercaya membutuhkan keterampilan.

Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi sebelum pandemi pernah mengadakan program literasi di daerah 3T, antara lain School of Influencer, dikatakan Ketua Siberkreasi Yosi Mokalu.

Responden di daerah 3T menyatakan lembaga yang harus bertindak untuk mencegah penyebaran hoaks adalah semua warga negara (60 persen), kemudian TNI atau Polri (55,7 persen).

Indeks literasi digital nasional, berdasarkan studi tersebut, tergolong sedang, yaitu 3,47 dalam skala lima.

Menanggapi hasil survei tersebut, Semuel menyatakan riset itu memberi masukan kepada pemerintah untuk menentukan program literasi digital yang tepat berdasarkan kondisi di lapangan.

"Kami ingin program tepat sasaran," kata Semuel.

Survei Literasi Digital Nasional 2020 diadakan pada Agustus lalu, melibatkan 1.670 responden dari 34 provinsi yang berusia 13 hingga 70 tahun dan menggunakan internet selama tiga bulan terakhir.


Baca juga: Kominfo paling diharapkan cegah penyebaran hoaks

Baca juga: TikTok dan Telkomsel kolaborasi tingkatkan literasi digital

Baca juga: Orang Indonesia paling percaya keluarga dan tokoh agama

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

NTB raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik tahun 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar