Wall Street jatuh saat lonjakan kasus COVID-19 imbangi harapan vaksin

Wall Street jatuh saat lonjakan kasus COVID-19 imbangi harapan vaksin

Tanda Wall Street di New York City dengan bendera Amerika dan Bursa Efek New York di latar belakang.TARA (ANTARA/Shutterstock/pri (shutterstock)

Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 49,74 poin atau 0,42 persen, menjadi 11.854,97 poin
New York (ANTARA) - Saham-saham Wall Street melemah pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), ketika investor bergumul dengan perkembangan stimulus fiskal, kekhawatiran atas peluncuran vaksin yang terlalu lama, dan semakin banyak penutupan tingkat negara bagian untuk memerangi pandemi COVID-19 yang terus meningkat.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 219,75 poin atau 0,75 persen, menjadi ditutup pada 29.263,48 poin. Indeks S&P 500 turun 24,33 poin atau 0,68 persen, menjadi berakhir di 3.557,54 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 49,74 poin atau 0,42 persen, menjadi 11.854,97 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor teknologi jatuh 1,05 persen, memimpin ketertinggalan. Sedangkan, sektor utilitas naik 0,05 persen, satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.

Pertunjukan selama perintah tinggal di rumah seperti Zoom Video Communications Inc dan Netflix Inc, yang telah berkinerja terbaik selama krisis kesehatan, membantu mengekang kerugian Nasdaq.

Sepanjang pekan, pasang surut berita vaksin dan lonjakan infeksi telah membuat investor terombang-ambing di antara saham siklikal yang sensitif secara ekonomi dan pemimpin pasar yang tahan pandemi.

S&P 500 dan Dow membukukan kerugian marjinal untuk minggu ini, sementara Nasdaq yang sarat teknologi menetap sedikit lebih tinggi dari penutupan Jumat lalu (13/11/2020).

"Pasar masih terjebak dalam tarik ulur antara peningkatan dramatis kasus baru COVID versus kemajuan nyata pada vaksin," kata David Carter, kepala investasi di Lenox Wealth Advisors di New York. “Ini kemungkinan akan berlanjut sampai kami memiliki vaksin yang disetujui dan didistribusikan.”

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengumumkan Kamis malam (19/11/2020) bahwa ia akan mengizinkan program pinjaman bantuan pandemik utama di Federal Reserve berakhir pada akhir tahun, mengatakan 455 miliar dolar AS yang dialokasikan musim semi lalu di bawah undang-undang CARES harus dikembalikan ke Kongres untuk dialokasikan kembali sebagai hibah untuk perusahaan kecil.

Keputusan untuk menghentikan program pinjaman yang dianggap penting oleh bank sentral datang pada saat infeksi baru virus corona meningkat dan gelombang baru PHK, dan disebut "mengecewakan" oleh presiden Federal Reserve Chicago, Charles Evans.

"Masalah antara Fed dan Departemen Keuangan ini dapat berdampak serius, karena pasar ingin melihat kedua institusi bekerja sama dengan baik," tambah Carter. "Perselisihan ini sangat disayangkan, karena risiko COVID masih sangat tinggi pada kami."

Rekor angka infeksi telah menyebabkan rawat inap COVID melonjak hingga 50 persen dan telah mendorong babak baru penutupan sekolah dan bisnis, jam malam dan pembatasan jarak sosial, yang menghambat pemulihan ekonomi dari resesi terdalam sejak Depresi Hebat.

Dalam perkembangan terbaru dalam perlombaan untuk mengembangkan vaksin, Pfizer Inc telah mengajukan permohonan izin penggunaan darurat vaksin COVID-19 ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, permohonan pertama dari jenisnya dalam memerangi penyakit tersebut. Saham pembuat obat tersebut naik 1,4 persen, dan memberikan dorongan terbesar ke S&P 500.

Baca juga: Wall Street dibuka lebih rendah, tertekan lonjakan kasus COVID-19
Baca juga: Wall Street naik, ditopang bahasan stimulus redakan khawatir lockdown

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar