Artikel

Klungkung keren karena sampah dan garam

Oleh Edy M. Yakub

Klungkung keren karena sampah dan garam

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta. ANTARA/HO-Humas Klungkung

Mari manfaatkan garam produk sendiri.
Denpasar (ANTARA) - Klungkung memang keren, karena ada 541 kabupaten/kota se-Indonesia yang menjadi target evaluasi Kementerian Dalam Negeri untuk mengukur tingkat keberhasilan pemerintah daerah dalam penerapan prinsip otonomi daerah dan penyelenggaraan urusan pemerintahan, kabupaten di Pulau Dewata itu menjadi salah satu yang berkinerja tinggi.

Skor tertinggi diraih Pemkab Banyuwangi di Jawa Timur dengan nilai 3,5592. Nilai itu didasarkan pada evaluasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) pada enam urusan pemerintahan, seperti pendidikan, kesehatan, PUPR, pertanian, pariwisata hingga urusan penanganan kemiskinan.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung meraih skor 3,2897 atau prestasi kinerja Sangat Tinggi dari Kemendagri berdasarkan LPPD Tahun 2018 yang diserahkan tahun 2020 itu.

Penghargaan itu diterima Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Klungkung di Ruang Rapat Kantor Bupati Klungkung, Kamis (11/11).

Baca juga: Wamen Desa: Optimalkan pemberdayaan kapasitas masyarakat Nusa Penida

Penghargaan untuk LPPD 2018 itu didasarkan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD) tahun 2019, sedangkan hasil LPPD tahun 2018 itu didasarkan Rapat Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (RKPPD) tahun 2020, karena itu penghargaan diserahkan pada proses EKPPD tahun 2020.

"Kami pikir tidak ada penilaian. Kami bersama team work (tim kerja) bekerja saja dengan mengutamakan pelayanan dan kinerja ke masyarakat sebagai target yang paling penting," ujar Bupati Suwirta dengan raut wajah gembira saat menerima Piagam Kemendagri yang ditandatangani Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Akmal Malik MSi pada 25 April 2020 itu.

Bupati Suwirta menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya karena penghargaan ini menunjukkan kinerja Pemerintah Kabupaten Klungkung beserta jajarannya telah berhasil memenuhi ekspektasi masyarakat dalam menyelenggarakan pemerintahan yang bersih.

"Penghargaan bukan segala-galanya. Tetap bekerja maksimal memberikan pelayanan ke masyarakat. Mudah-mudahan dengan penghargaan ini semakin memacu kita untuk bekerja lebih keras lagi dalam membangun Kabupaten Klungkung," kata putra daerah yang kelahiran Lembongan, Nusa Penida, Kabupate Klungkung pada 1 Desember 1967 itu.

Sebagai "putra daerah", suami dari Ni Nengah Rayu Astini dan ayah dari tiga anak (Ni Putu Maetri, Ni Made Ayu, dan I Nyoman Rainanda Suwirta) itu agaknya objektif dalam melihat potensi daerahnya dan ingin mengoptimalkan potensi itu.

Bahkan, langkah-langkah birokrat yang sering blusukan menemui rakyatnya itu juga diapresiasi Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial Asep Sasa Purnama. Program-program inovasi dari Klungkung yang mendapat apresiasi, diantaranya TOSS Center, Pemberdayaan UMKM/Koperasi (retail) dan Konsep Bima Juara, apalagi ada pekerja disabilitas di TOSS.

"Inovasi-inovasi yang sangat baik yang saya lihat secara langsung disini. Saya akan mempromosikan inovasi Pemkab Klungkung kedepan, karena sudah saatnya program yang berkelanjutan akan kita genjot. Semoga kedepan inovasi program Pemkab Klungkung bisa menjadi tempat percontohan buat daerah lainnya," katanya.

Setelah berkeliling mengunjungi inovasi dan konsep pemberdayaan Pemkab Klungkung didampingi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta dimulai dari TOSS Center, Pemberdayaan UMKM/Koperasi (retail) dan Konsep Bima Juara di KUD Jaya Werdhi Takmung (17/10), dia berharap pengembangan program inovasi tersebut akan mewujudkan Multiplayer effect-nya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi terhadap sosial juga.

Baca juga: Film "Memargi Antar" dari Klungkung raih "Most Watched Film Globally"


Sampah dan Garam

Terkait dengan kunjungan dari Kemensos itu, Bupati Suwirta mengaku merasa bahagia karena Dirjen Kemensos sudah berkenan meluangkan waktu untuk mengunjungi Kabupaten Klungkung. Inovasi program TOSS ini merupakan upaya dalam menangani permasalahan sampah.

"Di tempat ini ada beberapa kegiatan penanganan sampah mulai dipilah, tetapi sampah yang masuk kesini itu adalah sampah yang benar-benar sudah dipilah dari rumah tangga. Di Kota Klungkung saat ini masyarakat sudah sekitar 87 persen yang taat memilah sampah dari rumah," ujar Bupati Suwirta.

Bupati Suwirta juga mengatakan bahwa penanganan sampah plastik disini sudah bekerja sama dengan APSI (Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia), khusus untuk penanganan sampah organik banyak sekali inovasinya hingga bisa menjadi sampah kompos kiyosaki, kompos curah.

"TOSS yang kita bangun ini merupakan hasil dari inovasi Pemerintah Daerah yang sudah berhasil masuk ke TOP 40 Nasional. Mudah-mudahan dengan kunjungan Bapak Dirjen saya bisa semakin lebih semangat dan beliau bisa memberikan motivasi terkait TOSS ini," harap Bupati Suwirta.

Didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Klungkung Anak Agung Kirana, Kepala Dinas P3A Gusti Agung Putra Mahajaya dan Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Klungkung I Wayan Ardiasa, Bupati juga mengajak Dirjen mengunjungi salah satu tempat produksi beras lokal di KUD Jaya Werdhi Takmung.

Disana, Bupati menjelaskan program Bima Juara melalui pembelian gabah oleh KUD langsung kepada petani dengan harga lebih mahal dari pasaran dan menjual beras lokal dengan harga yang lebih murah dari harga pasar.

Selain ke TOSS Center dan KUD yang memproduksi beras lokal itu, Bupati Suwirta juga mengajak rombongan ke salah satu retail yang ikut berperan memasarkan produk lokal dan UMKM di Kabupaten Klungkung seperti beras lokal, Garam Beryodium "Uyah Kusamba".

Baca juga: Kegiatan "Revitalisasi Bumi" sambut kunjungan wisata Nusa Penida

Selama ini, Bali merupakan daerah penyangga garam nasional, seperti di Desa Tejakula dan Pemuteran -Kabupaten Buleleng, di Amed Kabupaten Karangasem, dan di Desa Kusamba Kabupaten Klungkung.

Di Kusamba, Bupati Klungkung Nyoman Suwirta mendukung petani garam Desa Kusamba dengan meluncukan produksi garam dengan kandungan zat yodium yang tinggi secara organik itu pada 22 Juli 2020 dengan merek "Uyah Kusamba Gema Santi".

"Garam produksi petani Desa Kusamba memiliki beberapa keunggulan, indikasi geografis merupakan salah satunya. Garam Kusamba memiliki identitas yang berdampak pada reputasi, kualitas dan karateristik yang telah sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), jadi Garam Kusamba sudah mendapatkan izin edar BPPOM sehingga garam Kusamba sudah bisa beredar di pasar secara nasional," katanya.

Di sela-sela acara Peluncuran Garam Kusamba di Klungkung itu, Bupati Suwirta mengharapkan para generasi muda Desa Kusamba ikut berperan dalam melestarikan, melakukan produksi, dan pemasaran garam beryodium Kusamba.

Ini bukan soal peluncuran produk, melainkan bersangkut paut dengan kesejahteraan para petani garam. Mari manfaatkan garam produk sendiri, sesuai dengan anjuran Presiden Joko Widodo, mengenai bangga menggunakan produk lokal.

Oleh Edy M. Yakub
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

NTB raih peringkat tiga ajang IGA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar