Ahli: Perkembangan teknologi instrumentasi jadi peluang bagi peneliti

Ahli: Perkembangan teknologi instrumentasi jadi peluang bagi peneliti

Prof Dr. Eng Didik Rahadi Santoso, M.Si usai konferensi pers menjelang pengukuhannya sebagai profesor bidang ilmu Sistem Instrumentasi Modern Universitas Brawijaya (UB) (ANTARA/HO/UNIVERSITAS BRAWIJAYA/End)

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Ahli Sistem Instrumentasi Modern Universtas Brawijaya (UB) Prof Dr. Eng Didik Rahadi Santoso, M.Si mengemukakan perkembangan teknologi instrumentasi dunia yang sangat cepat di Era Industri 4.0 menjadi peluang sekaligus tantangan bagi peneliti dan industri instrumentasi di Tanah Air.

"Produk instrumentasi akan memberikan sebuah solusi bagi ketersediaan sistem peralatan yang diperlukan dalam pengembangan Iptek dan kegiatan industri secara menyeluruh," kata Prof Didik dalam konferensi pers yang dipantau secara virtual menjelang pengukuhannya sebagai profesor aktif ke-189 UB di Malang, Selasa.

Didik yang dikukuhkan sebagai profesor aktif ke-23 dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) atau profesor ke-269 dari seluruh profesor yang dihasilkan oleh UB itu menyampaikan pidato ilmiah berjudul "Peluang dan tantangan Pengembangan Sistem Instrumentasi di Era Industri 4.0".

Dalam pidato ilmiah tersebut, Didik mengemukakan beberapa hal terkait dengan kajian desain dan pengembangan produk sistem instrumentasi modern berikut contoh penerapannya.

Baca juga: Tertinggi ajukan paten saat pandemi, UB raih penghargaan Kemkumham

Baca juga: Mahasiswa UB buat pasta gigi sensitif dari cangkang telur


Pertama adalah Bioelectical Impedance Spectrometer (BIS), yakni sebuah sistem instrumentasi untuk keperluan riset di bidang biofisika dan kedua adalah sistem instrumentasi untuk monitoring aktivitas gunung api seketika (realtime) dari jarak jauh.

Menurut Didik, keberadaan sistem instrumentasi tidak mungkin dipisahkan dalam perkembangan Iptek modern. Pengembangan sebuah sistem instrumentasi akan memberikan solusi bagi ketersediaan sistem pengukuran atau pengendalian secara menyeluruh.

"Usaha pengembangan sistem instrumentasi EIS/BIS dan sistem pemantauan gunung api yang telah kami lakukan dapat membantu dosen dan mahasiswa, khususnya Jurusan Fisika melaksanakan pendidikan dan penelitian dengan lebih baik, sebab mereka dapat melakukan publikasi ilmiah dengan topik riset terkait," tuturnya.

Usaha ini, diharapkan bisa mengurangi ketergantungan nasional terhadap impor peralatan instrumentasi modern.

Instrumentasi sebagai disiplin ilmu, merupakan cabang dari ilmu fisika (applied physics) yang membahas metode dan sistem peralatan yang terkait dengan pengukuran atau pengendalian suatu besaran fisis.

Ia menjelaskan instrumentasi merupakan bidang kajian multi-disiplin yang memerlukan pengetahuan komprehensif, meliputi aspek dasar sains khususnya fisika, serta bidang ilmu lain yang terkait dengan terapannya.

Sebagai sebuah metode dan sistem peralatan, kata Didik, instrumentasi memegang peran yang sangat penting dalam eksperimen-eksperimen ilmiah, pengaturan kerja mesin industri, serta sebagai modul kendali dalam peralatan-peralatan modern lainnya.

Saat ini, lanjutnya, teknologi instrumentasi berkembang sangat pesat, baik dalam desain produk maupun terapannya. Perkembangan ini tidak bisa dilepaskan dari kemajuan iptek secara menyeluruh, khususnya di bidang komponen elektronika serta teknologi informasi dan komunikasi (ICT).

Implementasi komponen elektronika modern pada sebuah produk sistem instrumentasi, akan menjadikan dia dapat bekerja secara lebih cepat, lebih akurat, lebih presisi, serta lebih efisien.

"Implementasi sistem ICT modern (misalnya: IoT, cloud computing) pada produk sistem instrumentasi akan menjadikannya mampu bekerja secara cepat, terdistribusi dan terintegrasi dalam satu payung kendali, meskipun letaknya berjauhan,' kata profesor kelahiran Jombang, Jawa Timur, 51 tahun lalu.*

Baca juga: Mahasiswa Universitas Brawijaya buat gel pemutih gigi dari asam jawa

Baca juga: Mahasiswa Universitas Brawijaya buat kasa dari sarang tarantula

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar