Volatilitas masih tinggi, MI sarankan investor pilih reksa dana ETF

Volatilitas masih tinggi, MI sarankan investor pilih reksa dana ETF

Dokumentasi - Direktur Utama Ciptadana Asset Management Paula Rianty Komarudin memberikan sambutan saat pencatatan perdana Reksa Dana Indeks CIPTA ETF  INDEX LQ45 di Gedung BEI, Jakarta. ANTARACitro Atmoko.

Karena volatilitas yang masih sangat tinggi, kami sarankan investor bisa memanfaatkan fitur fleksibilitas dalam transaksi pada reksadana ETF
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan Manajer Investasi (MI) PT Insight Investments Management menyarankan investor untuk memilih produk investasi Exchange Traded Fund (ETF) atau reksa dana terbuka berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek, di tengah volatilitas yang masih tinggi.

Berdasarkan hasil riset Insight, penurunan IHSG yang diikuti oleh peningkatan volatilitas, dinilai masih akan tinggi hingga akhir 2020 selama kondisi ekonomi belum menunjukkan fundamental yang membaik.

"Karena volatilitas yang masih sangat tinggi, kami sarankan investor bisa memanfaatkan fitur fleksibilitas dalam transaksi pada reksadana ETF," kata Direktur Utama PT Insight Investments Management Ekiawan Primaryanto dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Ekiawan menjelaskan, fitur yang tersedia pada ETF memungkinkan investor bisa seperti trader, sehingga bisa hit and run alias melakukan aksi beli dan jual dalam waktu singkat.

Jika investor berinvestasi di reksadana konvensional yang cenderung beli dan tahan (buy and hold), lanjut Ekiawan, investor akan sulit mendapatkan imbal hasil maksimal.

"Investor bisa menerapkan strategi trading dengan melihat potensi downside dan upsidenya melalui investasi di Reksa Dana Insight ETF FTSE Indonesia Low Volatility Factor Index," ujar Ekiawan.

Reksa Dana Insight ETF FTSE Indonesia Low Volatility Factor Index resmi diluncurkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Juni 2020 dan telah berhasil memberikan imbal hasil sebesar 11,39 persen.

Reksa dana tersebut ditujukan untuk memberi hasil investasi yang optimal melalui ekuitas yang diterbitkan oleh korporasi di BEI. Menunjuk PT Bank Central AsiaTbk sebagai bank kustodian, net asset value (NAV) per unit reksa dana tersebut hanya Rp100, atau merupakan salah satu yang terendah di industri.

FTSE Indonesia Index Low Volatility Factor merupakan indeks yang merepresentasikan performa dari saham berkapitalisasi besar dan menengah di Indonesia yang memiliki faktor volatilitas lebih rendah dari FTSE Indonesia Index.

Layaknya berinvestasi di instrumen saham, pembelian dan penjualan unit penyertaan (UP) reksa dana ETF dapat dilakukan sepanjang hari dengan harga yang tercatat di BEI selama jam perdagangan bursa, sehingga investor dapat bertransaksi dengan harga dan waktu secara real time.

Selain itu, transparansi isi portofolio reksa dana tersebut juga menjadi faktor penting dalam memilih instrumen investasi. Reksadana ETF memenuhi syarat transparansi yang lebih dalam dibandingkan reksadana konvensional.

Pembelian ETF tersebut dapat dilakukan sebagaimana bertransaksi saham di BEI melalui semua mitra sekuritas yang dimiliki investor, dengan kode XILV. Para investor dapat mulai dengan dana minimum Rp10.000 untuk berinvestasi di XILV.

Baca juga: BEI sesuaikan batasan pergerakan harga untuk tingkatkan likuiditas ETF
Baca juga: BEI: Jumlah ETF Indonesia terbanyak dibandingkan negara lain di ASEAN

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemerintah alihkan saham Pegadaian dan PNM ke BRI

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar