Prancis catat 13.563 infeksi COVID-19, rawat inap menurun lagi

Prancis catat 13.563 infeksi COVID-19, rawat inap menurun lagi

Staf medis berada di Unit Perawatan Intensif (ICU), tempat pasien terinfeksi virus corona (COVID-19) dirawat di klinik Ambroise Pare, Neully-sur-Seine, dekat Paris, Prancis, Kamis (12/11/2020). REUTERS/Benoit Tessier/FOC/djo

Paris (ANTARA) - Prancis melaporkan 13.563 infeksi COVID-19 pada Kamis(26/11), lebih sedikit dibandingkan dengan 16.282 pada Rabu (25/11) dan 21.150 pekan lalu.

Penurunan angka itu menunjukkan penyebaran virus terus melambat pada minggu keempat pemberlakuan penguncian nasional.

Jumlah total kasus yang dikonfirmasi sekarang mencapai 2,18 juta di Prancis.

Jumlah orang yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 terus turun 662 menjadi 29.310, sementara jumlah pasien dalam perawatan intensif turun 130 menjadi 4.018 orang, memperpanjang kecenderungan penurunan sejak dua minggu, data kementerian kesehatan menunjukkan.

Presiden Emmanuel Macron mengatakan awal pekan ini bahwa penguncian dapat dicabut pada 15 Desember jika pada saat itu jumlah infeksi baru per hari turun menjadi 5.000 dan pasien COVID-19 dalam perawatan intensif menurun menjadi antara 2.500 dan 3.000.

Prancis juga melaporkan 339 kematian akibat virus corona jenis baru di rumah sakit, turun dari 381 pada Rabu.

Rata-rata pergerakan tujuh hari menyangkut kematian di rumah sakit dan panti jompo sekarang berada pada angka 547, dan telah turun selama seminggu setelah puncaknya saat karantina wilayah selama musim gugur, yaitu 625 kematian.  

Pada Selasa (26/11), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan vaksin untuk mencegah COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru, dapat mulai diberikan segera setelah akhir tahun di Prancis jika disetujui oleh regulator.

"Kami akan mengorganisasi kampanye vaksinasi yang cepat dan besar-besaran," kata Macron dalam pidato yang disiarkan televisi yang merinci bagaimana negara itu akan mulai mengurangi penguncian akhir pekan ini.

"Kami sangat mungkin, dan menunggu otorisasi dari otoritas kesehatan, mulai vaksinasi populasi yang paling rentan, oleh karena itu para lansia, paling cepat akhir Desember, awal Januari," katanya.

Ia menambahkan bahwa kelompok-kelompok populasi lain akan ditawari vaksinasi secara berurutan.

Vaksinasi tidak wajib, kata Macron.

Pemerintah negara-negara di Eropa sedang bekerja untuk memetakan apa yang bisa menjadi skema vaksinasi terbesar dalam beberapa dekade.

Tugas tersebut tampak sangat menakutkan di Prancis, yang memiliki tingkat kepercayaan paling rendah di dunia terhadap vaksin.

Menurut jajak pendapat Ipsos untuk Forum Ekonomi Dunia, hanya 59 persen responden Prancis yang mengatakan mereka akan mendapatkan vaksin COVID-19 jika tersedia, dibandingkan dengan 67 persen di Amerika Serikat dan 85 persen di Inggris.

Macron mengatakan komite ilmiah akan dibentuk untuk memantau vaksinasi dan sekelompok warga juga akan ambil bagian untuk memastikan transparansi.


Sumber : Reuters

Baca juga: PM Prancis: bukan saatnya melonggarkan pembatasan COVID-19

Baca juga: Angka pengangguran Prancis terus meningkat

Baca juga: Cerpelai terinfeksi virus corona ditemukan di Prancis


 

Prancis, antara duka Nice dan gempuran protes kalangan Muslim

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar