Korsel sebut Korut berupaya retas perusahaan vaksin COVID-19

Korsel sebut Korut berupaya retas perusahaan vaksin COVID-19

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi makam pahlawan Relawan Rakyat China (CPV) di wilayah bagian Hoechanng, Provinsi Phyongan Selatan, Korea Utara, dalam foto tanpa tanggal yang disediakan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kamis (22/10/2020). ANTARA FOTO/KCNA via REUTERS/NZ/djo

Ia (Kim Jong Un) menunjukkan emosi yang berlebihan, kemarahan, dan tanda-tanda stres, serta memberikan perintah-perintah yang tak masuk akal,
Seoul (ANTARA) - Badan intelijen Korea Selatan menggagalkan upaya peretasan yang dilancarkan oleh Korea Utara terhadap sejumlah perusahaan Korea Selatan yang mengembangkan vaksin COVID-19, kata beberapa anggota parlemen pada Jumat.

Ha Tae-keung, seorang anggota komite intelijen di parlemen, mengatakan usai diberi pemaparan oleh Badan Intelijen Nasional (NIS) bahwa lembaga tersebut tidak merinci berapa banyak perusahaan farmasi yang menjadi target peretasan, namun tidak ada kerusakan yang ditimbulkan akibat upaya itu.

Pengungkapan itu muncul setelah Microsoft pada awal November menyebut para peretas yang bekerja untuk Pemerintah Rusia dan Korea Utara telah mencoba membobol jaringan tujuh perusahaan farmasi dan penelitian vaksin di Kanada, Prancis, India, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Pemaparan tertutup oleh NIS, yang berbagi data intelijen dan analisis dengan negara-negara kunci lainnya, memberikan akses langka bagi publik terhadap informasi mengenai Korea Utara yang begitu tertutup.

Ha dan anggota komite yang lain, Kim Byung-kee, mengatakan bahwa Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah mengambil sejumlah langkah "tidak masuk akal" karena "paranoia" terkait COVID-19.

Langkah-langkah tersebut antara lain larangan memancing dan produksi garam karena air laut dikira mungkin terkontaminasi  virus corona, serta membiarkan sekitar 110.000 ton beras asal China di pelabuhan Dalian.

"Ia (Kim Jong Un) menunjukkan emosi yang berlebihan, kemarahan, dan tanda-tanda stres, serta memberikan perintah-perintah yang tak masuk akal," ucap Ha kepada wartawan.

Hingga saat ini, Korea Utara belum mengonfirmasi satu pun kasus COVID-19, namun NIS menyebut bahwa wabah tidak dapat dihindari pula oleh negara itu selagi mereka mempunyai hubungan dagang internasional yang aktif dan melakukan pertukaran manusia dengan China sebelum akhirnya menutup perbatasan pada akhir Januari.

Sumber: Reuters

Baca juga: Kim Jong Un perintahkan pengetatan sistem darurat anti COVID-19

Baca juga: Microsoft: Peretas Rusia dan Korea Utara targetkan peneliti COVID-19

Baca juga: Deteksi orang tak dikenal, Korea Selatan lakukan operasi di perbatasan


 

Upaya membangun perdamaian dan denuklirisasi di Semenanjung Korea

Penerjemah: Suwanti
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar