Perpaduan batik dan kain"seshweshwe" jadi primadona di Afrika Selatan

Perpaduan batik dan kain"seshweshwe" jadi primadona di Afrika Selatan

Kompetisi busana wanita yang memadukan batik dan kain "seshweshwe" diselenggarakan di Pretoria, Afrika Selatan, Rabu (25/11/2020).  (HO-KBRI Pretoria)

Nobility (keluhuran) para mahasiswa dalam kegiatan ini adalah bukan sekadar berkompetisi, tetapi keberanian untuk memadukan dua budaya yang telah tumbuh berabad-abad di Indonesia dan Afrika Selatan,
Jakarta (ANTARA) - Perpaduan batik dan kain seshweshwe yang didesain oleh delapan orang mahasiswa dari Sekolah Tinggi Kejuruan Pretoria Utara (Tshwane North TVET College), menjadi primadona dalam kompetisi busana wanita di Afrika Selatan.

Kompetisi berjudul The Beauty of Batik and Seshweshwe : A Collaboration of Creativity in South African Bride Fashion Design itu merupakan proyek percontohan bagi mahasiswa yang diselenggarakan KBRI Pretoria dan Tshwane North TVET College.

Nobility (keluhuran) para mahasiswa dalam kegiatan ini adalah bukan sekadar berkompetisi, tetapi keberanian untuk memadukan dua budaya yang telah tumbuh berabad-abad di Indonesia dan Afrika Selatan,” ujar Duta Besar RI untuk Afrika Selatan Salman Al Farisi dalam sambutan yang dirilis KBRI Pretoria, Senin.

Baca juga: Seniman Jepang perkenalkan batik "renaissance"
Baca juga: Tips kenakan kain batik khas Solo (video)


Dubes Salman menambahkan bahwa gaun pengantin yang merupakan paduan batik dan seshweshwe, yang merupakan kain tradisional Afrika Selatan, mengandung pesan  keharmonisan antarakedua bangsa yang saling mendukung dan bekerja sama.

Rangkaian proses kompetisi diselenggarakan sejak September 2020 dalam rangka memperingati Heritage Day Afrika Selatan pada 24 September 2020 dan Hari Batik di Indonesia yang jatuh pada 2 Oktober 2020.

Dalam waktu yang relatif singkat, delapan orang mahasiswa dari Tshwane North TVET College berhasil menyelesaikan hasil rancangannya berupa gaun pengantin Afrika Selatan yang merupakan perpaduan dari bahan batik dengan kain seshweshwe, yang diperagakan di hadapan dewan juri dalam dua tahap.

Tahap pertama pada 19 November 2020 oleh juri Afrika Selatan dan pada 25 November 2020 oleh juri Indonesia yang diketuai  Umi Salman Al Farisi, istri Dubes RI untuk Afrika Selatan. Proses penjurian berlangsung di KBRI Pretoria.

Penjurian kompetisi busana wanita yang memadukan batik dan kain "seshweshwe" di KBRI Pretoria, Afrika Selatan, Rabu (25/11/2020). (HO-KBRI Pretoria)


Selain memperagakan rancangannya, para mahasiswa juga mempresentasikan karya-karyanya yang dibuat berdasarkan riset mereka mengenai batik dan busana Indonesia pada umumnya.

Hasil karya rancangan para mahasiswa tersebut terinspirasi oleh keragaman budaya Indonesia dan Afrika Selatan, serta paduan motif dan filosofi budaya kain batik.

Tampil sebagai juara pertama adalah Petronella Makgeta dengan gaun pengantin batik bermotif rangrang dan sebagai juara kedua adalah Minicent Rasekgwalo yang menggunakan batik Betawi.

Penyelenggaraan kompetisi busana wanita dengan perpaduan bahan batik dan kain tradisional seshweshwe ini merupakan kegiatan kolaborasi pertama yang diselenggarakan oleh KBRI Pretoria, dengan target kalangan generasi muda Afrika Selatan yang memiliki potensi dan keingintahuan yang besar dalam merancang busana.

Selama ini, batik hanya dikenal sebagai pakaian pria di kalangan masyarakat Afrika Selatan dan mempunyai makna historis tersendiri bagi masyarakat Afrika Selatan.

Batik dikenal secara populer oleh masyarakat Afrika Selatan dengan sebutan Madiba Shirt yang merupakan panggilan akrab tokoh pejuang anti apartheid (segregasi rasial) serta mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela,yang selalu mengenakan batik dalam setiap kesempatan.

Baca juga: Batik Indonesia warnai Bazaar Diplomatik Internasional di Yordania
Baca juga: Hari Batik Internasional diperingati di Kuala Lumpur


Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Museum Batik Pekalongan tambah koleksi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar