Artikel

Mewaspadai akhir dan awal tahun

Oleh Sri Muryono

Mewaspadai akhir dan awal tahun

Sejumlah pendaki menikmati suasana Puncak Talung di kawasan Gunung Bawakaraeng, Kecamatan Tinggimoncong, Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (29/12/2019). Puncak Talung menjadi salah satu destinasi wisata alam bebas ramai dikunjungi pendaki saat libur akhir pekan dan tahun baru. ANTARA FOTO/Arnas Padda/pras.

Guguran lava pijar dari puncak Gunung Semeru terjadi pada Jumat (27/11) malam
Jakarta (ANTARA) - Tak terasa tahun 2020 tersisa kurang dari satu bulan lagi dan Tahun Baru 2021 segera menjelang ke hadapan penghuni bumi.

Tahun ini berlalu dengan segala dinamika yang mewarnai semua sisi kehidupan. Tahun baru segera hadir dengan segalanya yang belum diketahui kepastiannya oleh siapapun.

Tahun ini dilalui warga penghuni bumi dengan kenyataan hidup yang demikian berat. Krisis kesehatan akibat merebaknya virus corona (COVID-19) telah mengakibatkan krisis semua lini kehidupan.

Wabah ini terasa sekali sebagai bencana kehidupan. Ini menambah berat sisi-sisi kehidupan karena tanpa bencana non alam ini pun penghuni di berbagai belahan bumi ini sering dan selalu dihadapkan pada ancaman bencana alam.

Banjir, angin topan, longsor, gempa bumi dan sebagainya selalu menghiasi layar kaca dan beragam lini informasi. Semua seperti silih berganti, hanya tempat dan waktu yang berbeda.

Seperti halnya wabah virus corona sebagai bencana non alam, hampir tidak ada tempat di bumi ini yang betul-betul aman dari bencana alam. Kalaupun satu lokasi diklaim paling aman dari bencana alam, hanya soal waktu saja karena bencana seperti ada siklusnya.

Kerugian materi dan non materi tentu mengiringi setiap musibah atau bencana alam. Potensi bencana dan musibah yang tersebar di seluruh tempat di bumi mengharuskan penduduknya selalu waspada dan mengantisipasinya.
 
Objek wisata Pantai Pulau Merah Banyuwangi. (ANTARA Jatim/Novi H)

Ribuan
Wilayah Indonesia juga tergolong rawan bencana alam. Hampir tidak ada wilayah yang betul-betul bebas dari potensi bencana alam.

Bencana alam silih berganti dan bergantian waktu atau wilayahnya. Yang membedakan hanya skala dan dampaknya saja, besar, sedang atau kecil.

Baca juga: Wishnutama: Pelaku pariwisata berharap banyak dari libur akhir tahun

Menapaki menit-menit pertama di 1 Januari 2020 saja sudah banyak sekali lokasi yang dilanda bencana. Umumnya adalah banjir yang merendam sejumlah wilayah di beberapa provinsi, terutama DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

Hal itu menghiasi data awal jumlah bencana atau musibah. Selanjutnya, bencana seperti datang dan pergi ke wilayah satu ke wilayah lainnya.

Mari cermati data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menguatkan pemahaman bahwa bencana datang silih berganti di wilayah-wilayah Indonesia.

BNPB mencatat sebanyak 2.635 bencana alam telah terjadi di seluruh wilayah Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 25 November 2020. Semua dengan dampak-dampaknya.

Menurut keterangan resmi BNPB, pekan lalu, mayoritas bencana tersebut merupakan bencana hidrometeorologi atau bencana yang terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi/alam. Bencana banjir mendominasi rangkaian bencana pada 2020, yakni sebanyak 933 kejadian, disusul puting beliung (794) dan longsor (504 kejadian).

Ribuan bencana itu telah menyebabkan 5,6 juta jiwa terdampak dan harus mengungsi, 335 jiwa meninggal dunia, 35 orang hilang serta 513 orang mengalami luka-luka.

Selain itu, menyebabkan 38.650 rumah rusak dengan skala ringan hingga berat dan sedikitnya 1.529 fasilitas umum juga terkena dampaknya. Kemudian bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat sebanyak 325 kejadian serta lima kali erupsi gunung api.
Sejumlah stupa Candi Borobudur sudah ditutup terpaulin untuk mengantisipasi hujan abu jika Gunung Merapi erupsi. (ANTARA/Heru Suyitno)


Akhir tahun
Kini menjelang akhir tahun, pikiran dan rencana orang untuk melewati masa pergantian tahun pun beragam. Ada yang senang karena berarti akan memanfaatkan momentum itu untuk berekreasi.

Tentu saja ada warga yang khawatir karena tak sedikit bencana alam terjadi di akhir dan awal tahun. Tak sedikit orang yang teringat tsunami di Aceh tahun 2004, lalu pesawat jatuh ke laut Karimata, Gunung Anak Krakatau meletus dua tahun lalu serta kapal tenggelam di Danau Toba terjadi pada momentum pergantian tahun.

Baca juga: Pemerintah tetapkan libur akhir tahun dikurangi tiga hari

Sebagian orang tua zaman dulu secara sederhana memahami bulan Desember sebagai "gede-gedenya sumber" (puncak mata air). Artinya tingginya curah hujan yang identik dengan banyaknya sumber air.

Juga memahami Januari sebagai bulan yang identik dengan "hujan sehari-hari" untuk menunjukkan cuaca harian yang sering diwarnai hujan. Data dan fakta menunjukkan bahwa bencana alam terkait hidrometeorologi (iklim, cuaca) dan vulkanologi banyak terjadi di momen pergantian tahun.

"Uthak-athik gathuk" (hitungan tanpa dasar ilmiah tapi kadang tepat atau dianggap tepat) itu ternyata sejalan dengan prakiraan cuaca dan iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang sudah dipublikasikan.

Bahkan sudah cukup lama BMKG mengingatkan potensi bencana pada momentum pergantian tahun ini, yakni Desember 2020-Januari 2021.

Yakni bencana alam hidrometeorologi. Bencana ini terkait dengan curah hujan yang tinggi, seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung.

Hujan--kapanpun waktunya--juga tak jarang menyebabkan kilat dan petir. Curah hujan kali ini diprakirakan lebih tinggi dibanding musim hujan sebelumnya sehubungan adanya fenomena "la nina".

Gunung meletus
Musim hujan tanpa fenomena khusus saja sering mengakibatkan banjir, apalagi ada "la nina", potensinya mengakibatkan banjir tentu lebih besar. Karena itu, peringatan dini dari BMKG selayaknya disambut baik dengan sikap kehati-hatian dalam melewati masa pergantian tahun.

Apalagi bukan hanya potensi bencana alam yang terkait dengan hidrometeorologi saja yang perlu diwaspadai. Namun juga bencana alam lainnya, terutama yang terkait dengan vulkanologi.

Baca juga: BNPB: Gunung Api IIi Lewotolok kembali erupsi

Dalam beberapa pekan terakhir, publik dikejutkan dan khawatir dengan aktivitas Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ratusan orang telah diungsikan ke lokasi-lokasi pengungsian.

Pada 28 November lalu, Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata (Nusa Tenggara Timur/NTT) mulai meletus. Gunung ini semula tak banyak dikenal publik dan namanya mencuat ketika menunjukkan aktivitas lalu meletus.

Artinya, Ili Lewotolok selama ini "diam" atau "tidur" lalu akhir-akhir ini menunjukkan aktivitas vulkanik lalu meletus. Karena itu, letusannya menggegerkan warga yang tidak menyangka gunung akan meletus.

Hal itu berbeda dengan Gunung Semeru yang meletus pada Jumat (27/11) malam. Gunung di wilayah Lumajang (Jawa Timur) ini memang kadang-kadang menunjukkan aktivitas vulkaniknya.

"Guguran lava pijar dari puncak Gunung Semeru terjadi pada Jumat (27/11) malam," kata Kabid Pencegahan Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang Wawan Hadi Siswoyo di Lumajang, Sabtu (28/11).

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) baru dua bulan lalu membuka kembali pendakian Semeru, tepatnya 1 Oktober 2020. Sebelumnya, pendakian ditutup kurang lebih selama satu tahun dan kini harus ditutup lagi.
 
Wisatawan di lereng Gunung Merapi Kabupaten Sleman saat menikmati "Volcano Tour" dengan jasa jip wisata lereng Merapi. Foto Antara/HO-Humas Pemkab Sleman

Waspada
Meletusnya tiga gunung (Merapi, Ili Lewotok dan Semeru) dalam kurun waktu bersamaan mengingatkan semua pihak bahwa bencana alam bisa datang sewaktu-waktu. Juga memberi sinyal bahwa tidak ada tempat di Indonesia yang benar-benar bebas dari potensi bencana alam.

Cuaca dan iklim pada akhir dan awal tahun sering berpotensi menimbulkan bencana alam. Catatan media mengenai hal itu sudah bertebaran lini massa.

Catatan BNPB dan BMKG juga menambah deret hitung jumlah bencana alam yang sering terjadi di momentum pergantian tahun.

Baca juga: Cuaca ekstrem membayangi wilayah Indonesia selama libur akhir tahun

Khusus akhir tahun ini dan awal tahun depan perlu menjadi perhatian berbagai pihak mengenai potensi bencana hidrometeorologi yang menimbulkan potensi cuaca ekstrem pengaruh fenomena "la nina".

Karena itu, warga atau siapapun yang ingin menyambut pergantian tahun patut kiranya betul-betul mencermati situasi dan kondisi. Apalagi pergantian tahun ini berlangsung di tengah wabah virus corona.

Tak berlebihan juga kalau disampaikan perlunya memperhatikan beberapa hal. Pertama, ikuti arahan pemerintah terkait libur akhir tahun dan cuti bersama Idul Fitri 1441 Hijriyah apakah dipangkas waktunya atau tidak.

Kedua, jika tetap ingin melakukan perjalanan untuk menyambut tahun baru maka perhatikan informasi cuaca dari otoritas terkait (BMKG), termasuk cuaca di sepanjang perjalanan yang akan dilalui maupun di daerah tujuan.

Untuk menambah informasi mengenai situasi dan kondisi perjalanan atau cuaca juga bisa menghubungi keluarga, kerabat, teman dan kenalan yang ada di media sosial maupun grup-grup dalam aplikasi perpesanan.

Namun untuk ikut menyebarkan informasi terkait cuaca dan bencana dari sumber-sumber tersebut harus hati-hati karena sering ada berita bohong mengenai musibah atau bencana. Baru-baru ini tersebar rekaman video soal longsor dan tsunami dahsyat, ternyata kejadiannya di luar negeri dan sudah lama pula.

Ketiga, pergantian tahun ini berlangsung di tengah wabah COVID-19. Untuk mencegah penyebarannya, semua orang harus menerapkan protokol kesehatan bila bepergian, yakni 3M (menjaga jarak, mencuci tangan dan menggunakan masker)

Semua berharap momentum pergantian tahun dalam waktu kurang dari satu bulan lagi, virus dari Wuhan (China) ini sudah bisa dikendalikan yang ditandai dari turunnya grafik pertambahan kasus baru yang diumumkan setiap sore.

Kalau belum bisa dikendalikan juga berarti ujian kesabaran masih harus dilalui dalam bahtera bencana non alam tersebut dengan kewaspadaan terhadap munculnya bencana alam.

Oleh Sri Muryono
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BMKG: waspadai potensi cuaca ekstrem akhir tahun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar