Laporan Lancet Countdown: Perubahan iklim ancaman bagi kesehatan

Laporan Lancet Countdown: Perubahan iklim ancaman bagi kesehatan

Pengunjuk rasa membawa seruan saat aksi Fridays for Future menuntut kepedulian terhadap perubahan iklim di Berlin, Jerman, Jumat (25/9/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Hannibal Hanschke/foc.

Tahun ini terjadi kebakaran hutan hebat di California, Amerika Serikat, dan badai tropis yang menghancurkan di Karibia dan Pasifik, yang berlangsung bersamaan saat pandemi.
Jakarta (ANTARA) - Laporan Lancet Countdown 2020 bertajuk Kesehatan dan Perubahan Iklim yang baru dirilis memastikan perlunya tindakan tegas dan cepat oleh seluruh negara karena diyakini perubahan iklim menjadi ancaman berlipat ganda bagi kesehatan dunia.

“Pandemi COVID-19 telah menunjukkan kepada kita bahwa ketika kesehatan terancam dalam skala global, ekonomi dan cara hidup kita dapat terhenti,” kata Direktur Eksekutif Lancet Countdown Dr Ian Hamilton dalam keterangannya diterima di Jakarta, Kamis.

Ancaman terhadap kesehatan manusia berlipat ganda dan meningkat karena perubahan iklim, sistem perawatan kesehatan manusia berisiko hancur di masa depan kecuali penduduk Bumi mengubah arah pembangunan.

“Tahun ini terjadi kebakaran hutan hebat di California, Amerika Serikat, dan badai tropis yang menghancurkan di Karibia dan Pasifik, yang berlangsung bersamaan saat pandemi. Ini menjadi peringatan tragis dan menggambarkan bahwa dunia tidak memiliki kekuatan dalam menangani pandemi, dan juga menggambarkan secara tragis bahwa dunia tidak bisa memilih untuk menangani satu krisis saja pada satu waktu bersamaan,” ujar Hamilton.

Baca juga: PBB nyatakan 2020 mungkin jadi tahun terpanas kedua

Baca juga: Biden, Sekjen PBB bahas 'penguatan kemitraan' tangani COVID-19


Sistem perawatan kesehatan pun berisiko hancur di masa depan kecuali para pemimpin negara mengubah arah pembangunan. Negara kaya ataupun miskin dipastikan tidak ada yang memiliki kekebalan atas krisis kesehatan dari buruknya perubahan iklim.

Laporan Lancet Countdown juga menunjukkan bukti baru bahwa dalam dua dekade terakhir terjadi peningkatan 54 persen kematian usia tua akibat naiknya suhu panas Bumi, paparan gelombang panas akan sangat berdampak pada orang di atas usia 65 tahun.

Namun, ia mengatakan sebanyak 120 orang akademisi dan peneliti yang fokus pada kesehatan dan perubahan iklim terkemuka dunia --yang berada di balik laporan terbaru ini-- mengatakan bahwa jika para pemimpin negara bisa mengambil tindakan nyata dan cepat untuk mengatasi dampak perubahan iklim, yakni dengan melaksanakan rencana komitmen untuk membatasi kenaikan suhu global hingga jauh di bawah dua derajat Celcius, maka dunia dapat memitigasi guncangan masalah tersebut sekaligus menyelamatkan kesehatan masyarakat dan ekonomi sebagai gantinya.

Pada saat yang sama, tindakan itu juga dapat mengurangi risiko pandemi baru di masa mendatang. Perubahan iklim adalah pemicu yang dapat mendorong risiko pandemi zoonosis (endemik yang disebabkan oleh penyakit menular yang berpindah dari hewan ke manusia, bukan manusia ke manusia), kata Hamilton.

Kolaborasi para ahli-ahli di lebih dari 35 institusi termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) ini dipimpin oleh University College London dan diterbitkan pada peringatan lima tahun Perjanjian Paris, ketika dunia bersepakat untuk membatasi naiknya suhu global untuk tetap berada di bawah dua derajat Celcius.

Direktur Regional Asia untuk Laporan Lancet Countdown terbaru Dr Wenjia Cai, yang berbasis di Universitas Tsinghua, Beijing, mengatakan pada peringatan lima tahun Perjanjian Paris, semua harus menghadapi kemungkinan terburuk untuk kesehatan masyarakat yang telah di terjadi pada generasi masa kini.

“Kegagalan dalam memenuhi komitmen iklim ini dapat membuat beberapa tujuan kunci pembangunan berkelanjutan seperti di luar jangkauan dan kemampuan untuk membatasi pemanasan bumi,” kata dia.*

Baca juga: Emil Salim ingatkan Indonesia berkepentingan cegah perubahan iklim

Baca juga: Inggris akan dorong G20 berperan aktif hadapi dampak perubahan iklim


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komitmen Indonesia di Perjanjian Paris, turunkan emisi karbon 29%

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar