Puluhan suku di lereng Gunung Ili Lewotolok gelar ritual

Puluhan suku di lereng Gunung Ili Lewotolok gelar ritual

Sejumlah tetua adat dan kepala suku mengelar ritual adat "Liku Lapa Lewu Tanah" di desa Jontona yang berada dibawah kaki gunung Ili Lewotolok, di Kecamatan Ile Ape Timur,Kabupaten Lembata, NTT Jumat (4/12/2020). Ritual adat yang bertujuan untuk menenangkan erupsi gunung Ili Lewotolok itu menghadirkan kurang lebih 27 kepala suku yang tinggal dibawah lereng gunung api tersebut. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.

Lewoleba (ANTARA) - Sebanyak 27 suku yang berada di lereng Gunung Ili Lewotolok, Kabupaten Lembata, NTT menggelar ritual adat dengan menghadirkan puluhan kepala suku.

Tokoh adat dari Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur Kabupaten Lembata Yakobus Asan kepada wartawan saat ditemui usai melakukan ritual tersebut di Desa Jontona, Sabtu, mengatakan bahwa ritual ini digelar untuk menenangkan gunung tersebut agar tidak erupsi lagi.

"Bahasa adat dari ritual ini adalah 'Liku Lapa Lewutanah' yang mana tujuannya untuk menenangkan gunung ini agar tidak kembali erupsi," katanya.

Baca juga: Erupsi gunung Ili Lewotolok tak ada kaitan dengan gunung api lain

Menurut kepercayaan masyarakat adat di sejumlah desa yang berada di bawah kaki gunung itu, gunung api yang terus menerus erupsi itu dikarenakan adanya perselisihan antarwarga di kaki gunung itu.

Kemudian lanjut dia, erupsi Gunung Ili Lewotolok tersebut juga dikarenakan alam marah akibat banyaknya perbuatan manusia yang lebih pada merusak alam dibandingkan menjaganya.

Oleh karena itu ritual yang dibuat itu ujar dia untuk menenangkan atau mendinginkan suasana jika ada pertikaian antarwarga dan juga untuk berdamai dengan alam dalam hal ini Gunung Ili Lewotolok yang sampai saat ini masih terus mengeluarkan material vulkanik.

Pantauan ANTARA sebelum dilakukan ritual adat itu, sejumlah kepala suku atau perwakilan dari 27 suku di bawah kaki gunung itu melakukan pembicaraan adat.

Baca juga: Kodam IX/Udaya kirimkan tim bantu korban terdampak erupsi Lewotolok

Usai dilakukan pembicaraan adat, sejumlah tokoh adat bersama kepala-kepala suku melakukan ritual di bawah pohon beringin. Di tangan Yakobus terdapat sebuah tempurung kelapa yang diisi dengan tuak putih yang bertujuan untuk memberi minum nenek moyang.

Yakobus sempat mengucapkan beberapa bahasa adat sebelum menuangkan tempurung kelapa berisi tuak tersebut. Setelah itu seorang tokoh adat mulai berdoa dengan memohon bantuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai Sang Pencipta.

Erupsi gunung api Ile Lewotolok hingga saat ini masih terus terjadi dan masih juga terus mengeluarkan asap tebal dan disertai dengan material vulkanik seperti debu.

Pada Jumat (4/12) kemarin kurang lebih 15 kali erupsi dengan ketinggian awan berkisar dari 500 meter hingga 1000 meter di atas puncak kawah.

Sementara pada Sabtu (5/12) erupsi juga masih terus terjadi disertai dengan bunyi dentuman dan gemuruh. Warga juga diimbau oleh petugas pos pengamatan Gunung Ili Lewotolok untuk menjauhi lokasi zona merah yakni yang berada pada jarak 4 kilometer.***3***

Baca juga: Waspadai lahar dingin dari Gunung Ili Lewotolok saat hujan lebat
Baca juga: Danrem: Logistik bantuan BNPB diangkut dengan Helikopter ke Lembata
Baca juga: DPD: Pastikan kenyamanan pengungsi Gunung Ili Lewotolok

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Update banjir bandang NTT : korban hilang menjadi 48 orang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar