Kasus COVID-19 capai rekor tertinggi, Turki masuki "lockdown" total

Kasus COVID-19 capai rekor tertinggi, Turki masuki "lockdown" total

Kacamata perawat Dilara Fahrioglu tertutup dengan uap setelah merawat seorang pasien terinfeksi virus corona (COVID-19) saat penyebaran penyakit COVID-19, di sebuah unit perawatan intensif di Rumah Sakit Internasional Medicana di Istanbul, Turki, 14 April 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Umit Bektas/File Photo/aww/cfo (REUTERS/UMIT BEKTAS)

Ankara (ANTARA) - Turki telah memasuki penguncian akhir pekan total pertama sejak Mei ketika kematian akibat virus corona lebih dari dua kali lipat dalam waktu kurang dari tiga minggu yang mencapai rekor tertinggi.

Jumlah kematian harian  naik ke rekor tertinggi 196 pada hari Sabtu, menjadikan total sejak awal pandemi menjadi 14.705. Kematian resmi harian mencapai rata-rata 70 kasus pada akhir Oktober.

Politisi oposisi telah menyatakan keraguannya tentang apakah jumlah kematian resmi mencerminkan gambaran sebenarnya di negara berpenduduk 83 juta orang itu. Mereka mempertanyakan bagaimana angka-angka di Istanbul bisa hampir setinggi yang dilaporkan untuk seluruh negara.

Pada hari Sabtu, Turki mencatat 31.896 kasus baru, termasuk yang warga positif COVID-19 tanpa gejala (asimtomatik), turun dari 32.736 kasus pada hari Jumat, jumlah harian tertinggi yang dilaporkan oleh Ankara sejak awal pandemi pada Maret.

Baca juga: 40.000 tenaga medis di Turki terpapar virus corona
Baca juga: Menteri kesehatan: Turki berada di puncak kedua wabah COVID-19


Selama empat bulan, Turki hanya melaporkan kasus gejala harian, tetapi telah melaporkan semua kasus sejak 25 November. Data historis untuk semua kasus positif dan total kumulatif masih belum tersedia.

Televisi Turki menunjukkan sebagian besar alun-alun dan jalan-jalan kosong pada hari Sabtu di kota terbesar Istanbul, ibu kota Ankara dan kota terbesar ketiga Izmir, dengan hanya sedikit orang dan kendaraan yang keluar-masuk.

Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu seperti dikutip oleh kantor berita milik negara Anadolu bahwa kebanyakan orang mematuhi aturan lockdown.

Turki sekarang menempati peringkat keempat secara global untuk jumlah kasus baru setiap hari, di belakang Amerika Serikat, India, dan Brazil - semua negara dengan populasi yang jauh lebih besar daripada Turki.

Turki terakhir kali memberlakukan penguncian akhir pekan penuh di kota-kota besar pada Mei. Turki mengumumkan jam malam akhir pekan nasional bulan lalu, tetapi langkah-langkah itu gagal menghentikan peningkatan kasus baru dan kematian.

Presiden Tayyip Erdogan mengumumkan lockdown akhir pekan penuh pada hari Senin, serta jam malam pada hari kerja. Dia mengatakan langkah-langkah melawan virus korona telah diambil dengan hati-hati untuk meminimalkan dampak terhadap ekonomi.

Karantina wilayah dan jam malam mengecualikan beberapa sektor, termasuk rantai pasokan dan produksi.

Ekonomi Turki mengalami kontraksi 9,9 persen tahun-ke-tahun pada kuartal kedua karena pembatasan virus corona. Ekonomi Turki kembali pulih pada kuartal ketiga, tumbuh 6,7 persen setelah pembatasan dicabut.

Para ekonom memperkirakan langkah-langkah baru memiliki dampak yang lebih kecil pada pertumbuhan di kuartal terakhir daripada yang mereka lakukan di kuartal kedua.

Turki telah menandatangani kontrak untuk membeli 50 juta dosis vaksin COVID-19 dari China Sinovac Biotech Ltd. Diharapkan untuk memulai vaksinasi bulan ini, dengan memprioritaskan petugas kesehatan.

Sumber : Reuters

Baca juga: Turki beli 50 juta dosis vaksin Sinovac
Baca juga: Pasien 71 tahun asal Turki sembuh dari lumpuh otak dan COVID-19

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

PN Surabaya ditutup untuk ketiga kalinya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar