Inayah Wahid: Keberagaman adalah kekuatan demokrasi

Inayah Wahid: Keberagaman adalah kekuatan demokrasi

Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wahid (HO-Tangkapan layar Zoom)

Jakarta (ANTARA) - Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wahid, mengingatkan bahwa keberagaman harus dijaga karena menjadi kekuatan demokrasi, sebagaimana keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.

"Bagaimana kita menjaga demokrasi? Ya membiarkannya beragam, karena keberagaman adalah kekuatan demokrasi," kata Inayah, dalam webinar "Ulama-Ulama Nasionalis Pendiri Bangsa", Minggu.

Menurut dia, bangsa Indonesia hidup menikmati iklim demokrasi seperti sekarang ini bukanlah terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang dan perjuangan para pendahulu, termasuk ulama-ulama dan pahlawan yang berjuang mempertahankan NKRI.

Sebagai generasi milenial, pemilik nama lengkap Inayah Wulandari Wahid itu mengajak kepada generasi muda untuk belajar dari para pahlawan pendahulu, seperti dirinya belajar dari sang kakek buyut meski tidak langsung karena tidak pernah bertemu.

Baca juga: Bicara kerukunan beragama, staf Kemenag Aceh diundang ke Papua Barat

"Saya tahu tentang kakek buyut saya, ya sama dengan yang lain. Dari akses yang bisa diakses orang lain juga," ujarnya.

Inayah mengaku ada salah satu pesan mendiang kakek buyutnya KH Hasyim Asy'ari tentang demokrasi, yakni demokrasi bukan hanya tidak bertentangan dengan Islam, tetapi nilai-nilainya saling berjalan.

"Jadi, bukan hanya tidak bertentangan atau bersilangan, tetapi bersalingan," kata cucu KH Wahid Hasyim tersebut.

Isye Salim, cucu KH Agus Salim juga menegaskan nasionalisme sang kakek dengan berbagai upayanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.

"Opa (KH Agus Salim) itu, selain dikenal sebagai penulis, pengajar, ulama, beliau juga mengarang satu lagu yang menunjukkan kecintaan beliau terhadap persatuan Indonesia dan Islam," katanya.

Baca juga: Prof Wardiman: Penguatan toleransi diperlukan di tengah keberagaman

Isye pun menyempatkan menyanyikan lirik lagu berjudul "Mana Tanah Air Kita" yang dikarang oleh KH Agus Salim.

"Mana Tanah Air Kita? Sumatrakah atau Jawa, Borneo, Celebes, Sumbawa, Ambon, Tanah Papua. Tidak begitu terpisah. Indonesia meliputi semuanya...," demikian sepenggal liriknya.

Melalui lagu tersebut, kata dia, setidaknya sudah cukup menunjukkan bagaimana rasa nasionalisme KH Agus Salim, sejalan dengan prinsip-prinsip keislaman yang dipegangnya secara teguh.

Dalam webinar tersebut, ternyata hadir juga mantan Kepala BIN AM Hendropriyono sebagai peserta yang kemudian diminta menyampaikan sedikit paparan.

Baca juga: Peringatan Sumpah Pemuda, UI gelar seni merawat keberagaman

Hendropriyono mengingatkan bahwa Pancasila yang lahir dari kesepakatan pendahulu bangsa, terutama kalangan ulama atas pemikirannya Bung Karno menjadi warisan yang harus dijaga oleh generasi penerus.

"Pancasila ini kemudian dijabarkan dalam UUD 1945. Warisan kan mestinya harus dipelihara, masa mau dibuang? Yang berubah itu cara atau strategi implementasinya, bagaimana pelihara dan manfaatkan untuk kemaslahatan kita," tegasnya.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pertama kalinya, Pemkot Malang lepaskan aset untuk PCNU

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar