PTBA tak keluarkan investasi dalam proyek gasifikasi batubara

PTBA tak keluarkan investasi dalam proyek gasifikasi batubara

Dokumentasi - Alat berat dioperasikan di pertambangan Bukit Asam yang merupakan salah satu area tambang terbuka (open-pit mining) batu bara terbesar PT Bukit Asam Tbk. di Tanjung Enim, Lawang Kidul, Muara Enim, Sumatra Selatan, Sabtu (5/11/2016). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye/am.

Dalam proyek ini, baik Pertamina atau PTBA tidak mengeluarkan investasi untuk pembangunan processing company
Jakarta (ANTARA) - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bersama PT Pertamina (Persero) memiliki opsi untuk dapat 40 persen saham dalam proyek pembangunan pabrik gasifikasi batubara menjadi dimetil eter (DME) tanpa mengeluarkan biaya investasi sedikitpun.

Direktur Utama PTBA Arvian Arifin dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI Jakarta, Senin, mengatakan PTBA, Pertamina dan Air Products and Chemicals, Inc dari AS, akan bekerjasama dalam proyek pabrik gasifikasi batubara senilai 2,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp30 triliun.

"Dalam proyek ini, baik Pertamina atau PTBA tidak mengeluarkan investasi untuk pembangunan processing company. Ini semua dilakukan investor," katanya.

Arvian menjelaskan dalam proyek gasifikasi batubara menjadi DME itu, PTBA akan berperan sebagai pemasok batubara, penyedia infrastuktur dan lahan di kawasan Tanjung Enim, Sumatera Utara. Pertamina menjadi offtaker atau pembeli DME yang dihasilkan, sementara Air Products merupakan investor dan penyedia teknologi dalam pembangunan pabrik.

"Air Products akan membangun pabrik gasifikasi ini dari A-Z. Kita tidak keluar biaya investasi. Tapi Pertamina dan PTBA punya opsi untuk memiliki 40 persen saham setelah project COD (Commercial Operation Date) dan menghasilkan DME terbukti setelah satu tahun COD. Opsi 40 persen porsi saham ini dibeli sesuai dengan ketetapan investasi awal," katanya.

DME sendiri, lanjutnya, dinilai punya nilai tambah tinggi sebagai produk hilirisasi batubara karena bisa digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga pengganti LPG. Indonesia sendiri saat ini masih mengimpor 7 juta ton LPG per tahun yang mengambil porsi devisa cukup besar.

Ada pun kapasitas pabrik diproyeksikan bisa menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun atau setara dengan pengurangan 1 juta ton impor LPG per tahun.

"Soal timeline-nya, kita sudah susun, kalau ini berjalan lancar, akhir tahun ini kita akan tanda tangani perjanjian kerja sama antara PTBA, Pertamina dan Air Products. Diharapkan segala proses, EPC, konstruksi dan lainnya pabrik akan beroperasi pada triwulan II 2024," katanya.

Arvian menambahkan, proyek pembangunan pabrik gasifikasi akan memberi banyak manfaat mulai dari masuknya investasi asing, pemanfaatan batubara kalori rendah yang digunakan sebagai bahan baku proses gasifikasi, pengurangan impor LPG, penghematan devisa hingga dampak ganda ekonomi di daerah tempat pabrik akan dibangun.

"Terutama lagi adalah meningkatkan ketahanan energi nasional. Kita tidak tergantung pada impor LPG. kalau terjadi sesuatu di pasar LPG internasional, kita relatif aman. Jadi kemandirian energi akan terwujud dengan adanya industri ini," katanya.

Baca juga: Ada banyak manfaat, PTBA serius kembangkan gasifikasi batubara
Baca juga: Meski pandemi, PTBA bukukan laba Rp1,7 triliun kuartal III 2020

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menteri BUMN terima bantuan alkes dari China

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar