Sekjen MPR: Indonesia butuh generasi muda punya jiwa nasionalisme

Sekjen MPR: Indonesia butuh generasi muda punya jiwa nasionalisme

Sekretaris Jenderal MPR RI Ma’ruf Cahyono menyampaikan pidato di hadapan peserta Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I, dan Seminar Kebangsaan Mahasiswa Pancasila (Mapancas), di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (1/4). (Biro Humas dan Pemberitaan MPR RI)

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal MPR Ma'ruf Cahyono menilai generasi muda penting memiliki jiwa nasionalisme yang kokoh karena bangsa Indonesia butuh pemuda dengan rasa kecintaan tinggi kepada negaranya untuk mengisi kemerdekaan.

"Sebab menjaga, merawat dan menyuburkan nasionalisme oleh setiap warga negara itu menjadi sesuatu yang memang harus dan pasti," kata Ma'ruf dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Hal tersebut disampaikannya saat hadir secara virtual dalam acara Webinar Wawasan Kebangsaan yang digelar Keluarga Mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed (KEMA FH Unsoed) 2020, dari Ruang Delegasi, Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (8/12).

Dia memberikan apresiasi yang tinggi kepada generasi muda para mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (FH Unsoed) yang memiliki inisiatif luar biasa karena masih memiliki kesadaran untuk memikirkan dan membahas bersama seputar kebangsaan dan nasionalisme.

Baca juga: Anggun: Sumpah Pemuda jadi momen gairahkan nasionalisme
Baca juga: Gus Jazil: Hari Santri semangat agama bertemu nasionalisme
Baca juga: Perlu menjunjung nasionalisme guna menekan angka golput


Ma'ruf menjelaskan terkait definisi bangsa dan nasionalisme serta hubungannya dengan negara, bangsa ada terlebih dahulu sebelum negara.

'Karena adanya kesamaan kehendak dan tujuan, maka negara hadir. Dalam peristiwa sejarah sumpah pemuda tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah melakukan ikrar fenomenal bersama antara lain satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air," ujarnya.

Hal itu menurut dia artinya jauh sebelum Indonesia merdeka, bangsa sudah ada dan nasionalisme telah tumbuh subur, dan Sumpah Pemuda kemudian menjadi perwujudan dari persatuan serta kesatuan, yang merupakan ikatan emosional bangsa untuk dijadikan modal dalam membentuk satu negara.

Dia menilai, bersatunya para pemuda yang beragam tersebut menjadi refleksi dari nasionalisme, sehingga nasionalisme itu bukan sesuatu yang muncul dari satu kelompok, satu golongan, satu agama atau satu etnis.

"Nasionalisme muncul karena ada satu kesamaan visi dan misi serta fokus kesatu tujuan Indonesia merdeka," katanya.

Ma'ruf menggambarkan nasionalisme dalam definisi umum, yaitu satu paham kebangsaan yang ada dalam masyarakat suatu bangsa karena soal sejarah.

Menurut dia karena memiliki sejarah yang sama, penderitaan akibat penjajahan yang sama, mengakibatkan adanya keinginan kolektif untuk berada dalam satu ikatan yaitu ikatan kebangsaan.

"Dari sana kemudian muncul persatuan dan kesatuan yang sangat kuat sehingga walaupun ada perbedaan tajam di antara anak bangsa, itu tidak akan menggoyahkan persatuan. Karena ada sesuatu yang lebih kuat, lebih memotivasi bahwa semua harus satu dalam ikatan kebangsaan itu sehingga tidak ada lagi yang mempermasalahkan soal perbedaan suku, agama, ras, golongan dan bahasa," ujarnya.

Kekuatan ikatan kebangsaan tersebut, menurut Ma'ruf sangat luar biasa dampaknya jika dimanifestasikan rakyat Indonesia terutama para generasi muda saat ini.

Dia juga berpesan, sebagai intelektual muda, para mahasiswa harus terus meningkatkan kapasitas intelektualitasnya dan disinergikan dengan peningkatan kapasitas spiritual dan emosional.

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Sore

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar