Dokter paru: Pemakaian masker efektif cegah penularan COVID-19

Dokter paru: Pemakaian masker efektif cegah penularan COVID-19

Dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) cabang Jawa Tengah dr. Indah Rahmawati, Sp.P. ANTARA/HO-Aspri/am.

Purwokerto (ANTARA) - Dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) cabang Jawa Tengah dr. Indah Rahmawati, Sp.P mengingatkan masyarakat bahwa pemakaian masker efektif mencegah penularan COVID-19.

"Memakai masker sangat efektif mencegah penularan COVID-19 selama dipakai dengan baik dan benar," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis.

Dokter yang praktik di RS Ananda Purwokerto itu menambahkan masyarakat harus disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

"Masyarakat harus selalu patuh mengikuti protokol kesehatan di dalam atau di luar rumah dengan menerapkan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan juga menjaga jarak," katanya.

Baca juga: Satgas COVID-19: 96 persen pemilih gunakan masker saat pilkada

Baca juga: Anies ingatkan kena COVID-19 lebih tidak nyaman dari memakai masker


Selain itu, kata dia, masyarakat juga perlu membatasi kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan agar mencegah terjadinya penularan COVID-19.

"Yang juga tidak kalah penting, masyarakat harus cukup istirahat, minimal tidur selama 6 - 7 jam per hari untuk membantu menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh," katanya.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu juga menambahkan masyarakat harus cepat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami keluhan atau gejala penyakit yang mengarah pada gejala COVID-19.

"Jangan menunda berobat ke fasilitas kesehatan bila mengalami keluhan tertentu, gejala COVID-19 itu sangat beragam tidak hanya berupa batuk, pilek atau demam saja, namun juga bisa berupa diare, hilang penciuman, lemas, pusing, vertigo, mual, muntah dan lain lain," katanya.

Dia mengatakan bahwa beberapa kasus kematian selain disebabkan karena faktor komorbid juga bisa disebabkan karena keterlambatan pasien datang ke fasilitas kesehatan.

"Hal itu bisa terjadi karena kurangnya informasi atau malah karena ketakutan pasien itu sendiri, misalkan takut diketahui sakitnya ternyata COVID-19 atau takut dikucilkan karena stigma di tengah masyarakat," katanya.

Untuk itu dia mengingatkan agar masyarakat tidak menunda-nunda memeriksakan diri jika memiliki gejala yang mengarah kepada gejala COVID-19, agar dapat segera tertangani dengan baik.

Masyarakat, kata dia, juga harus terus waspada dan berhati-hati serta jangan mengabaikan protokol kesehatan demi keselamatan diri dan orang-orang di sekitarnya.

Selain itu sosialisasi mengenai COVID-19 dan pentingnya penerapan protokol kesehatan, kata dia, juga harus terus diintensifkan guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai hal itu.

"Sosialisasi harus dilakukan secara terus menerus dan juga secara berkelanjutan guna meningkatkan pemahaman dan disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan dan menjaga pola hidup bersih dan sehat," katanya.*

Baca juga: Riau dapat bantuan 800.000 masker dari Singapura

Baca juga: DLH: Pemakaian masker dan sarung tangan selama pandemi meningkat

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

1.525 orang sembuh dari COVID-19 pada 16 Oktober

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar