Jelang lima tahun Paris Agreement anak muda tuntut NDC ambisius

Jelang lima tahun Paris Agreement anak muda  tuntut NDC ambisius

Salah seorang aktivis iklim muda melakukan aksi menuntut penetapan target penurunan emisi lebih ambisius menjelang KTT Climate Ambition Summit 2020 di depan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral di Jakarta, Jumat (11/12/2020). (ANTARA/HO-Walhi)

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah anak muda yang tergabung dalam Extinction Rebellion (XR) Indonesia, Jaga Rimba dan Walhi Jakarta melakukan aksi menuntut sikap serius dan nyata untuk menaikkan komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) yang lebih ambisius menghadapi krisis iklim.

"Janji Indonesia dalam pemenuhan Paris Agreement yang dikomunikasikan dalam NDC dengan target 29 persen atau 41 persen bila bekerja sama dengan internasional, hanyalah janji semata. Karena target NDC Indonesia saat ini nyatanya berada dalam trayektori kenaikkan temperatur 3 sampai 4 derajat Celsius,” kata aktivis iklim muda dari Extinction Rebellion Indonesia Novita, saat melakukan aksi #fightfor1point5 secara daring di Jakarta, Jumat (11/12).

Dan kebijakan-kebijakan saat ini, menurut dia, sangat jauh dari janji yang diucapkan. “Kami tantang para pemimpin berucap dan bertindak dengan jujur pada dunia untuk masa depan kami”.

Jika merujuk pada analisa dari Climate Action Tracker pada September 2020 menilai kebijakan indonesia sangat tidak memadai. Program Pemulihan Ekonomi Nasional pemerintah belum mendukung opsi rendah karbon dan masih menjamin utilitas listrik berbobot batu bara, ujar dia.

Target penurunan emisi yang dijanjikan pemerintah tidak sesuai dengan kebijakan yang didorong saat ini, salah satunya pembangunan proyek PLTU Jawa 9 dan 10 yang bersumber dari batu bara, kata aktivis iklim dari WALHI Jakarta Rehwinda.

Jika memang pemerintah serius menurunkan emisi sesuai dengan target NDC, maka proyek-proyek PLTU baru yang menggunakan batu bara harus dihentikan. Strategi serius transisi energi harus dijalankan.

Pemenuhan listrik di Jawa yang sudah surplus tidak ada keterdesakannya untuk pembangunan pembangkit baru. Pembukaan hutan untuk tambang batu bara dan hilangnya fungsi untuk penyerapan emisi justru diberi karpet merah, ujar dia.

Sementara itu, aktivis iklim lainnya dari Jaga Rimba Salsabila mengatakan masa depan mereka sangat bergantung pada keputusan para pemimpin saat ini. Jutaan hektare hutan Indonesia dibabat atas nama investasi para kaum oligarki dan hilangnya kekayaan yang sebenarnya keanekaragaman hayati.

"Kami yakin kami masih punya harapan jika pemerintah, industri dan para pemangku kebijakan lainnya bersatu untuk menempatkan krisis iklim sebagai krisis dan bertindak bahwa keselamatan rakyat adalah prioritas. Kami mengharapkan pembaharuan NDC Indonesia kembali ke arah yang benar dan dapat menekan peningkatan suhu bumi ke 1,5 derajat Celsius,” kata Salsabila.

Aksi tersebut dilaksanakan menjelang KTT Climate Ambition Summit 2020 yang akan dilakukan secara daring oleh PBB pada 12 Desember 2020. Dalam KTT tersebut diharapkan semua negara membuat pengumuman terkait NDC yang ditingkatkan bersama dengan peserta non-pemerintah, juga janji dan rencana lain yang berkaitan dengan mitigasi dalam jangka menengah dan pendek, serta adaptasi dan keuangan.

Baca juga: Laporan Lancet Countdown: Perubahan iklim ancaman bagi kesehatan
Baca juga: Anak muda sepakat hutan Papua benteng terakhir hadapi krisis iklim
Baca juga: AS resmi keluar dari pakta iklim di tengah ketidakpastian hasil pemilu

 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komitmen Indonesia di Perjanjian Paris, turunkan emisi karbon 29%

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar